MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Yang Masih Membanggakan …

Posted by marsaja pada Desember 30, 2008

Jika dalam suatu keluarga  ada sepuluh anak yang mempunyai sifat dan sikap yang berbeda-beda, apa yang akan dilakukan oleh orang tua. Anak pertama  bertanggung jawab, kedua penyabar, ketiga pemarah, keempat sukai iri, kelima pemaaf.  Anak keenam egois, ketujuh mau enaknya sendiri, kedelapan oportunis, kesembilan suka menolong dan terakir manja. Kira-kira dari kesepuluh sifat anaknya bagaimana sikap orang tua. Apakah yang masih membuat orang tua merasa bangga dan nyaman terhadap sikap anak-anak yang bervariasi tersebut? Menurut anda apa yang bisa membuat orang tua tetap percaya mereka masih mampu membina anak-anaknya?Mungkin orang tua akan memuji terhadap anak-anaknya yang mempunyai sifat baik, dan sebaliknya akan marah pada anaknya yang punya perilaku buruk. Bisa saja orang tua akan lebih sayang pada ananya yang penurut daripada yang ngeyel plus ngengkel. Bisa saja orang tua akan berlaku tidak adil terhadap anak-anaknya. Mereka hanya senang pada anaknya yang sudah baik dan sedih atau mengeluh terhadap anaknya yang nakal.

Jika orang tua masih membuat perlakuan yang berbeda pada anak-anaknya maka hasilnya pun tentu akan beda. Jika orang tua masih mengeluh kepada anaknya yang nakal maka hasilnya pun akan tetap membuat keluh kesah orang tua. Jika orang tua berat sebelah dalam menyayangi anak maka hasilnya pun anak akan berlaku berat sebelah pada orang tuanya.  Anak tentu akan meneladani orang tua, jika mereka merasa dirugikan dan tidak diperhatikan tentunya mereka akan berbuat sampai orang tua memperhatikan mereka kembali.

Lalu, apa yang bisa diperbuat orang tua menyikapi anak-anaknya yang berbeda sikap tersebut, apakah akan mengusir yang jelek dan membina yang sudah baik? Menurut kami menghadapi situasi yang demikian tentu orang tua akan merasa bangga jika kesepuluh anak-anaknya ternyata masih berpegang pada “Kejujuran”. Orang tua akan tersenyum jika anak-anaknya yang beda sifat tadi ternyata masih berlaku jujur pada orang tuanya. Kenapa orang tua harus membenci sifat-sifat anak-anaknya itu, toh mereka anak yang merupakan amanah dan harus dibina oleh kedua orang tuanya.

Dengan sifat jujur dari anak-anaknya tadi, itu seharusnya menjadikan orang tua bersyukur dan terus mengembangkan agar itu tetap menjadi pedoman dan karakter anak dimanapun mereka berada. Dimanapun dan kapanpun atau berhadapan dengan siapapun jika anak masih jujur, itulah nanti yang akan membuat orang tua bangga, yakin bahwa mereka  akan mampu berbuat sesuai  harapan orang tua.

Dengan kejujuran itulah orang tua bisa mengontrol perbuatan anak-anaknya agar mampu mencapai pribadi yang unggul dengan label kejujuran. Karena dengan kejujuran kita bisa mengecek setiap perbuatan anak-anak kita, apa saja yang mereka lakukan akan terdeteksi dengan cepat untuk kemudian dicarikan solusinya. Apakah anda akan marah jika anak anda ternyata masih nakal padahal anak anda sudah mengatakan yang sejujurnya.

Kejujuran itulah yang masih merekatkan ikatan keluarga. Kejujuran itulah yang membuat di keluarga masih saling percaya, tidak saling curiga dan merasa menjadi orang yang berguna bagi orang lain.

Lalu, bagaimana kita sebagai pelaku pendidik di sekolah, jika mengetahui bahwa anak-anak didik kita juga mempunyai karakter yang bermacam-macam. Marahkan kita mempunyai murid yang pemarah, egois, menag sendiri, suka berbuat onar, dll. Marah mana jika ternyata murid sudah lupa terhadap kosa kata “JUJUR” atau terhadap hakikat jujur itu sendiri. Karena hanya kejujuran itulah yang masih membuat pendidik merasa senang dan menyenangkan, masih membuat para guru bangga dan membanggakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: