MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Menyikapi Kontroversi Sikap Amrozi cs

Posted by marsaja pada November 23, 2008

Pasca eksekusi para terpidana peristiwa Bom Bali I, ternyata di masyarakat kita melahirkan perdebatan wacana tentang jihad fisabilillah berkepanjangan. Padahal sebagai umat muslim tentu kita sudah punya pedoman yang kuat (hukum agama) mengenai perilaku seperti yang dilakukan Amrozi cs. Dari yang pedoman yang kuat seharusnya mampu menjadi pencerah setiap permasalahan yang ada di lingkungan kita, jika kita masih senang berdebat soal status apakah yang dilakukan Amrozi bisa disebut jihad atau tidak berarti saya menganggap kita kurang paham dalam memahami agama kita.

Bahkan akhir-akhir ini para pendukung sikap Amrozi cs mengatakan bahwa mereka (ketiganya) termasuk mati syahid karena ada tanda yang menguatkan argumentasi mereka yaitu bahwa pada jenazahnya mereka terlihat tersenyum, ada tiga burung hijau (mereka menyebut burung karomah), dan di langit ada awan yang membentuk lafadz Allah. Ingat kita hanya manusia biasa lhoo, seharusnya kita tidak berada pada wilayah memvonis dan mengatakan mereka mati syahid, karena itu adalah wewenang Allah sendiri.

Posisi saya disini, saya tidak ingin mendebatkan masalah kematian Amrozi cs apakah syahid atau tidak. Disini saya hanya berniat dan berpendapat saja sesuai dengan keyakinan agama dan yang saya rasakan bahwa yang dilakukan Amrozi cs atau yang sejenis adalah sebagai berikut :

Pertama, pada dasarnya Amrozi cs dilihat dari niatnya bertujuan baik, karena ingin menegakkan agama dan ingin menghalau kemaksiatan yang lebih besar di negara ini. Jadi secara niat mereka sebenarnya sudah baik. Karena orang yang berniat ingin menegakkan agama dan menghalau kemaksiatan adalah memang baik dan sesuai ajaran agama.

Kedua, menurut hemat kami yang dilakukan Amrozi cs adalah kurang tepat, kurang sabar dan termasuk merugi. Coba kaitkan dengan firman Allah tentang surat “Al ‘Asr“, apakah tidak rugi yang dilakukan oleh mereka.

Ketiga, adalah seharusnya kita bisa lebih memahami surat “Al Kafirun” kaitannya dengan Lakum Dinukum Waliyadiin. Seharusnya kita lebih mendalami maksud ayat tersebut. Bukankah sangat jelas diterangkan kepada kita tentang maksud ayat tersebut, bagaimana seharusnya sikap kita kepada orang kafir.

Nah, dari sini kita bisa merasakan sebenarnya yang dilakukan Amrozi cs atau yang lain itu mencerminkan apa, tolong dirasakan lagi yaa. Karena setahu saya orang yang mempunyai kekuatan itu seharusnya malah melindungi yang lemah. Apalagi orang Islam yang memiliki kekuatan seharusnya malah melindungi umat yang lain.

Mari kita membaca sejarah di negeri ini, tepatnya pada Lakon sejarah pada jaman dulu, yaitu di wilayah Kudus Jawa tengah. Pada saat itu di wilayah Kudus banyak terjadi kemaksiatan dimana-mana, perilakunya mengarah seperti kondisi masyarakat sekarang ini, yaitu penuh kemaksiatan dan kejahatan. Pada saat itu ada seorang ulama yang sangat bijaksana yaitu Ki Ageng Sela. Beliau tidak menggunakan kekuatannya untuk menundukkan orang yang banyak berbuat maksiuat itu, justru kekuatannya digunakan untuk membuktikan akan kebesaran Allah. Yang mana ketika masyarakat melihat secara langsung Ki Ageng Sela diberi karomah oleh Allah mampu memegang petir, masyarakat yang melihat itu terheran-heran dan kagum bahwa Ki Ageng kok bisa memegang petir tersebut. Yang malah membuat kagum mereka adalah Petir yang dipegang Ki Ageng tidak digunakan untuk menyerang mereka yang berbuat maksiat tersebut.

Dari peristiwa tersebut justru masyarakat akhirnya sadar dan bertanya kepada Ki Ageng Sela, bagaimana bisa melakukan itu (memegang petir). Akhirnya karena mereka ingin tahu, maka Ki Ageng Sela mempersilahkan meraka untuk belajar darinya. Dan Ki Ageng bersedia mendidik mereka kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya. Mereka dibina untuk mengetahui tata cara dan aturan beribadah dan menjalankan ibadah secara bersama-sama. Dari sini, Ki Ageng mampu berdakwah bukan dengan menyalahgunakan karomahnya tetapi hanya untuk membuktikan bahwa dunia ini ada yang mengatur yaitu Yang Maha Kuasa, sehingga mereka diharapkan sadar kembali dan mau bertindak sebagaimana manusia yang pada dasrnya mulia. Adapun bukti sejarah ini silahkan dibuktikan di Kudus tepatnya di Masjid Agung Kudus, disana anda akan melihat sejarah ini, karena disana ada gambar petir, dan hal ini memang digunakan untuk pelajaran bagi umat ini.

Jadi, bila kita mempunyai kekuatan, apalagi umat islam mari kita gunakan untuk berdakwah dan untuk menyadarkan kembali sehingga para manusia yang berbuat maksiat itu dapat kembali berbuat kebajikan. Ini adalah sikap kami, mudah-mudahan mampu mencerahkan kita semua. Anda boleh berpendapat, tetapi akan lebih mulia jika anda tidak saling menyalahkan antar sesama manusia apalagi kita seorang muslim. Jika memang anda mengetahui orang lain berbuat salah, maka kewajiban anda adalah mengingatkannya bukan menyalahkan apalagi memvonisnya. Karena itu bukan wilayah kita, yang berhak memvonis adalah Yang Maha Kuasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: