MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Pintu Surga

Posted by marsaja pada Agustus 27, 2010

Pintu, sebuah kata singkat yang sudah jamak kita dengar dalam keseharian kita. Ketika kita membangun sebuah rumah tinggal, kantor, atau bangunan lain, maka seorang arsitek tentu akan mendesain dengan baik, salah satunya pintu. Ketika kita berada di rumah, pintu juga memegang peranan penting, baik sebagai jalan masuk maupun keluar dari rumah. Anda mau bertamu ke rumah kerabat, teman, atau orang lain, maka tuan rumah tentu akan mempersilahkan anda masuk melalui pintu. Jika kita ingin bepergian jauh naik bus, kereta api atau pesawat terbang, maka kita tentu akan antre masuk via pintu. Ingin nonton film di bioskop, kita masuk juga lewat pintu. Intinya jika kita mau masuk atau keluar ruangan maka pintu adalah satu-satunya jalan resmi.

Begitu pentingnya fungsi pintu, sehingga banyak orang yang mendesain bentuk pintu seindah mungkin. Bahkan walau dengan biaya yang mahal mereka rela, yang penting pintunya tampak berkualitas unggul dan menarik. Sebenarnya apa sih pintu itu? Kita bisa memaknainya tidak hanya sekadar fungsi di atas, tidak ada salahnya jika kita memaknainya dari sisi yang lain, PINTU (Prinsip, Ilmu, Norma, Taat, dan Untung).

Kita hidup tentu harus mempunyai Prinsip, sebuah pegangan hidup. Orang yang tidak memiliki prinsip akan mudah terombang-ambing dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Apalagi di tengah kondisi masyarakat sekarang yang serba krisis, maka memiliki prinsip yang tegas itu penting, agar kita tidak mudah terbawa arus. Anda pilih mana? Terbawa arus, melawan arus atau mengikuti arus!. Jika anda memilih terbawa arus maka anda bisa dikatakan tidak mempunyai prinsip yang tegas, anda akan mudah terbawa suasana, mudah terbawa tren, mudah terseret arus kehidupan. Akibat prinsip yang demikian adalah kita akan tergerus oleh zaman, kita akan tenggelam hidup ini, kita akan banyak mengalami kerugian. Orang yang terbawa arus adalah orang yang tidak memiliki daya dan kekuatan untuk hidup, tenggelam dalam arus kehidupan , miskin kreatifitas, kurang bisa berinisiatif dan yang paling fatal adalah mati akibatnya. Jika melawan arus yang anda pilih maka anda akan menghadapi kekuatan yang besar dan anda butuh tenaga serta biaya yang besar untuk sekadar bertahan dari arus kehidupan, efeknya anda lama-lama juga akan sulit bertahan dan akan hancur dengan sendirinya. Sedangkan jika anda mengikuti arus, bukan berarti anda kalah, tetapi kita masih ada kesempatan untuk memilih arus yang tidak berbahaya bagi hidup kita . Dan justru inilah pilihan paling logis, kreatif dan cara paling elegan agar anda tetap eksis dan masih mampu menentukan irama kehidupan baik pribadi, di keluarga maupun di masyarakat.

Prinsip saja kurang jika tidak disertai dengan memiliki Ilmu. Begitu pentingnya ilmu, sehingga manusia diwajibkan untuk terus mencari ilmu sepanjag hayatnya, karena pada prinsipnya ilmu adalah sebuah anugerah yang diberikan Sang Maha Pencipta bagi hambanya agar mengetahui semua ciptaan-Nya. Orang yang sedari awalnya tidak tahu, karena mempunyai ilmu akhirnya menjadi tahu. Misalnya ilmu agama, kita menjadi paham bagaimana cara mendirikan sholat dan mengerjakan puasa. Ilmu umum menuntun kita, mampu bekerja sesuai bidang yang kita ampu.

Ketiga, disamping prinsip, ilmu, maka yang tidak kalah penting adalah Norma. Norma atau adabiyah adalah bukti otentik bahwa kita benar-benar memahami ilmu. Sebutan lain norma/adabiyah adalah puncaknya ilmu. Tidak sekadar rajin mencari ilmu akan tetapi juga rajin mengamalkan ilmu, sehingga budi pekerti atau adab yang akhirnya menjadi buahnya ilmu. Seperti teladan kita, Rasulullah yang diutus ke muka bumi dengan tujuan untuk menyempurnakan keluhuran budi. Dan rasululullah sendiri mencontohkan dengan sangat nyata bahwa beliau sosok yang mengedepankan akhlaq mulia.

Dengan norma, pada akhirnya manusia akan senantiasa untuk berbuat Taat pada yang menciptakannya. Dengan ketaatan itulah, membuktikan bahwa kita adalah seorang hamba yang bersyukur atas semua nikmat yang kita terima di dunia ini. Taat adalah perbuatan mulia dan bukti manifestasi keilmuan kita kepada Sang Khalik. Dan taat inilah sebagai puncaknya manusia yang beriman. Derajat manusia yang mulia itu bukan karena kepandaian kita, atau gelar yang melekat pada nama kita, atau bukan karena kekayaan, kecantikan atau ketampanan. Namun sangat jelas disebutkan bahwa derajat manusia yang paling mulia disisi-Nya hanyalah karena Taat (Taqwa) nya.

Jukalau kita sudah termasuk orang yang taat kepada apapun, khususnya kepada Sang Khalik, maka itulah manusia yang ber-Untung. Ya, untung adalah sesuatu yang pasti didambakan oleh manusia. Apalagi orang yang berdagang tentu tujuan utama adalah mendapatkan untung. Bisa dikatakan manusia beruntung adalah yang benar-benar yangn selalu mendapatkan limpahan rahmat dan karunia-Nya. Manusia yang beruntung senantiasa tidak lupa selalu ingat dan waspada serta memasrahkan diri hanya kepada-Nya. Manusia yang beruntung adalah manusia yang tidak merugi di dunia juga di akherat.

Jadi, jikalau anda benar-benar dengan kesungguhan hati ingin memasuki Pintu Surga, maka pahamilah dulu makna Pintu dengan sebaik-baiknya. Jika sudah paham, maka langkah selanjutnya adalah masukilah pintu tersebut dengan cara mengamalkan di setiap langkah hidup kita agar kita termasuk manusia yang tidak merugi baik di dunia terlebih di akherat. Ingat pintu surga adalah jalan masuk menuju kenikmatan sejati, yaitu jalan yang diridhai oleh Sang Maha Pencipta, tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhai, yaitu jalan kenikmatan. Kami ucapkan selamat memasuki PINTU SURGA, aamiiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: