MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Ketimpangan Mendidik Anak

Posted by marsaja pada Januari 5, 2009

Dalam mendidik anak, tentu banyak orang tua yang mendambakan agar anaknya pandai, cerdas, terampil, dan berakhlaq mulia. Maka dari itu orang tua dengan rela dan mendukung penuh memasukkan ke sekolah favorit, ke lembaga bimbingan belajar sampai temnpat-tempat kursus keahlian. Namun ternyata rencana dari orang tua tidak bisa berjalan mulus. Harapan itu hanya mampir dalam angan-angan saja, tidak mampu terealisasi dengan baik. Bahkan justru mereka malah mendapatkan anaknya semakin bermasalah saja, mulai prestasi akademiknya turun, kenakalan bertambah, sampai akhlaqnya kurang terpuji. Dampak lainnya kadang mereka sukar untuk dikendalikan, maraknya budaya kekerasan, membohongi orang tua, dan gemar keluar rumah untuk sekedar nongkrong, hura-hura atau menghabiskan waktunya di depan komputer (internet, games, PS). Yang lebih parah lagi walaupun mereka sudah paham ilmu agama, namun pengamalannya masih kurang bahkan masih berkualitas “diingatkan” ini semua adalah cermin dan fakta yang terjadi di sebagian masyarakat kita, kenapa bisa terjadi seperti itu, kenapa pendidikan kita belum bisa menjadi tempat yang baik untuk mendidik, inilah yang akan kami kaji tentunya menurut kacamata kami.Banyak yang bilang itu semua terjadi karena memang pergaulan dan lingkungan sekarang sangat berpengaruh terhadap pribadi anak. Gara-gara lingkungan kita yang kurang mendukung atau pergaulan bebas yang dampaknya sangat luar biasa akhirnya proses pendidikan di sekolah menjadi bias dan kurang berarti. Itu termasuk salah satu faktor negatif yang muncul. Namun, sebelum anda mencari kambing hitam (lebih enak cari kambing gule saja) maka sebaiknya kita harus instropeksi dulu, sebenarnya salah satu akar masalahnya karena apa? Menurut hemat kami, salah satu penyebab belum berhasilnya pendidikan kita karena terjadinya Ketimpangan dalam Mendidik Anak. Maksudnya adalah terjadinya ketidakselarasan dalam mendidik anak. Diantaranya orang tua terlalu berharap tinggi pada anak. Kadang orang tua kurang menyadari pada sikapnya tersebut, mereka beranggapan bahwa dengan memasukkan anaknya ke sekolah favorit, lembaga bimbingan belajar terkenal atau tempat-tempat kursus keahlian, anaknya akan pandai, terampil dan berakhlaq mulia. Mereka sudah mempunyai asumsi bahwa dengan usaha seperti itu semua tujuaannya akan tercapai. Memang secara teori seperti itu, ada juga yang berhasil, tapi ada juga yang gagal. Untuk yang gagal tentunya orang tua harus mampu mengevaluasi lagi usahanya. Mungkin anaknya memang kurang mumpuni pada kategori kognitif, afektif atau psikomotor. Orang tua harus peka pada anaknya sendiri bahwa sebenarnya kelebihan dan kekurangannya terdapat pada bidang apa saja. Jangan terlalu berharap tinggi pada anak yang mana nanti malah membuat anak tertekan dan orang tua stress. Orang tua pun jangan terlalu memaksakan kehendaknya bahwa anaknya harus pandai pada bidang-bidang yang hanya disukainya, padahal anak tidak suka. Orang tua harus mau menyadari dan lepang dada bahwa anaknya tidak sesuai harapnnya. Bayangkan saja kalau anak harus melakukan suatu kegiatan, padahal anak sendiri di dalam hatinya memberontak. Maka orang tua harus mau berbicara lagi kepada anak, kira-kira ia senang dan punya kelebihan apa. Orang tua harus paham dan sadar bahwa setiap anak punya kemampuan yang berbeda-beda. Jangan menggantungkan cita-cita yang terlalu tinggi npada anak, sesuaikan dengan kemampuannya, sehingga anak akan mendukung dan merasa bersemangat. Jika sudah seperti itu antara keinginan orang tua dan kemauan anak nantinya akan selaras dan mampu berjalan secara wajar, bukan lagi atas dasar paksaan orang tua saja atau memenuhi keinginan orang tua tanpa mempertimbangkan kondisi anak. Sudah cukup banyak akibat dari pemaksaan orang tua yang terjadi pada anak. Misalnya orang tua ingin anaknya les di lembaga bimbel, namun anaknya ternyata tidak bersemangat dalam les malah kabur atau sering absen dalam les, sehingga antara maksud orang tua dengan keinginan anak tidak nyambung. Benarkah anak secara sadar membutuhkan keinginan untuk les, itu perlu dikoreksi kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: