MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Ternyata Kita “Senyawa”

Posted by marsaja pada September 1, 2009

Paparan ini sengaja kami syiarkan kepada khalayak umum, yang mana momentumnya sangat pas bertepatan di bulan penuh rahmah dan maghfirah yaitu bulan suci Ramadhan. Berangkat dari rasa keprihatinan kami mengenai perilaku umat manusia yang ternyata tidak semakin rukun tetapi malah semakin individualis, rasa ketidakpedulian, saling bersaing dan menjatuhkan, saling membenci dan gampang merusak bahkan membunuh antar sesama manusia. Tidak hanya kepada manusia saja perilaku tidak bermoral tersebut   bahkan kepada makhluk lain, seperti alam ini manusia juga berlaku seenaknya hanya mengejar keuntungan semata tanpa mempedulikan keberlangsungan alam itu sendiri. Inilah yang mengilhami penulis mengangkat tema tersebut di atas bahwa pada dasarnya kita ternyata “Senyawa“. Apa buktinya? Kami menulis tema ini berdasarkan pendekatan alam semesta ini kaitanya dengan alam pribadi. Dan ini kami peroleh dari renungan yang mendalam selama bulan puasa kali ini, kami temukan dari “Roso Pangroso” terhadap fenomena alam raya dan alam jati diri. Tentunya anda berhak memberikan saran atau komentar, senyampang ini masih sebatas dalam diskusi yang kondusif dan konstruktif.

Pendekatan yang kami gunakan adalah bahwa dalam jagad alam raya ada beberapa unsur diantaranya adalah Matahari, Bulan, Bintang, Bumi dan Angin. Kami mencoba mengaitkan kelima unsur alam di atas dengan yang ada dalam setiap pribadi manusia. Karena manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang paling sempurna dibanding makhluk lain, inilah termasuk salah satu argumen penulis untuk mencoba lebih merenungi kembali apa bukti bahwa kita makhluk yang sempurna.

Pertama Matahari. Matahari dalam alam semesta berfungsi sebagai sumber cahaya yang mana dapat menjadikan segala apa yang ada di alam ini akhirnya hidup. Tanpa sinar matahari maka alam ini juga akan mati. Berkat sinar matahari tumbuh-tumbuhan yang ada di bumi mampu hidup sesuai kapasitasnya. Kaitanya dengan pribadi manusia, ternyata yang sebenarnya hidup itu adalah Ruh atau Roh kita. Ruh itu sendiri pada dasarnya adalah cahaya atau Nur. Berarti yang sesungguhnya hidup dalam diri manusia adalah ruh dan itu juga berlaku untuk makhluk lain.

Kedua Bulan. Coba anda perhatikan bahwa bulan akan memancarkan sinarnya hanya pada malam hari dan itu merupakan pantulan dari sinar matahari. kalau sinar matahari cenderung hangat atau panas. maka kalau bulan sinarnya terasa dingin. yang lebih penting bulan mampu memberi penerangan ketika jagad dalam kondisi gelap atau malam. Adapun fungsi bulan dalam jasad manusia terletak pada Hati. Karena hati yang sucilah yang mampu memberikan terangnya kehidupan ini. Jika hatinya baik maka baiklah sikapnya dan sebaliknya. Karena hati yang bersihlah yang mampu memberikan penerangan di tengah dunia yang semakin bingung ini. Siapa yang hatinya tetap bersih, suci maka hidupnya akan terang dan mampu menerangi di sekitarnya. Tapi jika bulan tertutup oleh mendung maka gelaplah dunia ini. Jika hati manusia terselimuti oleh urusan dunia semata, maka hidupnya akan gelap, bingung entah kemana dan tidak memiliki tujuan hidup.

Ketiga Bintang. Bintang juga akan bercahaya di kala malam hari. Dan jika bintang-bintang bercahaya maka tentu suasana dunia di malam hari akan terasa indah. Siapapun akan suka melihat germerlap bintang-bintang di angkasa. Seperti itulah jika bintang-bintang dalam pribadi manusia bercahaya maka siapapun akan senang melihatnya. Jika akal pikirnya memancar dengan terang maka akan lahir pikiran-pikran yang sangat menakjubkan. Akan lahir otak-otak yang brilian, yang mampu memajukan khidupan di dunia ini. Ya bintang dalam pribadi manusia berarti terletak pada otak atau akal pikir. Siapa yang mampu berpikir cerdas, maka tentu manfaat yang akan didapatkan. Siapa yang mampu berpikir positif maka suasana terbaiklah yang akan diperoleh. Jika akal pikir semua manusia memancarkan kebaikan maka dunia akan seindah suasana di malam hari yang dihiasai bintang-bintang gemerlapan.

Keempat Bumi. Bumi adalah salah satu planet yang dianugerahi kehidupan. Berkat bumi semua makhluk yang hidup diatasnya mampu melangsungkan hidupnya. Jika bumi dimanfaatkan maka akan menumbuhkan segala keberkahan atas penghuninya. Namun sebaliknya jika bumi dirusak atau disia-siakan maka bencana akibatnya. Begitu pula pada diri manusia. Jika perut anda dijaga dengan baik maka jasad akan tumbuh sebagaimana mestinya. Jika makanan yang dimakan bergizi maka pertumbuhan jasad akan bagus, namun jika tidak diberi konsumsi nutrisi dan asupan gizi maka tubuh tidak akan tubuh dengan sempurna. Jika dalam perut kita yang mendominasi adalah nafsu makan yang berlebihan, maka penyakit yang akan diperoleh. Seperti itulah gambaran bumi dalam jasad kita. Siapapun yang mampu menjaga secara seimbang maka tentu tubuh akan sehat dan bugar. Tentunya dengan pola makan yang teratur, nutrisi yang cukup dan olah raga yang cukup.

Terakhir Angin. Ya angin inilah yang sebenarnya membuktikan bahwa kita “Senyawa” dengan makhluk lain. Jika dalam jagad alam raya ada angin yang berhembus, maka dalam pribadi manusia kita juga terdapat angin atau nafas. Dan karena adanya angin inilah kita mampu bernafas agar kelangsungan hidup tetap terjaga. Jika kita tidak bernafas berarti kita mati. Nafas inilah yang disebut sebagai “Nyawa” Coba anda perhatikan bahwa manusia memiliki tiga unsur yaitu Ruh, Nyawa, dan Jasad. Jika nyawa kita dicabut maka jasad akan mati tetapi ruh tetap hidup di alamnya. Dan ingat yang akan bertanggung jawab nanti di hari kiyamat nanti adalah yang hidup itu sendiri yaitu Ruh. karena sifat ruh sendiri adalah hidup. Dan kita tentunya paham bahwa alam raya diciptakan karena adanya Nur Muhammad atau cahaya kehidupan. Yang mana masing-masing makhluk pada dasarnya mempunyai ruh kehidupan yang pada dasarnya sama karena semuanya berasal dari unsur satu yaitu Nur Muhammad. Dan karena nur inilah alam beserta isinya diciptakan.

Nah kaitannya dengan ternyata kita senyawa adalah bahwa Nyawa kita memang unsurnya sebenarnya sama dengan nyawa makhluk yang lain. Maka sebutannya pada dasarnya setiap makhluk itu “Senyawa”. Apalagi ruh kita juga berasal dari ruh yang sama. Yang membedakan kita dengan makhluk lain adalah derajat ketaqwaan setiap makhluk. Tulisan ini sengaja kami sampaikan agar sebagai manusia yang sempurna kita secara sadar mengenai jati diri kita bahwa pada dasarnya kita senyawa. Lalu apa alasan kita hidup di dunia ini jika tidak rukun, tentunya ironis dong. Maka perilaku rukun itu tetunya menjadi sifat dasar hidup kita sebagai makhluk sosial. Bagaimana caranya? Kita bisa mulai dengan selalu berpikir positif dan menganggap bahwa kita semua pada dasarnya saudara karena kita senyawa.

Jadi sudah saatnya kita berpikir kembali dan penuh hati-hati jika berbuat sesuatu baik dari perkataan maupun perbuatan. Jangan sampai kita gampang berbuat angkara murka jika pada dasarnya kita bersaudara. Jangan gampang merusak alam jika kita sebenarnya senyawa dan saling membutuhkan. Coba anda pikirkan sekali lagi betapa murahnya bumi ini menumbuhkan segala macam yang manusia tanam di bumi ini. Dengan segala fasilitasnya bumi merelakan tempatnya untuk kita gunakan menjalani hidup. Sudah sepantasnya kita menjaga bumi dengan sebaik-baiknya dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pemberi Rezeki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: