MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Pancasila-Ku…. Dimana Engkau?

Posted by marsaja pada Agustus 13, 2009

Rangkaian kejadian yang menghentakan kita akhir-akhir ini, baik seputar pemilu, kerusuhan, perkelahian antar pelajar/mahasiswa atau masyarakat, pembunuhan secara sadis/mutilasi, dan yang paling menghebohkan  yaitu aksi terorisme di Indonesia, ditemukannya berbagai bom yang siap ledak, dan masih banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi dinegeri ini. Oh sungguh memprihatinkan semua itu,  Apakah orang-orang yang bertindak seperti itu sadar apa yang mereka lakukan! Apakah mereka sadar dampaknya bagi umat manusia, apakah mereka tahu implikasinya bagi negara ini, apakah mereka sadar bahwa mereka telah melupakan Pancasila. Ya, karena Pancasila-lah negara ini yang nota bene multi etnis, bahasa, ras, agama, budaya, adat, dan yang lainnya, akhirnya dapat bersatu padu membangun negri tercinta ini. Pertanyaannya adalah Apakah mereka sudah lupa terhadap Pancasila?Cobalah kita pahami kembali apa saja nilai-nilai yang tercantum pada dasar negara kita. Jika memang kita paham dan tahu maknanya, kami yakin semua warga negara yang mengaku rakyat Indonesia, dalam setiap sikap dan perilakunya akan mencerminkan Pancasila. Pertama, bahwa kita hidup ini harus paham pada jati diri kita. Kita hidup di dunia ini untuk apa dan mau kemana? Ibaratnya sebuah kapal akan berlayar menuju tujuanya atau kereta api akan bergerak sesuai relnya. Seperti itulah hidup maka tujuan kita harus jelas. Dan yang mendasari itu semua adalah siapa yang menghidupkan kita? Tentu Yang Maha Mencipta, maka kita harus percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, pas dengan sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa).

Kedua, Sebagai manusia itu tentunya dalam mengarungi kehidupan kita harus menggunakan rasa kemanusiaan kita, yang mana setiap manusia punya hati nurani, kami yakin segala perbuatan yang jelak atau jahat pasti akan bertentangan dengan nurani, sebaliknya perbuatan baik akan selaras dengan sanubarinya. Jadi, kita haruslah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan kita sendiri secara kodrati. Kalau merasa tidak menciptakan manusia maka janganlah membunuh manusia, ingat perbuatan itu sangat biadab. Tetapi jika perilaku kita pantas dan sopan, maka manusia itu akan beradab. pas sekali dengan sila kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab).

Ketiga, dalam sejarahnya, Indonesia bisa bersatu padu dalam segala multinya karena semuanya pada awalnya yakin dan percaya pada keampuhan Pancasila. Kita harus bangga dan bersyukur hidup di kepulauan Indonesia. Walaupun terdiri dari berbagai latar belakang etnis, bahasa, budaya, agama, adat, dll Kita tetap bersatu. Ini sangat sesuai dengan nilai-nilai murni orang Indonesia asli yang memang gemar rukun, bersatu, bergotong royong. Rasa persatuan dan kesatuan yang dimiliki Indonesia sangat selaras dengan nilai kerukunan pada agama Islam yang diyakini oleh orang Indonesia. Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh. Jadi sangat tepat kalau kehidupan bangsa ini dengan sila ketia (Persatuan Indonesia).

Keempat, Memang kita juga perlu menyadari bahwa pada dasarnya setiap manusia punya keinginan masing-masing, bahkan di sekup yang kecil yaitu dikeluarga masing-masing saja bisa berbeda pendapat dan kemauan, apalagi jika sekupnya besar seperti kehidupan bernegara. Namun pada masyarakat Indonesia lagi jikalau ada kehendak maka solusinya jika itu berkaitan dengan kehidupan orang banyak adalah musyawarah, bukan berdasarkan kepentingan pribadi atau golongan saja. Tentu sangat indah hidup ini, jika segala keinginan atau kehendak bisa dimusyawarahnya bahkan mufakat, alangkah bermartabatnya hidup kita didunia ini. Jadi setiap masalah jangan malah diperburuk dengan hanya mengedepankan bahwa pendapat kita yang benar, orang lain salah, atau kelompok kita yang paling suci yang lain kotor. Ini sangat tidak sesuai dengan jiwa pancasila, yang seharusnya penuh nuansa musyawarah, pas dengan sila keempat (Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan).

Kelima, bukti bahwa kita paham dan memahami fungsi kita sebagai manusia adalah bahwa apapun profesi kita di masyarakat ini maka semuanya harus belajar untuk hidup adil, tidak berat sebelah. Mari kita ciptakan suasana itu dari diri sendiri, yaitu dengan mulai dari JUJUR, jujur pada diri sendiri, orang lain dan tentu saja pada Yang Maha Berkuasa. Sehingga cita-cita yang mulia itu yaitu (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat) benar-benar bukan hanya mimpi indah saja tetapi kenyataan yang bisa kita rasakan bersama.

Jadi dimana Pancasila-Ku, benar-benar terintegrasi atau belum pada jiwanya masing-masing. Pancasila tidak hanya sekedar pajangan didinding saja, tetapi menjadi pedoman kehidupan bernegara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: