MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Ayam Mati di Lumbung Padi

Posted by marsaja pada Desember 25, 2008

Seperti pepatah “Ayam Mati di Lumbung padi” itulah gambaran kehidupan di negeri ini. Negara Indonesia yang disebut sebagai negara Agraris, seharusnya keterseiaan pangannya melimpah ruah. Namun yang terjadi justru sebaliknya, Yang katanya stok pangan nasional kita mencukupi bahkan lebih tapi justru masih banyak mengimpor dari mancanegara. Yang katanya panen kita melimpah ruah dari berbagai macam komoditas hasil pertanian namun yang terlihat justru rakyat semakin sengsara. Kok bisa ya! itulah yang akan kita ulas disini.Pemerintah sebenarnya tetap genjar untuk menggalakkan agar rakyat menanam produk-produk pertanian. Tiap tahun negara kita juga panen besar. Mulai dari padi, palawija, sayur mayur, buah-buahan semuanya tersedia di negeri ini. Untuk meningkatkan hasil produksi pertanian pemerintah juga sudah membuat program, seperti penyediaan benih unggul, pupuk bersubsidi, penyuluhan pertanian, sampai pemerintah akan menjamin untuk membeli hasil panen rakyat.

Namun, yang terjadi sungguh ironis. Ketika pemerintah menyuarakan agar petani meningkatkan hasil pertanian, namun disisi lain petani sulit untuk mendapatkan pupuk bersubsidi sebagai penunjang tanaman mereka. Pupuk begitu langka di negeri ini. Petani jika ingin membeli pupuk harus daftar dan antri di toko-toko, di KUD, di agen yang sudah ditunjuk pemerintah. Petani harus menunjukkan KTP jika ingin membeli, termasuk ketika membeli ternyata juga dibatasi jumlahnya, sehingga ini mengakibatkan para petani gerah dan bingung. Disatu sisi hasil pertanian harus meningkat dan disisi lain pupuknya langka.

Harga obat pembasmi hama pun juga tinggi. Benih tiap tahun juga terus meningkat harganya. Karena petani hanya mengandalkan tanah garapannya, maka mereka tetap harus membeli produk-produk tersebut, tanpa bisa berbuat apa-apa. Mereka dipaksa sebagai obyek yang harus mengikuti harga pasar.

Yang juga mersahkan petani adalah pada saat panen, harga langsung jatuh. Padahal biaya menanam dan memeliharanya mahal. Petani harus menggarap lahan dulu, menanam, merawat dengan pupuk agar subur tanamannya. Tapi ketika panen, maka harga harus jatuh drastis sehingga petani tetap sebagai pihak yang dirugikan.

Di pasaran pun ternyata harga sembako juga mengalami kenaikan harga, padahal harga hasil pertanian petani biasanya cenderung turun. Mau tidak mau petani harus menjual kepada tengkulak atau para penadah. Mereka tidak bisa menentukan harga, mereka hanya punya satu pilihan, yaitu harus dijual kepada para tengkulak. Ketika petani menyuarakan agar hasil panen juga naik kepada pemerintah, maka pemerintah sebenarnya menindaklanjuti, namun harga dipasaran tetap rendah.

Dari semua fakta yang ada, ternyata ini membingungkan masyarakat, yang katanya sembako melimpah, namun semuanya serba mahal. Akhirnya rakyat harus memutar ulang kondisi keuangannya, karena mereka harus mencukupi kebutuhan hidupnya. Mereka harus mengatur ulang jika ingin makan makanan yang layak.

Banyak sekali dan cukup sering diberitakan, bahwa sebagaian rakyat kita justru makan dari makanan yang sudah tidak layak dikonsumsi, seperti nasi aking, makanan kadaluwarsa. Terjadi busung lapar di sebagian wilayah Indonesia. Sungguh sangat ironis sekali ya! Kita yang terkenal sebagai negara lumbung makanan namun justru rakyatnya masih banyak yang kelaparan dan busung lapar. Ibaratnya seperti “Ayam mati dilumbung padi“. Benar nggak?

Satu Tanggapan to “Ayam Mati di Lumbung Padi”

  1. matnyol said

    Lumbung padi milik kita hanyalah lumbung kosong. Belum ada yang memanen padi dan menyimpannya di lumbung, jadi wajar saja si ayam mati kelaparan…
    Lihat saja,
    Begitu banyak lahan subur yang hanya dikelola seadanya,
    Sungai dan laut yang begitu potensial hanya dijadikan tempat sampah,
    Hutan yang begitu luas dan lebat dibabat dan dibakar sedikit demi sedikit tiap harinya,
    dll,dll.

    Ingatlah kawan, lumbung sebesar apapun tak akan pernah bisa mengisi dirinya sendiri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: