MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Falsafah Gadung

Posted by marsaja pada Desember 22, 2008

Buah Gadung adalah termasuk salah satu buah asli negeri ini, dikategorikan sebagai jenis umbi-umbian. Buahnya termasuk jenis “Pala kependem” artinya buahnya berada di dalam tenah, seperti ketela, bengkoang dan umbi-umbian lain. Ada yang unik dari buah ini, yaitu sebelum buah bisa dimakan harus melalui proses yang cukup rumit agar siap untuk dimakan. Oleh karena itu buah ini cukup menarik sekali kita perhatikan, terlebih jika mengetahui filosofinya. Adapun falsafahnya adalah sebagai berikut.Orang tua dulu bilang jika kita bisa mengolah buah Gadung, maka hasilnya akan enak, gurih dan renyah. Namun jika kita tidak bisa mengolahnya maka kalau dimakan maka biasanya akan “Mendem Gadung” atau mabuk akibat makan Gadung. Lalu agar enak rasanya gimana. Kurang lebih prosesnya adalah buah Gadung dikuliti dulu, diiris-iris kecil, dijemur dan diberi abu sampai kering, kemudian dibersihkan, selanjutnya bisa dimasak dengan dicampur bumbu penyedap rasa.

Falsafa buah Gadung sangat tepat sekali jika kita kaitkan dengan kondisi sosial bangsa Indonesia sekarang ini, karena kami merasa banyak masyarakat yang istilahnya sudah “Mendem Gadung”. Dalam melihat fakta atau persoalan yang muncul, banyak yang kurang sabar dalam menyikapinya. Tanpa berpikir ke depan mereka kadang terjerumus kepada hal-hal yang merugikan, baik diri sendiri atau kepada orang lain. Setiap fakta atau persoalan kadang disikapi dengan gegabah dan tidak dipikirkan untung ruginya. Mereka kurang bisa untuk memikirkan lagi dampak baik buruknya, sehingga hasilnya dalam memandang setiap fakta atau persoalan justru menimbulkan masalah baru, masalah malah semakin rumit dan tidak terselesaikan, bahkan mereka kurang mengerti ternyata mereka adalah bagian dari masalah itu sendiri.

Yang paling sering dan biasanya menjadikan masyarakat kita mendem gadung adalah dalam menyikapi setiap Informasi yang ada. Ketika ada informasi banyak yang langsung menyikapinya tanpa di olah dulu sebelum kita memutuskan apakah informasi tadi bermanfaat atau malah merugikan. Kadang hanya karena informasi banyak yang rumah tangganya berantakan, karena percaya dulu sehingga bisa menimbulkan saling curiga, saling fitnah, sehingga merugikan semuanya.

Adalagi yang lebih memprihatinkan adalah banyak yang mendem  Gadung karena keliru dalam memahami agamanya. Padahal sudah sangat jelas bahwa di dalam agama justru diajarkan tata krama atau adabiyah. Namun yang terjadi sekarang ini, justru atas nama agama mereka malah menggunakan atribut agama dan simbol-simbol agama untuk merusak fasilitas negara dan agama, menangani masalah dengan jalan instan yaitu dengan kekerasan. Banyak yang berkata ini sesuai kitab suci agamanya, namun sikap yang dicerminkan justru kontradiksi terhadap ajaran agama.

Banyak yang berlindung atas nama agama bahkan yang sangat memprihatinkan atas nama Tuhan. Mereka berlagak atas nama pembela agama berbuat semaunya, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Berlindung dibalik agama agar perbuatannya dianggap benar. Menghina kelompok lain tanpa melihat kelompoknya sendiri pribadinya seperti apa. Salah dalam menafsirkan ajaran suci, firman Allah swt. Kalamullah dianggap biasa padahal kalamullah bersifat “Maha”.

Dari semua yang dilakukan kami melihatnya karena masyarakat sekarang ini dalam bersikap biasanya langsung tanpa dipikirkan secara masak-masak, tanpa dipikirkan untung dan ruginya, bermanfaat apa tidak, dan seterusnya. Padahal agama kita mengajarkan, sebagai orang yang beriman hendaklah selalu berpikir positif, husnudlon, berbaik sangka, jangan malah burung sangka. Kalau ada informasi hendaklah disaring, diolah dan diproses dulu sebelum kita lahirkan sebagai suatu sikap resmi, baik sebagai pribadi maupun lembaga. Setiap melakukan apapun hendaklah diresapi dulu, direnungkan, dimusyawarahkan dengan orang lain yang lebih paham terhadap masalah itu. Sehingga kita merupakan orang – orang yang termasuk waspada dan teliti, bukan orang-orang yang termasuk kategori “Mendem Gadung”.

Satu Tanggapan to “Falsafah Gadung”

  1. nalimen said

    ternyata saya pernah mendem gadung dalam hal cinta, hahahaha…seperti lagu kendang kempul Banyuwangi, ..mendem gadung, bakalan wurung…bgitu liriknya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: