MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Kualitas Serba Oplosan

Posted by marsaja pada Desember 22, 2008

Mungkin masyarakat sekarang ini akan bertanya-tanya, kenapa banyak sekali barang yang dijual ke pasaran ternyata berkualitas “Oplosan”. Seperti beras juga dioplos dengan beras menir, pupuk bersubsidi juga dioplos, minyak goreng juga dioplos dengan yang sudah terpakai. Makanan dan jajanan juga dioplos dengan makanan yang sudah kadaluwarsa. Barang-barang kosmetik juga dioplos bahkan ada yang imitasi. Uang pun juga dioplos dengan uang palsu. Barang yang diimporpun juga kualitas oplosan. Elpiji juga dioplos, sehingga isinya kurang standar. Kok Bisa Ya? Sehingga akibat yang ditimbulkan dari barang kualitas oplosan, maka sangat membingungkan masyarakat kita? Masyarakat menjadi ragu-ragu, bimbang dan mungkin ada yang apatis. Kemudian kalau kita berpikir lebih dalam lagi, sebenarnya itu cerminan apa?Mungkin kita yang melihat atau mendengar berita di media TV atau media masa akan merasa prihatin dengan kondisi mental bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia yang pernah terkenal dengan sebutan negara agraris, justru sekarang ini harus merasakan barang yang berkualitas oplosan. Ada sebuah tempat penggilingan padi dan disinyalir sebagai tempat untuk mengoplos beras, namun mereka menolak mengakuinya. Memang kita tidak boleh berburuk sangka, namun masyarakat sekarang ini juga pandai menilai fakta. Terlepas apakah si pengoplos barang apapun mau mengakui apa tidak, tapi yang jelas di pasaran banyak ditemukan barang berkulitas oplosan. Sekali lagi masyarakatlah yang akan jadi korban dan dikorbankan.

Bagaimana peran pemerintah selaku yang mempunyai otoritas untuk meneritibkan ini semua. Apa yang bisa diupayakan pemerintah barang-barang oplosan segera diatasi dan dicegah agar tidak terjadi lagi. Kalau pemerintah tidak mampu menindak tegas pelakunya, siapa lagi yang akan menertibkan mereka. Oleh karena itu barang oplosan harus segera diselesaikan agar masyarakat juga menikmati haknya sebagai konsumen, karena mereka toh juga membeli barang dengan harga yang standar.

Nah kalau kita bercermin dari keadaan sekarang ini yang serba oplosan, mungkinkah kualitas bangsa Indonesia sekarang ini memang sudah banyak yang bermental oplosan. Luarnya kelihatan baik, tapi dalamnya jelek. Penampilannya meyakinkan, namun kepribadiannya memalukan. Sudah cukup banyak pejabat yang seharusnya melayani dan menjadi tauladan masyarakat malah berbuat maksiat dan melanggar hukum. Politisi yang seharusnya menyampaikan aspirasi rakyat malah sibuk menaikan gajinya saja.

Gambaranya sekarang ini adalah seolah-olah antara ibadah dengan perilaku itu terpisahkan. Yang muncul ke permukaan adalah ibadahnya jalan, tapi maksiatnya juga tidak ketinggalan. Yang halal mau, yang harampun tidak menolak. yang baik menerima, yang jelekpun dipelihara. Sehingga yang terjadi adalah antara yang baik dan yang buruk di campur. Dari hal ini, maka yang terlihat perilaku masyarakat yang gemar mengoplos adalah menjadi pribadi ganda, akhirnya menimbulkan kebingungan yang akhirnya bisa mengarah stress.

Efek yang ditimbulkan jelas akan merugikan masyarakat. Masyarakat kecil yang jadi korban permainan ini. Mereka akan semakin menderita dan tidak ada pilihan lain. karena untuk mendapatkan barang yang asli bukan oplosan ternyata sangat sulit. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu mebedakannya. Berarti jika mereka (pengoplos)  sebenarnya paham akan merugikan orang lain dan negara tentu ini adalah unsur kesengajaan. Dan ini mencerminkan bahwa kepribadiannya  adalah sudah tidak  menggunakan  perikemanusiaan namun sudah perikebinatangan.

Mereka sudah terang-terangan merusak negerinya sendiri. Seperti halnya mereka sudah merusak dirinya sendiri, tanpa kurang disadarinya. Mereka mungkin akan berharap untung banyak dan masyarakat akan rugi. Namun, mereka tidak sadar bahwa dunia ini ada Yang Maha Pengatur. Di dunia ini tidak bisa hanya diandalkan hitung-hitungan matematika saja, namun ada kekuasaan Yang Maha Kuasa. Jadi  kami menghimbau kepada para pengoplos untuk segera insyaf dan segera bertobat, karena perbuatan mereka jelas rugi dan merugikan, baik dari segi sosial kemasyarakatan, hukum, maupun agama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: