MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Filosofi Ulat-Kepompong-Kupu”

Posted by marsaja pada Desember 24, 2008

Di dunia ini, pada dasarnya kehidupan manusia dibagi menjadi tiga golongan model atau karakteristiknya. Pembagian tiga model kehidupan tersebut, dapat kita lihat dengan jelas dengan memahami hakikat kehidupan dari sebuah makhuk ciptaan Allah swt, yaitu Ulat, Kepompong, dan akhirnya menjadi Kupu-Kupu. Bagaimana sebenarnya filosofi dari kehidupan binatang tadi, inilah yang akan kita ulas yang mana dapat dijadikan sebagai salah satu bahan renungan kepada kita semua, sesungguhnya hidup kita itu termasuk Ulat, kepompong atau sudah menjadi Kupu-Kupu.

Untuk menilai lebih model kehidupan binatang tersebut, mari kita perhatikan dengan seksama satu per satu. Pertama adalah model hidupnya Ulat. Seperti yang kita ketahui, Ulat dalam hidupnya selalu makan dan terus makan tanpa berhenti sampai daun-daunan habis. Kotorannya tercecer dimana. Bila kita pegang/disenggol maka dampaknya bagi kita akan menimbulkan rasa gatal dan bengkak. Bentuknya pun secara fisik menurut sebagian orang adalah “Nggilani”.

Makna yang bisa kita petik adalah bahwa model hidup Ulat adalah bahwa hidupnya hanya digunakan untuk makan saja, mengejar materi tanpa henti. Hidupnya untuk menumpuk kekayaan dan tanpa kenal henti sampai yang dimakannya habis, kalau habis maka biasanya akan mencari lahan lain. Hidupnya tidak merasa puas dan tidak pernah bersyukur, karena mereka bilang bahwa hartanya selalu kurang dan kurang. Hidupnya juga meninggalkan sifaf dan sikap yang kurang terpuji, kotorannya dimana artinya jejak jeleknya dimana-mana, mereka seakan tidak peduli bahwa mereka sebenarnya hanya menyebarkan kehinaan, kenistaan, kejelekan dan selalu merugikan. Bila kita singgung, mereka akan marah dan membuat yang menyinggungnya akan merasa kegatalan, menyakitkan dan menimbulkan efek (bengkak). Bentuknya pun nggilani artinya secara fisik sebenarnya orang yang jenis ini sangat tidak pantas dilihat, mereka seakan tidak peduli dengan norma yang berlaku dimasyarakat.

Kedua adalah sifat dan karakter Kepompong mencerminkan hidupnya sudah meningkat pada tataran menahan hawa nafsu, bertapa, ngeposne roso atau berpuasa. Hidupnya hanya berada di dalam daun untuk berlindung. Mereka hanya bergela-gelo saja. Namun tubuhnya justru gemuk, dan akan aman jika terus berada didalam perlindungannya.

Maknanya adalah bahwa orang yang polanya seperti hidupnya Kepompong, maka mereka termasuk sudah meningkat kepada tarat berpuasa, ngeposne roso. Hidupnya merasa ikhlas dan dalam kesehariannya selalu ingat kepa Yang Maha Kuasa untuk selalu berdzikir. Mereka hanya makan seadanya yang sudah dianugrahkan kepadanya dan merasa cukup, buktinya mereka justru gemuk. Karena pada dasarnya rejeki mereka sudah ada yang mengatur. Mereka tidak akan bersusah payah untuk mencari makanan lagi, karena kalau mereka keluar dari sarangnya, maka resikonya akan dimakan burung atau ayam. Artinya jika mereka masih mencari tambahan makanan atau tidak mampu menahan hawa nafsu, maka akhirnya hidupnya tidak akan selamat. Jika difitnah orang, diolok-olok mereka diam dan tidak merasa sakit apalagi dendam. Hidupnya penuh ketawadhuan dan selalu bertawakkal kepada Allah swt.

ketiga adalah model hidupnya Kupu-Kupu. Kalau Kepompong sudah menjadi kupu-kupu, maka mereka akan berubah menjadi bentuk yang sangat indah. Baik anak-anak maupun orang dewasa pun banyak yang suka melihat keindahan Kupu-kupu. Kupu-kupu pun hanya mau makanan dari sari-sari bunga saja.

maksudnya adalah bahwa orang yang sudah dalam tingkatan kupu-kupu, maka hidupnya termasuk dalam golongan “Kasuwargan” Hidupnya sudah termasuk golongan-golongan surga. Mereka hanya mau makanan dari sari-sari bunga. Mereka hanya mau makanan yang halal dan berkualitas baik. Hidupnya menyenangkan orang, dari berbagai kalangan manapun. Bentuknya sangat indah dan menyenagkan orang yang memandang. Maksudnya tindak-tanduknya, perilakunya sangat bermanfaat bagi orang lain, sikapnya sangat menawan pantas menjadi tauladan ummat di dunia ini. Perkataannya menyejukkan, nasehatnya sangat meneduhkan hati. Pikiran dan cara pandangnya sangat jauh ke depan. Orang lain tidak ada yang merasa benci dan dendam kepadanya, karena kalau kita berada di dekatnya kita akan merasa nyaman, menyenangkan dan memberi rasa pengayoman.

Jadi, anda renungkan secara mendalam dan anda berhak memilih dan mengamalkannya tentunya dengan ikhlas dan beradabiyah. Jadi, pilih hidupnya Ulat, Kepompong atau Kupu-kupu itu semua terserah keinginan anda. Jika anda masih sibuk mengejar dunia maka anda berarti masih ulat. Jika anda mampu menguasai diri atau mengendalikan diri berarti anda termasuk Kepompong, dan jika anda bermanfaat bagi alam semesta maka anda layak menyandang predikat Kupu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: