MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Memaknai Istihlal

Posted by marsaja pada Oktober 14, 2008

Pada bulan Syawwal ini ummat Islam dipenjuru dunia merayakan hari kemenangan. Antar mereka saling memaafkan dari dosa yang telah diperbuat baik yang di sengaja maupun tidak. Ada tradisi unik yang terjadi di negeri ini berkaitan dengan ibadah di bulan Syawwal ini. Tradisi tersebut adalah saling berkunjung ke rumah saudara, tetangga, teman, maupun guru-guru mereka. Bahkan ada yang secara bersama-sama mengadakan lebaran khusus hari ketujuh atau kedelapan di bulan syawwal yang dinamakan lebaran ketupat. Di kantor-kantor juga di lembaga sekolah juga dilaksanakan acara Istihlah atau Halal bi Halal. Yang mana, semuanya bertujuan untuk saling memaafkan.

Ya, itulah suasana Istihlal pada umumnya di negeri ini. Kesan saya, Istihlal adalah sebuah bukti nyata pengamalan agama Islam yang sangat mulia, karena di dalam istihlal kita secara ihklas bersedia memaafkan kesalahan orang lain, dan orang lain juga bersedia memaafkan kekhilafan kita. Alangkah indahnya dunia ini, apabila antar sesama manusia saling memaafkan, sehingga akan meminimalisir bahkan menghilangkan musuh di antara kita.

Sudahkah kita benar-benar memaafkan lahir batin kesalahan orang lain kepada kita?. Sudahkah kita mengikhlaskan kekhilafan sesama kepada kita?. Jika kita dengan tulus ikhlas memaafkan segala kesalahan orang lain, maka anda layak disebut sebagai manusia yang saling mengasihi, menyayangi, dan menghargai. Anada layak dinamakan seorang hamba yang taat kepada Yang Maha Menguasai. Karena manusia yang di dalam hatinya ikhlas selalu memaafkan kesalahan orang lain, dialah yang disebut sebagai hamba yang benar-benar MENANG dalam hidupnya.

Suasana Istihlal itu juga menandakan bahwa kita hidup di dunia secara bersama, baik antar sesama manusia, maupun makhluk yang lainya. Jangan ada lagi kata musuh dengan orang lain. Jangan merasa kita menjadi musuh dan dimusuhi orang lain. Dengan teman kita saling membutuhkan, dengan bawahan, atasan, dengan karyawan kita harus berlaku sama sederajat, karena yang membedakan kita dengan yang lain pada dasarnya adalah ketaqwaan kita kepada Yang Maha Mengasihi.

Perbanyaklah teman bukan lawan. Karena teman jelas akan mendatangkan kemanfaatan, sedangkan lawan akan memperbanyak kemudharatan. Marilah kita munculkan teman-teman baru pada lingkungan kita, baik dengan tetangga, lingkungan kerja dan kantor, dan masyarakat. Itulah  hakikat Istihlal, yang mana jiwa kita akan kembali suci apabila antar sesama manusia kita mampu saling menghalalkan, saling mengikhlaskan dan memaafkan kekhilafan kita dan orang lai. Jadi, seberapa jauh kita bisa MEMAKNAI ISTIHLAL tergantung dari seberapa dalam dan ikhlas kita MEMAAFKAN DIRI DAN ORANG LAIN. Semoga bermanfaat, Mohon MAAF LAHIR BATIN UNTUK YANG MEMBACA TULISAN INI, AMIIN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: