MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Mencermati Budaya Pulsa

Posted by marsaja pada November 30, 2008

Ada sebuah fakta yang cukup menarik, yang patut kita cermati belakangan ini yaitu tentang marknya budaya pulsa. Sebelumnya marilah kita melihat ke belakang berkaitan dengan gaya hidup orang Indonesia pada umumnya, khusunya kaitanya dengan budaya berbicara. Kenapa kita cermati, karena ini kaitanya dengan moralitas suatu bangsa. Bangsa Indonesia terkenal budaya sopan santun, beretika, ramah, dalam berbicara umumnya dilakukan dengan tutur kata yang sopan dan menghargai dengan yang diajak bicara. Termasuk membiasakan bersilaturahmi ke teman atau sanak saudara untuk mempererat persaudaraan sesama orang Indonesia. Justru kebiasaan inilah yang akhirnya Indonesia dipandang sebagai salah satu negara dengan sebutan budaya timur.

Coba kita lihat pada gaya hidup anak muda Indonesia pada umumnya, mayoritas sikap dan perilakunya sudah mengarah kebarat-baratan (berlawanan dengan budaya timur). Pada kebiasaan berbicara khususnya yang menggunakan HP, maka inilah yang patut kita cermati bersama. Pertama, akibat kebiasaan menghabiskan waktunya untuk ber-HP ria maka kebutuhan pulsa akan meningkat drastis. Tentu operator Telepon Selular yang akan diuntungkan dari kebiasaan pencat-pencet HP. Dari kebiasaan itu, kami melihat budaya silaturahmi orang Indonesia sudah mulai luntur. Kebiasaan berbicara langsung dengan orang juga mulai berkurang, karena mereka umumnya lebih suka berbicara via HP. Padahal kita tidak akan mengetahui bagaimana sikap ketika berbicara dengan HP, apakah sopan atau tidak. Coba bayangkan ketika anda diajak berbicara lewat HP tapi yang mengajak bicara anda sedang di WC.

Anda juga bisa memperhatikan ketika anak-anak yang sedang sekolah untuk menuntut ilmu, akan tetapi malah sibuk berlomba-lomba memiliki HP baru dan memainkan HP bahkan ketika pelajaran sedang berlangsung. Sehingga dari perilaku seperti ini tidak sedikit para praktisi pendidikan khususnya para guru kadang sulit untuk menertibkan mereka. Mereka mengalami kesulitan untuk mengarahkan agar konsentrasi belajar lebih meningkat, karena yang sedang butuh belajar adalah para murid, tapi mereka malah sibuk ber-HP-ria.

Dari segi ekonomi, kebiasaan ini juga patut kita cermati bersama. Uang yang seharusnya untuk kebutuhan belajar, seperti SPP, buku, alat tulis, dll, malah habis digunakan untuk membeli pulsa. Uang saku banyak yang akhirnya dihabiskan untuk beli pulsa.

Dijalan-jalan mereka sudah tidak memperhatikan keselamatan berkendara lagi, tidak sedikit yang kecelakaan karena mereka sedang ber-HP-ria. Padahala seharusnya mereka bisa berhenti dulu, tidak malah terus melaju sehingga kurang memperhatikan peraturan lalu lintas, benar tidak pak Polisi?

Dari pencermatan yang anda lakukan? hasilnya bagaimana? Dulu sebelum ada HP nyatanya kita bisa berbicara dengan enak, penuh canda tawa, penuh rasa hormat, ada nuansa kebersamaan, saling menghargai lawa bicara kita. Kita menjadi rajin berkunjung kesana kemari, sehingga bisa semakin menambah persaudaraan kita. Kita akhirnya menjadi lebih rajin. Dengan HP memang memudahkan kita berbicara dengan teman atau saudara yang jauh tempatnya, biaya lebih murah dan hemat. Namun yang patut dicermati disini adalah pola kebiasaan berbiacara yang tidak berguna, yang niatnya hanya untuk menghabiskan pulsa saja, yang hanya sok menyibukkan diri dengan HP-nya. Sehingga mungkin diantara kita sudah mulai melupakan pola hidup yang sesuai budaya timur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: