MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Budaya Pulsa

Posted by marsaja pada November 30, 2008

Jikalau kita melihat fenomena perilaku anak-anak muda di negeri ini, budaya di negeri ini bertambah satu lagi yaitu yang kami namai dengan istilah “BUDAYA PULSA“. Di berbagai tempat, sekarang ini kita bisa menjumpai anak-anak muda sibuk beraktivitas dengan HP-nya. Ada yang sibuk telepon, sms, motret, dengarkan lagu, main, game, internet via HP, dll. Dari semua aktivitas yang dilakukan semua itu mereka hanya menggunakan sebuah alat yang namanya HP. Padahal supaya HP bisa terus dipakai maka harus tetap diisi “pulsa”. Sehingga apabila kita menggunakan HP berarti pulsa harus tetap terisi.

Kenapa kami sebut sebagai budaya? Karena mayoritas anak muda Indonesia sekarang ini sudah menjadikan budaya pulsa sebagai gaya hidup mereka. Mereka seolah hanya disibukkan oleh HP semata. Di Mall, halte, cafe atau tempat nongkrong lain mereka asyik dengan HP-nya. Ketika akan berangkat ke sekolah naik angkot atau bis mereka juga sibuk dengan HP. Bahkan ketika di sekolah khususnya di kelas ketika kegiatan pembelajaran sedang berlangsung mereka juga masih sempat mengfungsikan HP-nya.

Media elektronik juga tidak kalah gencarnya menyelenggarakan tayangan kegiatan yang menggunakan fasilitas HP khususnya SMS. Mereka bahkan berkompetisi membuat program menarik agar mendapatkan sebanyak-banyaknya sms yang masuk dengan mengiming-imingi hadiah uang ratusan juta rupiah. Karena inigin mendapatkan keuntungan melimpah maka acara jenis ini justru semakin meningkat intensitasnya. Sehingga dengan layanan sms tersebut ternyata malah semakin menguntungkan pihak operator dan jasa yang memproduksi acara tersebut dan tentunya media TV sebagai penyelenggara acara tersebut. Banyak yang sudah terpedaya oleh tayangan tersebut, bagi peminat acara ini mereka rela untuk terus mengirimkan sms kepada media TV yang menyelenggarakan, padahal dengan sering mengirim sms tentu pulsanya harus tetap tersedia. Dan sedikit demi sedikit kebanyakan mereka tidak menyadari bahwa mereka sudah tergantung dengan acara tersebut serta kurang menyadari bahwa pulsanya dijadikan objek oleh mereka.

Ya, bagi anak muda yang mempunyai kebiasaan pencat-pencet HP, maka mereka harus menyediakan pulsa secara terus menerus. KIta mungkin kurang menyadari dengan semakin mudahnya ketersediaan pulsa oleh para operator dan semakin murahnya harga pulsa dengan berbagai bonusnya. Yang awalnya terasa murah namun lama kelamaan karena kita sering beli dan memakai maka akhirnya jika terakumulasi hasilnya juga banyak dan mahal. Kita sudah terbius dengan berbagai iklan operator yang menawarkan kemurahan dan kemudahan berbicara atau ber-SMS.

Yang memprihatinkan adalah perilaku anak muda, terutama anak sekolah, buadaya pulsa seperti sudah menyihir mereka. Mereka dengan sangat mudah dan menurut terus menggunakan HP-nya. Tidak peduli lagi HP-nya digunakan untuk tujuan penting atau sekedar ber-sms-an ria. dari kecenderungan pola ini, akhirnya setiap mereka mempunyai uang (uang saku tentunya) mayoritas dari mereka akan membelanjakan untuk membeli pulsa, agar HP-nya tetap bisa dioperasikan.

Jadi, menurut anda budaya pulsa tersebut termasuk kategori yang untung dan menguntungkan atau yang rugi dan merugikan ?, tolong dicermati juga perilaku budaya pulsa ini dilingkungan anda sendiri. Kira-kira hasilnya sesuai apa tidak dengan budaya asli Indonesia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: