MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Memaknai “Kurban”

Posted by marsaja pada November 29, 2009

Salah satu Rukun Islam yang kelima adalah menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Salah satu syariat yang diamalkan adalah menyembelih hewan kurban. Yang mana syariat tersebut bertujuan untuk meneladani jejak Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Singkatnya Allah SWT menurunkan syariat perintah kurban melalui kedua nabi tersebut. Diceritakan bahwa nabi Ibrahim bermimpi sebanyak tiga kali yang dalam mimpinya diperintah menyembelih putranya sendiri yaitu nabi Ismail as. Namun ketika akan menyembelih leher nabi Ismail ternyata Allah swt telah menggantinya dengan seekor hewan domba. Singkatnya kita sebagai umat islam juga dianjurkan berkurban bagi yang mampu.

Menurut hemat kami perintah berkurban tersebut sangat bagus bagi pribadi seorang hamba itu sendiri disamping ingin meneladani jejak Nabi Ibrahim dan nabi Ismail as.  Namun akan lebih bagus lagi jika kita mampu menangkap makna ibadah kurban tersebut. Yang mana dari penemuan makna tersebut paling tidak akan berpengaruh pada pribadinya, pada kualitas keimanan setiap masing-masing seorang mukmin atau manusia pada umumnya.

Kami akan mencoba memaknai hakikat ibadah kurban tersebut sejauh yang bisa kami rasakan berdasarkan pengalaman kami. Seperti yang kita ketahui bahwa ibadah kurban syariatnya adalah menyembelih hewan kurban, baik itu domba/kambing, sapi, kerbau atau unta. Coba anda rasakan dan pikirkan secara mendalam kenapa kita disyariatkan harus menyembelih hewan kurban? Apa maksudnya? Tiada lain adalah bahwa setiap diri manusia sebenarnya diperintahkan untuk membunuh nafsu binatang yang ada dalam pribadinya masing-masing.

Dengan membunuh nafsu binatang pada pribadi kita, berarti kita telah terbebas dari sifat-sifat kebinatangan, seperti mau menang sendiri, pendendam, tidak tahu tata krama, hanya menuruti perutnya saja, dst. yang pada intinya menurut kami adalah bahwa jika dalam pribadinya masih terdapat nafsu binatangnya maka dia tidak ubahnya seperti binatang. Ingat manusia bisa mulia melebih kemuliaan malaikat, dan sebaliknya bisa menjadi hina melebihi kehinaan binatang.

Kesimpulannya jika kita mampu membunuh nafsu binatang kita, berati kita belajar menjadi manusia yang sesungguhnya yaitu manusia yang beradab bukan biadab. Manusia yang beradab adalah manusia yang selalu mengedepankan adabiyahnya atau akhlaqnya. karena sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya.

 

Satu Tanggapan to “Memaknai “Kurban””

  1. ajahindra said

    As Salamu ‘alaikum
    Indonesia… negeri yang aneh.
    Jin gentayangan di peradaban manusia.
    Kenapa bisa begini?
    Siapa yang paling bersalah?
    Bisakah kita memperbaikinya?

    http://antimain.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: