MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Refleksi dari “Kayu Bakar-Mitan-Gas”

Posted by marsaja pada Desember 18, 2008

Ada sesuatu yang membuat kami merasa harus “mikir-mikir” kenapa kehidupan masyarakat Indonesia kok begitu unik. Kehidupan sosial masyarakat mulai dahulu sampai sekarang ternyata bisa kita nilai dari berbagai sudut pandang. Disini kami mencoba untuk merasakan (ngrasakne) dari sudut pandang yang kami pahami dari Refleksi “Kayu Bakar-Minyak Tanah-Gas) yang penjabarannya kurang lebih seperti ini.Pertama dari refleksi kayu bakar adalah sebagai berikut ibaratnya ketika pada masa kehidupan masih menggunakan sarana kayu bakar untuk memasak apapun, kami melihat kehidupan masyarakatnya mencerminkan rasa syukur kepada yang menghidupi kita. Coba anda perhatikan, ketika orang sedang memasak, maka biasanya masakannya juga akan masak (matang) bersamaan api dari kayu bakar juga habis. Biasanya yang dimasak juga secukupnya hanya berupa makanan pokok dengan menu yang standar saja, menunya pokok atau satu saja. Artinya bila dilihat dari sifat dan sikap masyarakatnya mencerminkan budaya ala kayu bakar yaitu bersyukur, qona’ah, nerimo, tidak neko-neko, merasa cukup dan hidup yang sewajarnya. Mereka termasuk orang yang bersikap sewajarnya dan masih menjaga adabiyah.

Kedua adalah refleksi dari minyak tanah. Ketika orang memasak dengan mitan, maka biasanya menunya sudah mulai variatif. Mudah digunakan untuk memasak apapun juga. Berkaca dari masyarakatnya memperlihatkan kehidupannya sudah mulai bertujuan yang macam-macam, menunya bervariatif, artinya seleranya cukup banyak. Masyarakatnya sudah mengarah kepada persaingan hidup, seperti kekayaan, pangkat, jabatan, kepandaian, materi, dll. Masyarakat sudah mulai jarang bersyukur karena cenderung menginginkan lebih variasi, satu menu kurang puas, bawaannya bisa mencoba beberapa menu. Artinya dilihat dari keinginan dan kemauannya mulai banyak, jarang puas, jarang nerimo, dll.

Ketiga refleksi dari gas adalah menggambarkan bahwa kalau masak menggunakan gas kita bisa memasak apa saja dari praktis, sehingga kecenderungan menunya semakin banyak, gampang memasak pada waktu apapun. istilahnya gampang nge”GAS”. Orang kalau kesenangannya suka meng”GAS” artinya selalu ingin naik dan terus naik, terus keatas atau terus kencang. Gambarannya adalah pribadi manusia yang kecenderungannya selalu kurang dan tidak pernah berhenti (tidak pernah bersyukur) hidupnya gas-gasan, selalu bersaing dalam hal materi, kekayaan, pangkat, jabatan dan staus sosial masyarakat. Dan ingat ada satu lagi yang penting, kalau menggunakan GASnya tidak hati-hati maka gampang meledak dan menimbulkan korban harta dan jiwa. Artinya kalau sifat dan sikap masyarakat selalu kurang maka kalau tidak hati-hati dan waspada maka tunggu saja ledakannya.

Mari kita lihat kehidupan sosial masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Kecenderungannya adalah sifat gas yang digunakan bukan sifat kayu bakar. Sehingga yang dirasakan adalah dimana-mana selalu terjadi kasus ledakan gas. Maksudnya munculnya kekerasan, pertentangan, percekcokan, penggusuran. Munculnya bencana alam yang terus menerus baik dari unsur tanah (longsor), api (kebakaran), air (banjir/tsunami), angin (puting beliung) ini menandakan bahwa sifat yang digunakan masih bersifat GAS. Mari kita renungkan tulisan ini, dirasakan dengan sedalam-dalamnya, orang bijak bilang apa yang sedang terjadi di fakta hidup ini, jika anda mampu membaca isyarat alam maka itulah cerminan kepribadian orang atau bangsa yang sesungguhnya. Ayooo! sekarang pilih kayu bakar, mitan atau gas?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: