MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Refleksi Hari Guru

Posted by marsaja pada November 25, 2008

Tanggal 25 Nopember 2008 kemarin diperingatilah hari Guru se-Indonesia, seperti pada tahun sebelumnya untuk menandainya tidak lupa diselenggarakan upacara resmi untuk memperingatinya. Di beberapa tempat juga dilaksanakan demo oleh kaum guru, yang tujuannya untuk menuntut perbaikan kesejahteraan hidup. Sungguh ironis memang apa yang terjadi tehadap kondisi guru di Indonesia.

Di satu sisi guru merupakan seorang pendidik yang tugasnya sangat mulia, yaitu untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa, di sisi lain guru adalah salah satu profesi yang seharusnya juga diakui keberadaanya. Pengakuan ini seharusnya tidak hanya guru yang berstatus negeri, tapi guru swasta, maupun status yang lain, karena pada dasarnya mereka juga ikut andil bersama-sama memajukan pendidikan di negeri ini.

Namun di sisi lain juga tersiar kabar yang cukup memprihatinkan kita, ternyata masih ada oknum guru yang lupa akan tanggung jawabnya sebagai pendidik, tapi ia malah berbuat asusila terhadap murid-muridnya. Sehingga dengan berita ini dunia guru ikut tercoreng. Inilah sisi lain dari kondisi guru di negeri ini.

Apa yang bisa kita refleksikan dari hari guru, sehingga guru dapat kembali ke posisi yang semestinya sebagai agen pendidik, agen pencerah bangsa yang mampu melahirkan generasi-generasi yang berjiwa kuat, berkarakter, mempunyai inteletual tinggi, beradab, dan tentu melahirkan sebuah generasi cerdas.

GURU, digugu dan ditiru, sebuah ungkapan yang kedengarannya sangat pas untuk kita maknai hakikat dari ungkapan tersebut. Pantaskah guru untuk digugu, didengar ajarannya, didengar nasehat-nasehatnya, petuahnya, sehingga dengan petuah tersebut mampu mencerahkan setiap murid-murid yang dididiknya. Guru juga ditiru, diteladani sifat dan sikapnya, dijadikan contoh dalam perilaku kesehariannya. Sungguh alngkah mulianya seorang guru, jikalau memang benar-benar menunjukkan sosok yang pantas untuk digugu dan ditiru, baik perkataan maupun sikapnya.

Apakah sosok seorang guru sudah benar-benar dipahami oleh guru itu sendiri. Karena tugasnya adalah tidak sekadar mengajar tapi mendidik, seperti halnya sholat, sholat itu tidak sekadar dijalankan tapi didirikan. Artinya dalam mendirikan sholat itu tidak hanya dilaksanakan ketika setiap muslim menjalankan sholat wajib atau sholat sunah, namun yang lebih urgen lagi adalah sikap dan perilaku kesehariannya sudah sesuaikah dengan syariat sholat. Karena sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, maka ketika kita beramal, berbuat, bertingkah laku seharusnya perbuatan kita juga terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Inilah yang dinamakan perintah mendirikan sholat.

Seperti halnya itulah seharusnya posisi guru. Guru tidak hanya sekadar mengajar saja, namun yang lebih penting adalah mendidik setiap murid baik yang ada di sekolahnya maupun masyarakat di lingkungannya. Karena pada dasarnya mendidik itu tidak hanya berlaku pada sekat-sekat yang terbatas saja, seperti di kelas, dimana saja kita berada sudah sepantasnya guru juga mampu mendidik, baik keluarga, maupun masyarakat. Sehingga antara yang diajarkan di kelas dengan yang dilakukan sehari-hari ada kesinambungan. Dengan kesadaran seperti ini berartio setiap guru memang pantas untuk digugu dan ditiru, bukan wagu tur kuru, ya apa tidak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: