MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Calon Pemimpin Sejati?

Posted by marsaja pada April 5, 2009

Pada 21 hari jadwal kampanye di negeri cukup banyak menyisakan cerita yang cukup menggelikan untuk diambil pelajaran khususnya bagi rakyat di negeri ini agar proses pemilu nanti benar-benar menghasilkan calon-calon pemimpin negeri yang dapat melayani rakyat dengan sepenuh hati. Bukannya kami kurang optimis dengan para calon pemimpin tersebut (baik caleg atau capres) namun fakta yang kami pantau selama mereka berkampanye terbuka di tempat-tempat berkampanye justru fakta yang ada adalah para calon pemimpin tersebut kelakuaanya cukup menggelikan (untuk tidak dibilang memprihatinkan), kenapa kami berpendapat demikian?Ibaratnya, tujuannya ingin damai namun perang semakin menjadi. Tujuannya ingin bersatu namun saling mengejek sudah menjadi bumbu politik. Inilah yang menggelikan kami. Mereka berkoar-koar selama berkampanye yang inti tujuannya adalah ingin memakmurkan rakyat (tentunya dengan redaksional yang bombastis) baik di media cetak, elektronik, maupun kampanye langsung.  Namun selama mereka berkampanye mereka kadang juga sibuk mencari sekaligus menyampaikan kejelekan partai pesaingnya. Padahal mereka bertujuan ingin memakmurkan negeri ini, namun dilain pihak mereka terus saling serang terhadap opini masing-masing partai.

Jikalau memang mereka para caleg/fungsionaris parpol ingin saling memajukan negeri kita tercinta ini, kenapa harus dengan cara-cara yang tidak positif istilahnya black campaign (kampanye hitam) padaha kalau mereka menyadari lambang negara kita yaitu Burung Garuda yang menengok kekanan itu menandakan bahwa seharusnya dalam berpikir, berkata, maupun bertindak tetap berlandaskan berpikir positif. Sehingga kalau berkampanye seharusnya mereka harus mampu saling menghormati, menghargai parpol masing-masing, bukannya malah terkesan saling menjatuhkan satu sama lain. Inilah yang kami sebut sebagai contoh sikap yang kurang fair.

Kalau ingin maju tentu harus bersatu, kalau ingin makmur tentu harus syukur. Kami sebagai rakyat tentunya sangat mendambakan pemimpin yang benar-benar memahami kebutuhan rakyat, yang mampu menjadi pengayom rakyat dan mampu mengajak secara bersama-sama untuk menatap kedepan dan terus melangkah agar cita-cita bangsa yang diamantkan oleh UUD kita dapat segera terlaksana sehingga kehidupan rakyat di negeri ini akan semakin membaik tanpa dibarengi dengan sifat yang saling mengolok-olok bahkan saling menjatuhkan. Pemimpin adalah panutan rakyat, sungguh tidak patut jika mereka belum menjadi pemimpin saja kelakuaannya atau akhlaq politiknya kurang pantas apalagi kalau mereka nantnya jadi pejabat, bagaimana nasib rakyatnya?

Oleh karena itu yang kami pilih adalah calon pemimpin sejati. Yang mampu menjadi penggerak sekaligus panutan sikap rakyatnya agar kemakmuran di negeri ini nyata terealisasi. Sosok pemimpin itulah yang seharusnya pantas untuk dipilih dan didukung agar kelak kejayaan negara Indonesia akan berkibar bersama berkibarnya sang saka Merah Putih, berani di atas kesucian. Mereka berani berkata dan bertindak atas nama kejujuran. Sehingga kalau sifatnya dilandasi kejujuran maka sikapnya akan selaras dengan sifatnya dan rakyat akan memetik hasilnya.

Satu Tanggapan to “Calon Pemimpin Sejati?”

  1. redaksi said

    CAPRES DAN CAWAPRES MULAI SALING SERANG

    Hardikan, kecaman, hinaan mulai dilakukan para capres dan cawapres. Tim sukses pun tak mau ketinggalan, mulai melancarkan aksi balasan.

    Mendengar kata demi kata aksi tersebut, hati serasa miris jadinya. mereka saling memburukkan, membingungkan saling serang mempertontonkan pola kampanye yang tidak sehat.

    Sempitnya fikiran tim sukses pemenangan capres dan cawapres tentang strategi dan karakter calon yang diusung semakin terlihat jelas. Mereka tidak menjelaskan kepada publik apa visi dan misi capres dan cawapresnya. Yang terjadi saling serang, saling memburukkan, debat kusir. Semua yang dilakukan justru akan semakin memperparah keadaan.

    Dalam mata khayal, terbayang bagaimana jika budaya saling menyerang ini berimbas ke tingkat bawah. Semua bisa menimbulkan gesekan antar simpatisan calon. Yang kalah akan terjajah, marah, sehingga menimbulkan tawuran antar pendukung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: