MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Nasionalisme = Ilmu Sepeda

Posted by marsaja pada Agustus 17, 2009

Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, ada 3 tahapan penting yang terjadi di negeri ini kaitannya dengan konsep nasionalisme. Tiga tahapan tersebut adalah pergerakan-pergerakan nasional yang terjadi di negara ini. Pertama, berdirinya organisasi kebangsaan yang pertama yaitu “Budi Utomo” tahun 1928. Budi Utomo dianggap sebagai organisasi yang pertama berorientasi kebangsaan atau yang lebih dikenal sebagai kebangkitan nasional. Kedua, adanya ikrar bersama oleh beberapa perwakilan pemuda di seluruh Indonesia dalam bentuk konggres pemuda yaitu yang terkenal dengan sebutan “Sumpah Pemuda” tahun 1928. Ketiga, adanya perjuangan rakyat baik secara fisik maupun nonfisik, yaitu pada tahun 1945. dan pada tahun inilah terjadi puncak perjuangan bangsa, yang mana bangsa Indonesia berhasil mencapai kemerdekaan dengan dikumandangkannya “Proklamasi Kemerdekaan”. Ketiga tahapan pergerakan nasional inilah kita dapat melihat secara lebih mendalam, bahwa Nasionalisme memang berperan penting dalam mempersatukan potensi bangsa ini. Yang mana dari nasionalisme tersebut rakyat Indonesia mampu mencapai kemerdekaan yang telah lama diidam-idamkan rakyat. Ya, memang kita patut bersyukur atas keberhasilan bangsa dalam meraih kemerdekaan. Karena kemerdekaan memang bukan pemberian bangsa penjajah akan tetapi karena usaha perjuangan rakyat Indonesia dan atas berkat rahmat Allah SWT.

Namun selalu saja ada persoalan yang muncul di setiap peristiwa besar tersebut. Setelah proklamasi kemerdekaan, persoalan yang muncul adalah berlomba-lomba mengaku bahwa dirinyalah yang paling banyak jasanya. Sehingga ketika para pejuang itu tidak terakomodasi semua di pemerintahan yang baru, maka mereka lupa terhadap makna perjuangan itu sendiri. Sehingga di beberapa daerah muncul pemberontakan-pemberontakan yang sebenarnya juga dilakukan oleh para pejuang itu sendiri.

Pasca reformasi yang terjadi juga hampir sama, sebelumnya mereka kompak menyuarakan aspirasi rakyat. Tetapi setelah itu akhirnya kelihatan topengnya siapa yang benar-benar berjuang dan yang hanya menjadi benalu bangsa.

Ada pola yang sama yang terjadi pasca peristiwa besar tersebut, yaitu munculnya gerakan golongan kiri dan kanan. Jika pasca kemerdekaan yang muncul adalah terjadinya polarisasi gerakan, yang kanan adanya pergerakan DI/TII sedangkan yang kiri munculnya G 30 S/PKI. Pasca reformasi pola yang terjadi adalah yang kanan muncul kelompok teroris dan yang kiri juga ada walaupun belum muncul dengan jelas.

Jika memang pola-pola yang terjadi sebenarnya sama, lalu apa yang sebenarnya cocok untuk bangsa ini. Jawabannya hanya satu yaitu konsep nasionalisme sejati. Konsep nasionalisme sejati tersebut pada dasarnya bisa kita ambil dari pendekatan “Ilmu Sepeda”. Maksudnya adalah jika kita bersepeda maka tangan kita akan memegang setir kanan dan setir kiri, namun angan-angan kita atau pandangan kita tetap akan melihat di tengah atau ke depan, bukan setir kanan atau setir kiri. Jika pengendara sepeda ingin selamat maka, dia harus tetap berpandangan ke tengah atau kedepan. namun jangan lupa antara kanan dan kiri tetap kita jaga.

Begitulah sebenarnya konsep nasionalisme menurut kami. Siapapun para pemimpin bangsa ini jika yang jadi pedoman adalah konsep tengah, maka kemakmuranlah yang akan dicapai. Namun jika yang jadi pedoman adalah hanya yang di kanan atau di kiri saja maka dia tidak akan berjalan dengan stabil. Apalagi jika golongan kanan dan kiri sengaja dibenturkan maka kerusakan dan kekacauanlah yang akan terjadi. Adapun konsep nasionalisme sejati tersebut sebenarnya sudah ada pada bangsa Indonesia sejak Pancasila dijadikan dasar, pandangan, dan ideologi bangsa Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: