MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Pergeseran Nilai

Posted by marsaja pada Desember 23, 2008

Kenapa bangsa kita akhir-akhir ini selalu banyak dirundung peristiwa-peristiwa yang memprihatinkan. Kereta Api banyak yang anjlok dari relnya, Pesawat Terbang banyak yang jatuh dari udara, Kapal laut banyak yang tenggelam ke samudra, Kendaraan darat banyak sekali yang bertabrakan, sehingga dari semua peristiwa itu mengakibatkan banyak terjadinya korban harta dan nyawa. Apakah yang bisa kita ambil hikamhnya dari setiap peristiwa itu, inilah yang seharusnya menjadi perenungan kita secara lebih mendalam. Apakah semua kecelakaan itu hanya karena human error atau  kesalahan teknik semata saja. Apakah kita hanya melihatnya dari satu sisi saja. Bukankah seharusnya kita mulai berpikir lebih mendalam kenapa di negara kita, juga di dunia banyak terjadi peristiwa-peristiwa semacam itu? Kalau kami mencoba untuk berpikir dan merasakan terhadap kejadian ini, karena bangsa kita juga bangsa di dunia khususnya masyarakat kita sudah terjadi “Pergeseran Nilai” Jadi marilah kita rasakan bersama-sama agar kita dapat berpikir lebih jernih untuk menyikapi setiap kejadian di sekitar kita.Jika kita memperhatikan pada saat dahulu ketika norma-norma masih dijadikan pegangan oleh masyarakat kita, pada dasarnya kehidupan masyarakat cukup aman, tentram, dan nyaman. Pada saat masyarakat Indonesia khususnya masih berpedoman terhadap norma, baik norma agama, kesusilaan, kesopanan, maupun hukum posistif yang berlaku, kami melihat kehidupan masyarakatnya rukun dan tidak banyak masalah atau kejadian tragis yang menimpa.

Contoh dalam hal berbicara saja. Dulu masih banyak kita jumpai orang berbicara dengan sopan dan paham etika. Jika berbicara dengan orang yang tua, dengan guru/ustadz atau para sepuh, maka kita akan berbicara dengan sopan dan penuh adabiyah, penuh hormat dan sangat menghargai apa yang disampaikan kepada kita. Namun sekarang yang terjadi adalah malah sebaliknya. Anak-anak muda berbicara semaunya saja tanpa mengindahkan aturan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Orang-orang sekarang sudah banyak yang meninggalkan etika berbicara yang pantas. Dengan dalih gaul, mereka lupa bahwa bahasa yang disampaikan justru tidak mencerminkan budaya sopan santun.

Dalam hal berpakaian. Kita merasa prihatin sekali, atas nama mode banyak masyarakat kita yang terpengaruh, terlalu gampang nurut dan meniru budaya yang sebenarnya tidak pantas kita terapkan disini. Dulu masyarakat kita benar-benar menghargai diri pribadi dengan berpakaian yang pantas dan menutup aurot. Aurot sungguh-sungguh dijaga jangan sampai terlihat oleh orang lain. Namun sekarang banyak masyarakat kita yang lupa terhadap aturan itu. Banyak yang berpakaian namun masih kelihatan aurotnya. Banyak yang merasa berpakaian namun masih menampakkan kemaluaanya. Mereka tidak sadar kalau justru malah memperlihatkan bentuk tubuhnya, mengundang birahi. Atas nama seni bahkan mereka mengumbar aurot dengan sesuka hati. Jika diperingatkan justru mereka mengatakan bahwa kita masih berbudaya kolot, mereka yang modis dan gaul, naudzubillah min dzalik.

Dalam hal gaya hidup. Banyak kejadian yang justru memperlihatkan banyak yang kehilangan identias kepribadiannya. Banyak yang tidak memahami jati dirinya. Mereka bersikap seperti budaya glamour, hedonisme, materialistis, individualis,  egoisentris, suka foya-foya, hanya mengejar dunia saja. Itu adalah cerminan-cerminan yang seharusnya menyadarkan kita semua bahwa budaya seperti itu justru sangat jauh bergeser dari nilai-nilai asli bangsa Indonesia. Mereka berdalih itu adalah gaya hidup masyarakat yang maju dan modern. Masyarakat yang katanya pandai dan terus berkembang, sehingga ketiaka kita memperingatkan anak-anak kita, saudara atau tetangga kita, justru kita yang dibilang jadul atau kolot dan tidak mengerti perubahan jaman.

Dari segi bersikap. Banyak sudah yang lupa terhadap budaya-budaya luhur kita. budaya saling tolong menolong hanya berlaku untuk keluarga dan golongannya saja. Budaya menghargai perbedaan pendapat mulai sirna. Rasa saling menghormati sudah mulai pudar. Tenggang rasa, tepa slira dan empati sudah seperti barang kuno. Masyarakat cenderung hidup sendiri dengan aturan sendiri. Untuk mencapai tujuannya banyak yang menghalalkan segala cara. Cari yang haram saja sulit apalagi yang halal adalah semboyan yang terus dikumandangkan dan dijadikan pembenar terhadap setiap langkah yang dilakukan. Kita menjadi semakin sulit melihat siapa yang bertindak benar dan salah.

Dari contoh-contoh fakat yang terlihat, sudah cukup jelas bahwa masyarakat kita kurang atau tidak mampu menyaring setiap budaya yang masuk ke wilayah kita melalu berbagai media baik TV, media massa, Internet, HP dan media lain. Banyak masyarakat kita yang salah dalam memahami setiap  nilai-nilai yang  terus berkembang. Sudah punya pegangan atau pedoman baik norma agama mauapun yang lain, namun mereka malu untuk mengakui dan menerapkannya. Banyak masyarakat yang takut untuk dikatakan kurang gaul, kurang modern, kurang modis, dsb. Masyarakat kita cenderung ikut-ikutan saja sudah mulai bergeser dari prinsip-prinsip nilai positif kita. Mereka hanya nurut saja tanpa disaring dan diolah dulu. Akhirnya akibat pergeseran nilai-nilai itu justru melahirkan sikap-sikap yang negatif dan jauh dari tata krama.

Jadi, mari kita mengaca pada diri kita. Kita termasuk yang mengalami pergeseran nilai atau tetap tegak berpedoman pada nilai-nilai yang berlaku pada masyarakat kita, yang merupakan ciri khas bangsa kita dan menjadikan kita termasuk bangsa yang luhur karena perilaku masyarakatnya memang posistif. Jika anda mulai bergeser dari nilai-nilai itu maka sebaiknya anda segera menyadarinya dan memperbaikinya. Jika anda masih berpegang pada nilai-nilai maka taburkan itu pada sekitar anda, lingkungan anda agar mereka kembali kepada nilai-nilai yang positif. Namun jika mereka menolak atas saran anda, maka anda jangan marah tapi bersabarlah, karena pada dasarnya siapa yang menanam akan panen. Menanam kebaikan akan panen kebaikan pula dan sebaliknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: