MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Reaktif atau Responsif

Posted by marsaja pada Januari 5, 2009

Cukup banyak peristiwa yang terjadi di jagad ini. Mulai dari peristiwa politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan kriminalitas. Tiap hari pun kita terus disuguhi berita-berita mulai dari yang memprihatinkan sampai membuat kita kasihan. Mulai dari terungkapnya kasus-kasus korupsi para pejabat di negeri ini, adanya demostrasi yang semakin semarak sampai berita penggusuran oleh satpol PP kepada para pedagang Kaki Lima yang mana terus-menerus terjadi. Sampai kejadian saling serang terkait konflik palestina- Israel. Belum masalah rasan-rasan di tetangga kita berkaitan dengan budaya persaingan membeli barang baru. Itu semua potret sebagian kecil pada kondisi masyarakat kita, yang mana tentunya akan membutuhkan penyikapan  dari kita, minimal penyikapan pada pribadi kita masing-masing. Lalu penyikapan yang mana yang seharusnya kita pegang, agar dalam menjawab setiap masalah atau persoalan itu, paling tidak kita tetap diberi kejernihan akal agar jelas dan tepat dalam menyikapi setiap masalah tersebut.Pada umumnya sebenarnya ada dua model penyikapan setiap orang terhadap fakta atau persolan yang terjadi di masyarakat itu, yaitu Reaktif dan Responsif. Yang reaktif menunjukkan kepada kita bahwa penyikapan kita termasuk dalam kategori gegabah, sembrono, kurang hati-hati dan hanya mendasarkan pada pemikiran sekilas. Kadang merekapun bersikap hanya karena ikut-ikutan arus saja. Orang mengajak ke utara mereka ke utara, bila diajak ke selatan mereka ke selatan. Mereka tak pernah mau berpikir secara jernih, padahal setiap melakukan apapun tentu ada efek dan resikonya. Kalau sudah terlanjur dan ternyata sikapnya kurang pas baru mereka umumnya menyesal, kenapa sikapnya begitu bodoh.

Memang untuk menyikapi suatu fakta atau persoalan kita kadang butuh solusi cepat agar masalah cepat selesai. Namun, pertimbangan yang matang dan cermat tetap harus dikedepankan. Kadang karena kurang dipikirkan secara matang maka dampaknya bisa rugi dan merugikan bagi siapa saja apalagi kalau persoalan itu termasuk masalah yang besar.

Sudah cukup banyak sikap-sikap yang hanya karena reaktif maka fatal akibatnya. Misalnya karena kita merasa geram kepada orang lain, akhirnya kita bersikap dengan kondisi yang marah, ujung-ujungnya semua dirugikan. Contoh lain masalah demostrasi menuntut kenaikan gaji buruh, atau menolah suatu produk UU, maka jika disikapi secara reaktif justru banyak menimbulkan kerugian, karena belum tentu tujuannya berhasil tapi malah luka-luka yang akhirnya semuanya akan dirugikan.

Sedangkan konsep responsif adalah lebih menekankan pada pemikiran secara utuh. Setiap kita bertindak atau bersikap maka harus dihitung dulu untung ruginya, kebaikan dan keburukannya, akibat atau pengaruhnya benar-benar dipikirkan dan dirasakan secara lebih mendalam. Dalam bersikap orang jenis ini akan mencoba mencari tahu dulu kalau perlu minta petunjuk pada orang bijak bagaimana kita merespon sebuah masalah atau kejadian di sekitar kita. Ada dasar yang kuat yang itu sangat limit pertimbangannya. sangat jauh dari unsur gegabah atau sembrono.

Konsep responsif menunjukkan kepada kita bahwa orang yang berpegang pada prinsip ini adalah orang yang cermat, teliti, waspada dan benar-benar dewasa (bukan hanya badannya yang besar atau umurnya yang sudah tua) namun kedewasaan justru sebenarnya dilihat dan dibuktikannya dari caranya bersikap dan bertindak. Banyak yang sudah berumur, namun kelakuannya sangat jauh dari dewasa bahkan kadang terlihat seperti anak kecil yang selalu minta untuk dibimbing.

Nah, itu adalah yang sebaiknya menjadi pedoman kita, prinsip kita dalam setiap menyikapi suatu permasalahan atau fakta yang terjadi. Jadi ketika ada peristiwa yang terjadi di sekitar kita atau dimanapun berada anda termasuk orang-orang yang punya pegangan sikap bukan mendahulukan sikap sembrono, gegabah atau kurang hati-hati. Anda akan mampu menjadi pribadi yang sangat teguh dalam pendiriannya dan justru itu yang dibutuhkan oleh masyarakat sekarang, apalagi banyak masyarakat yang bingung dalam menyikapi hidupnya.

Contoh masyarakat bingung dan mengecam pemerintah karena terjadi kelangkaan elpiji atau mitan. Harga barang sembako meningkat terus padahal pemasukan tetap atau justru berkurang. Masyarakat sangat reaktif ketika menyikapi banyaknya aliran sesat dalam keagamaan, sehingga mereka mau secara beramai-ramai berbuat anarkhis dengan merusak fasilitas peribadatan. Anda akan mampu menjadi penenang bagi lingkungan anda yang saat-saat ini sangat membutuhkan bimbingan mental.

Untuk itu cobalah anda belajar dan berusaha untuk merespon setiap masalah atau fakta dengan hati yang jernih, berpikir positif dan jauh dari unsur melampiaskan hawa nafsu. Tunjukkan pada orang lain bahwa di tengah kondisi yang serba membingungkan ini bahwa kita semestinya harus bersikap dengan semakin dewasa. Jangan malah tambah gelisah dan membabi buta untuk menyikapi setiap keadaan ini. Sudah banyak korban-korban berjatuhan dimana-mana baik akibat konflik atau masalah sepele saja itu semua terjadi karena penyikapan kita reaktif bukannya responsif. Jadi, tinggal pilih saja kita ini dalam bersikap cenderung reaktif atau sudah responsif, anda sendiri yang mengetahuinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: