MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

“Nyampirne Anduk”

Posted by marsaja pada April 8, 2012

Sudah cukup lama penulis tidak sempat mengeluarkan uneg-uneg melalui blog ini, ada semacam rasa kerinduan untuk menyampaikan gagasan yang mana hal ini bisa dijadikan hikmah hidup. Bagi kami semua bisa dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kita atau yang biasa kita lakukan sehari-hari. Kali ini kami berusaha untuk mengambil hikmah hidup dari suatu kebiasaan yang setiap hari dilakukan seseorang secara umum, yaitu “Nyampirne Anduk” atau menaruh handuk setelah digunakan mengeringkan badan sesudah mandi.

Jika kita selesai melakukan aktivitas sehari-hari seperti bekerja, belajar, atau berolah raga, tentunya badan yang sehat akan mengeluarkan keringat. Biasanya untuk menghilangkan keringat orang secara umum akan menyeka dengan handuk kecil atau supaya badan segar keringat bisa dihilangkan dengan mandi, kemudian air yang masih menempel di badan dikeringkan dengan handuk, selanjutnya handuk tentu ditaruh pada tempatnya supaya kering kembali. Sebenarnya apa maknanya ?

Seperti jamaknya orang hidup, jika badan kita terasa kurang nyaman dengan adanya keringat, biasanya orang akan membersihkan tubuhnya dengan mandi selanjutnya badan dikeringkan dengan handuk, kemudian handuk ditaruh ditempatnya, bukan malah tetap dipakai. Maksudnya adalah badan yang kotor karena aktifitas keseharian atau pribadi kita yang penuh dosa karena kekhilafan kita, bisa kita bersihkan dengan mandi supaya badan kembali segar, supaya jiwa kita kembali suci. Selanjutnya untuk mengeringkan tubuh kita membutuhkan handuk, dipakai secukupnya untuk kemudian di “sampirne” tidak dipakai secara terus menerus. Di “sampirne” atau ditaruh maksudnya adalah setiap manusia punya kewajiban berusaha untuk menyelesaikan setiap persoalan hidup, selanjutnya kita pasrahkan kepada Yang Maha Hidup.

Handuknya jangan dipakai terus, tetapi ditaruh biar kering kembali dan tetap bisa digunakan kembali. Artinya, kita sebagai manusia wajib berpikir agar setiap persoalan bisa diselesaikan, namun semua pikiran tadi jangan sampai menjadikan beban pikiran, berarti kita kurang ikhlas pada diri kita sendiri. Kenapa persoalan kadang terasa berat, karena kita sendiri yang menjadikan pikiran tadi sebagai beban pikiran, jika anda bisa melepasnya dengan memasrahkan kepada Yang Maha Hidup, maka disitulah anda sudah mendudukan setiap masalah pada tempatnya. Karena bukti orang hidup adalah adanya masalah yang setiap hari kita jumpai. “Mikir oleh ning ojo dadekne pikiran” Memikirkan boleh namun jangan sampai menjadikan beban pikiran. Bukan solusi yang diperoleh akan tetapi malah timbul persoalan baru lagi.

Jika anda ingin membersihkan tubuh dengan langsung mengeringkan keringat dengan handuk tidak dengan mandi dulu, maka resikonya handuk akan cepat kotor, itu suatu kebiasaan yang kurang pas. Atau walaupun kita selesai mandi handuk tetap dipakai maka itu juga kurang tepat. Yang paling pas adalah dipakai secukupnya kemudia ditaruh/diletakkan pada tempatnya agar kembali kering dan masih tetap bersih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: