MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Teror?

Posted by marsaja pada Agustus 3, 2009

Satu bulan terakhir ini, kita banyak disuguhi oleh berita yang cukup menghebohkan seputar aksi teror khususnya yang terjadi di Ibukota Jakarta. Termasuk didalamnya adalah berita tentang belum ditemukannya dalang aksi teror di Mega Kuningan yang telah merenggut jatuh korban baik nyawa maupun yang luka-luka. Yang juga heboh adalah pasca aksi terorisme tadi ternyata banyak muncul aksi-aksi teror dalam bentuk yang lain, diantaranya lewat SMS atau telepon ke beberapa tempat strategis seperti hotel, perkantoran atau ruang publik lainnya. Itu semakin menambah ketidakpastian rasa nyaman dan tentram warga Jakarta, karena sampai sekarang pelaku teror gelap diatas belum tertangkap.

Padahal akibat aksi teror diatas dampaknya luar biasa, rakyat dikecam rasa ketakutan dan ketidakpastian. Anehnya dari berbagai aksi di atas semuanya tidak terbukti ada bomnya, walaupun dari Polri sudah siap siaga menerjunkan tim gegana atau anti teror, kita berharap sebagai warga negara Indonesia mudah-mudahan para pihak yang berwenang segera mampu menangkap dan utamanya memulihkan rasa aman dan nyama warga Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya. Mari kita dukung para penegak hukum yang sudah terlatih itu agar mampu dan sigap dalam menyelesaikan segala permasalahan bangsa ini khususnya aksi teror. Sehingga rakyat diharapkan dapat kembali beraktifitas normal dan bekerja sebagaimana mestinya.

Paparan diatas adalah gambaran aksi teror bom yang terjadi belakangan. Padahal kalau kita berpikir lebih jauh lagi sebenarnya kita kadang tidak sadar juga melakukan aksi teror yaitu aksi menakut-nakuti orang lain, bisa keluarga, anak, teman, tetangga atau orang lain. Atas nama mendidik anak kadang kita juga menakut-nakuti anak agar tidak boleh melakukan sesuatu. Kita kadang menggampangkan sesuatu yang remeh padahal akibat secara psikis bisa besar, misalnya sering membentak, memelototi, menjewer atau cara lain. Akibatnya anak kadang ada yang merasa takut, akhirnya rasa keberaniannya malah tidak muncul. Anak menjadi gampang takut untuk melakukan sesuatu, mereka khawatir tindakannya takut salah, sehingga tingkat perkembangan psikologis atau kedewasaannya akan terganggu, siapa yang bertanggung jawab? tentu juga orang tua dong. Parahnya jika orang tua tidak mau mengakui kesalahannya dalam mendidik, kadang malah menimpakan kesalahan kepada orang lain atau hanya pintar mengkambinghitamkan orang lain.

Dalam ranah pendidikan juga kondisinya hampir sama saja. Kadang guru dalam mendidik di kelas mereka juga kurang kontrol yang akhirnya meneror juga pada anak didiknya sendiri dengan berbagai model ancaman segala. Bisa dengan ancaman nilainya jelek, tidak dinaikkan kelas atau di keluarkan dari sekolah. Guru yang seharusnya menjadi sosok pendidik karena kesalahan murid yang kadang tidak disengaja malah berubah menjadi sosok yang menakutkan, seperti ada julugan guru atau dosen killer!.

Di masyarakat perilaku serupa juga kadang sama saja, gara-gara iri dengan tetangga karena tetangga bisa beli mobil akhirnya menebar berita bohong, menggunjing atau mengajak tetangga lain agar membenci tetangga yang baru saja beli mobil. Dalam sekup negara pasca hasil pemilu baik pileg maupun pilpress maka perilaku saling menyalahkan juga biasa terjadi?. Nah siapa yang sebenarnya berlaku teror, Kita atau Mereka?

Satu Tanggapan to “Teror?”

  1. info yang menarik, kritis dan membangun … trim’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: