MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Mencegah Perilaku Dusta Anak

Posted by marsaja pada Desember 10, 2008

Sikap jujur atau benar merupakan sikap moral yang sangat tinggi nilainya dalam Islam. Jujur atau shiddiq harus menjadi sifat dan sikap hidup dalam keseharian. Kalau tidak, maka yang akan tampil adalah sikap dan sifat yang sebaliknya,yaitu dusta dan khianat. Oleh karena itu sifat jujur dalam perkataan merupakan sifat yang harus diupayakan dan dilatih sejak dini, karena sifat tersebut dalam pribadi seseorang melalui proses belajar dari lingkungan. Dalam hal ini, ada beberapa upaya yang harus dilakukan untuk mencegah seorang anak dari berdusta, antara lain: Pertama, Tetapkan standar yang sama tentang kejujuran dan keteladanan. Apabila kita ingin menanamkan sifat jujur/benar/tidak dusta terhadap dirinya, orang lain, maupun kita, konsekuensinya kita harus memberikan pengertian bahwa dusta itu adalah sifat buruk yang tidak boleh dilakukan dan karenanya dimurkai Allah swt. Dan yang penting, tentunya kita harus memberikan teladan atau contoh yang nyata pada anak dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, jangan sekali-kali menjanjikan sesuatu pada anak apabila kita tidak dapat atau tidak mungkin memenuhinya, yang berarti kita mengingkari janji kepada anak.

Kedua, Adakan diskusi keluarga. Komunikasi yang baik antara orang tua/pendidik dan anak melalui dialog, cerita, maupun diskusi tentang pentingnya kejujuran serta bahaya yang ditimbulkan oleh dusta, akan membantu anak untuk memahami pentingnya kejujuran. Anda bisa menceritakan kisah taubatnya para penyamun ketika berjumpa dengan syaikh Abdul Qadir Jaelany.

Ketiga, Jangan ciptakan suasana yang “menggoda” anak untuk berdusta. Misalnya dengan menuduh atau memaksa anak untuk mengakui hal yang menyakitkan atau memalukannya. Contohnya pertanyaan, “Bagaimana hasil ulangannya? Jelek ya?”

Keempat, Sevaiknya kumpulkan dulu fakta dari sumber lain, baru bertindak. MIsalnya, “Kata ustadzah hasil ulanganmu turun, ibu jadi ikut sedih. Kalau ada yang sulit, jangan takut bertanya kepada ustadzah atau ibu di rumah.”

Kelima, Hindari menghukum secara berlebihan. Hal ini justru mendorong anak berdusta untuk menghindari hukuman dan jatuhnya “harga diri” anak. (Sumber : Majalah Al Mu’tashim-Rubrik “Auladi”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: