MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Antara Lebah dan Ulat

Posted by marsaja pada September 14, 2008

Puasa di bulan Ramadhan mengajarkan kepada setiap hamba yang beriman untuk belajar menahan nafsu dari perbuatan tercela. Manusia diberi kesempatan seluas-luasnya selama satu bulan penuh untuk memperbaiki kondisi jiwanya untuk kembali memaknai hidupnya masing-masing sebagai hamba yang bertaqwa. Untuk itu mari kita bercermin pada filosofi 2 binatang yang kontradiksi perilakunya. Kedua binatang tersebut adalah Tawon (Lebah) dan Uler (Ulat). Ternyata kedua binatang tersebut mampu memberikan gambaran kualitas kehidupan manusia dalam menjalani tugasnya, yang sepantasnya hanya mengabdi kepada Allah SWT.

Coba perhatikan perilaku lebah sehari-harinya. Makanannya tergolong sangat istimewa, karena mereka hanya memakan dari sari-sari bunga.  Kehidupannya sangat rukun antara yang satu dengan yang lain. Mereka sangat patuh pada pimpinan Lebah (Ratu). Lebah mampu menghasilkan madu, yang sangat banyak manfaatnya. Bahkan dijelaskan dalam Al Qur’an bahwa madu adalah obat segala macam penyakit, subhanallah. Lebah tidak pernah mengganggu binatang lainnya. Lebah juga tidak mengganggu manusia, kecuali jika manusia dulu yang menjahilinya.

Sedangkan Ulat adalah binatang yang setiap detik, menit, jam terus makan samapi dedaunan yang ada habis. Mereka tidak pernah istirahat dai makan, sehingga kesenangannya hanya makan dan buang kotoran dimana-mana.

Kedua perilaku binatang di atas dapat kita jadikan cerminan pada diri kita masing-masing. Bagaimanakah seyogyanya tingkah laku kita di dunia ini. Apakah tindakan kita sudah pantas seperti Lebah atau masih dalam tingkatan Ulat. Alangkah baiknya jika setiap manusia benar-benar meniru perilaku Lebah. Manusia hanya mau makan dari sari-sari bunga, atau makan dari sesuatu yang halal yang telah disediakan oleh Allah SWT. Bukan makan atau mencari makanan dengan jalan menghalalkan segala cara, sehingga menutupi perbuatan haramnya. Karena pada dasarnya manusia yang bohong itu sebenarnya membohongi dirinya sendiri (Alangkah bodohnya yaaa).

Sebaliknya, jika yang dianut adalah teori ulat yang belum insyaf. Maka manusia jenis ini hanya memikirkan perutnya sendiri dan tahunya hanya makan saja, tidak pernah puas. Apalagi kalau diajak puasa, ada saja alasannya, karena tidak kuat, lemah, punya penyakit, dll. Makan terus berarti juga menandakan bahwa manusia tidak bisa menahan hawa nafsunya terutama masalah keduniawian, karena mereka tidak pernaha merasa puas. Habis ini yang dimakan, masih mencari makanan lain, sehingga orang jenis ini tentu saja tidak pernah bersyukur, betul tidak?

Kalau anda merasa seperti Lebah, maka anda akan bermanfaat bagi orang lain. Madunya bisa dimanfaatkan bagi orang lain. Ooh alangkah indahnya hidupnya. Orang jenis ini benar-benar menjadi hamba yang beriman, karena mereka hanya mau makan dari makanan yang berkualitas dan halal, sehingga hasil dari yang dimakan tentu juga baik.

Begitulah gambaran singkat kedua binatang tadi, mari kita bercermin sudahkan kita benar-benar berpuasa? Apakah kita sudah mampu mengelola nafsu amarah, alwamah. Sehingga yang muncul adalah nafsu sufiyah dan mutmainah kita. Alangkah berartinya hidup kita di dunia yang mampu memaknai setiap hidup ini dan memberikan kemanfaatan baik bagi keluarga, teman, maupun lingkungan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: