MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Pelajaran dari Kehidupan Ayam

Posted by marsaja pada Desember 11, 2008

Ada beberapa konsep hidup yang bisa kita ambil dari kehidupan makhluk lain .  Salah satu yang coba kami amati dan belajar untuk meng-IQRO adalah pelajaran makna hidup dari kehidupan Ayam. Ada hal yang menarik yang bisa kita ambil dari  perilaku kehidupan sehari-hari. Sehingga dari pelajaran tersebut ddiharapkan mampu menjadikan inspirasi bagi kita bagaimana mengelola sebuah kehidupan keluarga yang harmonis. Adapun pelajaran tersebut adalah:Pertama, Kaitannya dengan konsep mendidik anak. Ada sebuah realitas yang menarik ketika si Induk Ayam merawat anak-anaknya. Ketika pada usia kecil , Si Induk Ayam dengan kesabaran dan kewaspadaan tinggi benar-benar menjaga kelangsungan hidup anaknya. Ketika ada yang mencoba mengganggu anak-anaknya, si Induk Ayam tidak segan-segan untuk melabraknya dan mengusir si pengganggu. Maknanya, sebagai orang tua hendaknya sabar dan tetap waspada terhadap gangguan yang muncul. Orang tua harus tetap cermat dan melindungi anak-anaknya dari berbagai macam gangguan utamanya yang mengancam keselamatan anak-anaknya. kalau perlu orang tua harus tegas untuk menindak tegas dan mengusir para pengganggu, sehingga para pengganggu tidak berani untuk mendekat lagi.

Kedua, Si Induk Ayam dengan sabar mencarikan makanan untuk anak-anaknya. Tidak lupa ketika usia semakin bertambah, si Induk Ayam juga mengajari bagaimana cara mendapatkan makanan dan memilih makanan yang layak untuk dikonsumsi. Ketika usia sudah cukup mampu untuk mandiri, maka si Induk Ayam memerintahkan anak-anaknya untuk mandiri dengan “Ceker”. Maksudnya adalah sebagai orang tua sudah merupakan kewajiban untuk menafkahi anak-anaknya, sehingga mereka bisa tumbuh dan berkembang. Anak-anak diberi makanan yang prosesnya halal dan layak untuk dikonsumsi, seperti jenis dan gizinya. Anak-anak juga diajari untuk memilih makanan yang manfaatnya bagus untuk tubuh dan tentunya yang halal hukumnya. Ketika usia semakin beranjak orang tua seharusnya juga melatih anak agar mandiri dengan mengajari bagaimana untuk menghasilkan makanan yaitu dengan “Ceker” atau bekerja sendiri.

Ketiga, Kaitannya dengan manajemen waktu. Si Induk Ayam sangat jeli dalam memanajemen waktu untuk  anak-anaknya. Ketika pagi hari sampai siang biasanya mereka diajak untuk belajar hidup di dunia ini, untuk mencari pengalaman hidup sebanyak-banyaknya. Ketika waktu sudah mulai senja, maka si Induk Ayam mengajak anak-anaknya pulang dan istirahat bersama Induk Ayam. Mereka tidak boleh keluar lagi, dan berlindung dibawah tubuh si Induk Ayam. Maknanya adalah sebagai orang tua hendaklah memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk belajar diwaktu siang hari, berikan kesempatan kepada mereka untuk mengenyam pengalaman hidup sebanyak-banyaknya agar ketika kelak mereka dewasa, mereka menjadi paham dan mengerti. Boleh dengan belajar di sekolah, madrasah, atau lingkungannya senyampang lingkungan tersebut positif untuk memperbanyak pengalaman hidup.

Sedangkan kalau sudah sore hari, hendaknya orang tua dengan tegas mengajak anak-anaknya dirumah, jangan sampai memberi kesempatan anak-anaknya keluar rumah pada malam hari. Orang tua bisa mengadakan pembelajaran dengan suasana rumah yang harmonis, sehingga anak-anak dapat memahami dari konsep hidup yang diajarkan orang tuanya. Orang tua mengajak anak untuk merefleksikan dan memaknai pengalaman hidup yang diperoleh pada saat siang hari untuk kemudia dirumuskan menjadi sebuah sikap yang positif. Usahakan anak merasa betah dan nyaman di rumah, sehingga orang tua dapat menanamkan pelajaran hidup kepada anak-anaknya. Orang tua dapat menularkan pengalaman hidupnya. Anda bisa dengan diskusi, jagongan, atau kalau perlu cerita/dongeng. Prinsipnya anak siap dan bisa menerima perkataan anda.

Coba perhatikan ketika anak-anak di beri kebebasan keluar rumah,  berkeliaran di malam hari, sudah barang tentu mereka akan terkena dampak pergaulan bebas yang sangat berbahaya bagi kepribadianya. Banyak anak yang berperilaku negatif karena dampak pergaulan bebas yang anti tata krama dan kesopanan. Mereka tentu akan mencari tempat-tempat nongkrong untuk menghabiskan waktu malamnya. Nah, ketika mereka nongkrong itulah biasanya proses tranfer budaya negatif akan muncul, seperti merokok, minum minuman keras, dan narkoba. Atau mereka  hanya menghabiskan waktunya di rental game-game center, sehingga tidak terasa mereka akan larut dalam permainan tersebut. Dampaknya mereka malas untuk belajar, siangnya  mengantuk, semangat belajarnya turun, dll.

Keempat, Ketika pada waktu sepertiga malam yang terakhir antara jam 12 malam sampai jam 3 pagi ayam selalu berkokok. Ini menggambarkan bahwa mereka tidak hanya larut dalam tidur saja, tetapi mereka juga menyempatkan waktunya untuk beribadah pada Yang Maha Kuasa. Istilah dalam bahasa Jawa itu pada suasana “sidem kayun” sunyi senyap, waktu yang paling tepat bermunajat kepada Illahi Robbi, waktu yang paling tepat untuk beribadah pada qiyamul lain, seperti sholat-sholat sunah atau memperbanyakm dzikir. Sehingga dengan perilaku yang seperti itu kita termasuk hamba yang benar-benar tunduk, taat dan pandai bersyukur pada Allah swt. Ingat, kewajiban setiap makhluk adalah selalu beribadah kepada-Nya. Seperti yang dilakukuan oleh makhluk-makhluk lain, termasuk Ayam.

Begitulah wahai para pembaca yang budiman, pelajaran yang bisa kita ambil dari kehidupan ayam. Sehingga dengan mempelajari ini diharapkan menumbuhkan kepercayaan kita, melahirkan ide daninspirasi bagi kita, dan menambah semangat kita untuk mengarungi hidup dan senantiasa beribadah pada Yang Maha Besar. Amiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: