MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Benci Sifatnya, Sayangi Orangnya

Posted by marsaja pada Desember 30, 2008

Kalau saya melihat fenomena kehidupan anak-anak muda sekarang, khususnya yang berusia sekolah. Baik yang sekolah di negeri maupun yang sekolah swasta. Mulai sekolah yang berstatus Plus/Unggulan sampai yang berlabel Rintisan SBI/sudah SBI. Mulai sekolah yang unik sampai favorit, pada dasarnya setiap orang tua/wali murid akan berharap sama. Mereka berharap anaknya cerdas, berkompeten dan berperilaku positif. Namun setelah anaknya  mengenyam pendidikan di sekolah yang mereka inginkan, ternyata hasilnya kurang memuaskan bagi orang tua, mereka banyak yang bingung dalam menyikapinya. Segala cara dilakukan agar anak-anaknya kembali baik dan menurut sesuai keinginan orang tua. Bagaimana seharusnya penyikapan kita terhadap fenomena tersebut?Seperti yang terlihat, kebanyakan anak sekarang walaupun sudah disekolahkan, namun ternyata belum memuaskan para orang tua. Memang banyak faktor yang mempengaruhinya. Di antaranya canggihnya kurikulum di luar kelas, seperti munculnya pusat-pusat games komputer yang terus buka tanpa ada batasan waktu tutupnya, kebebasan mengakses internet. pergaulan bebas di lapangan, kebiasaan nongkrong di cafe, dipinggir jalan, dan tempat lainya. Semua itu ternyata justru membuat anak-anak berkesan dan merasakan kebebasan, sehingga mereka pun bebas mengekspresikan diri, tanpa mengerti akibatnya secara luas pada diri dan orang lain.

Ketika mereka belajar di sekolah, dengan berbagai metode dan sarana pun , kadang hasilnya belum optimal, Namun ketika mereka bersosialisasi seperti pada tempat-tempat di atas mereka justru dengan gampang mendapatkannya tanpa bisa terkontrol lagi. Akibatnya pribadi mereka menjadi pribadi yang lemah dalam belajar, berjuang namun justru semangat dalam aroma bermain, hura-hura, akses internet,  kebiasaan minum di cafe, dll.

Mereka menjadi pribadi yang asing, yang orang tua atau guru pun sulit menerima terhadap perilakunya. Anak-anak menunjukkan gejala yang membuat orang tua prihatin dan khawatir terhadap setiap gerak-geriknya. Orang tua selalu was-was terhadap setiap perbuatan yang mereka lakukan. Guru sulit mengarahkan belajar secara positif, karena respon mereka sangat rendah. Guru tidak henti-hentinya memotivasi agar murid mampu mengembangkan potensinya, namun justru murid kelihatan agah-agahan dan miskin greget untuk belajar di kelas.

Orang tua/wali murid pun dibuat kebingungan terhadap anak-anak mereka. Apapun yang mereka lakukan, walaupun itu kebaikan tapi respon anak sangat rendah. Anak menjadi gampang marah, uring-uringan, dan sulit dikendalikan. Anak menjadi seperti benalu di rumahnya sendiri. Ketika dinasehati mereka seolah-olah menutup diri atau hanya mendengarkannya namun tidak diperhatikaanya. Nasehat dari guru/orang tua menjadi perkataan yang membosankan bagi anak.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan baik sebagai orang tua/guru agar perilaku anak kembali seperti anak yang mempunyai spirit belajar kembali dan mampu menampilkan akhlaq terpuji. Inilah yang menjadi PR kita semua. Dan itu bisa kita mulai kembali dengan merenungkan lagi apa-apa yang sudah diperbuat kepada anak-anak kita. Apakah yang kita perbuat ada pengaruh positifnya kepada anak atau justru malah ditanggapi negatif. Seberapa besar pengaruh perubahan itu pada anak-anak kita, orang tua hendaknya rajin dan meneliti setiap yang diperbuat pada anak. jangan sampai apa yang kita  lakukan  justru menimbulkan masalah baru atau  kita menjadi bagian permasalahan itu sendiri. Kalau anda bisa melakukan sendiri lakukanlah, namun jika anda butuh bantuan orang lain, maka diskusikanlah agar segera ketemu solusinya.

Sedangkan menurut hemat kami pada dasarnya menyikapi keadaan yang demikian adalah dengan cara “Membenci Sifat/Sikapnya, namun Sayangi Orangnya”. Maksudnya anda boleh benci pada sifat an sikapnya, karena yang mereka lakukan umumnya sudah melenceng dari norma dan agama. Namun sebagai orang tua/guru hendaklah tetap berusaha menyayangi anaknya. Gambaran mudahnya, kalau sepeda motor kita rusak businya, maka apakah harus kita membuangnya atau menjualnya kemudian membeli motor baru. Apakah tidak bijaksana jika kita mengganti busi yang rusak itu agar sepeda motornya kembali enak untuk dipakai.

Seperti itulah gambarannya, jika anak kita sakit, maka kewajiban orang tua untuk merawatnya kembali. mencarikan jalan agar anaknya sembuh kembali. Anda boleh membenci sikapnya, namun tetap sayangi anak anda. Dengan kasih sayang itulah anak akan merasa masih dibutuhkan keberadaannya, anak masih merasa diperhatikan. Anak masih merasa bahwa kalau dirinya sakit maka ada yang peduli dan berusaha merawat dan menyembuhkannya.

Anak yang sakit jangan malah di olok-olok, dikatai yang tidak sopan, dikucilkan, atau tidak dianggap keberadaannya. Justru perlakuan yang seperti itu akan semakin memberatkan sakitnya. Mereka akan semakin tidak berguna dan hanya membuat semakin menderita. anak yang sakit jika malah dibilang sakit justru akan menurunkan motivasinya, mereka akan kehilangan gairah hidup ini. Inilah yang akan membuat proses sembuh justru semakin lama dan akan membuat putus asa si sakit atau malah orang tuanya sendiri.

Jadi, orang tua sebaiknya bercermin, benarkah mereka masih sayang pada anak-anaknya yang bermasalah, atau yang masih sakit. Benarkah orang tua dengan tulus ikhlas maih mau mendoakan agar anaknya kembali baik. Benarkah orang tua masih mempunyai rasa tanggung jawab agar anaknya berubah positif. Karena pada dasarnya baik dan buruknya anak itu semua tergantung orang tuanya sendiri dalam mendidik dan membimbingnya. Janganlah kita rajin untuk mencari kambing hitam terhadap permasalahan anak, orang tua malah sibuk menyalahkan berbagai pihak tentang kejelekan perilaku anaknya. Harusnya orang tua berlaku bijaksana, untuk berkaca terhadap dirinya sendiri, sejauh mana mereka bertindak dan merawat anak-anaknya dengan tetap berusaha dan hanya menggantungkan diri pada keagungan Illahi Robbi. Karena yang terjadi di dunia ini pada dasarnya mutlak kehendak Yang Maha Kuasa. Jadi ingatlah kembali dan tetapa berusaha, kemudian kita pasrahkan dan tawwakal kepada Illahi Robbi. Semoga bermanfaat wahai para orang tua/guru.

Satu Tanggapan to “Benci Sifatnya, Sayangi Orangnya”

  1. wyd said

    mulai dari diri kita yang memberi contoh menaburkan kasih sayang, baru kemudian berharap semoga anak2 muda itu juga memiliki kasih sayang yang berlimpah.
    selebihnya seperti yang anda bilang… pasrah dan tawakal.
    begitu kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: