MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Tiga Model Keunggulan

Posted by marsaja pada September 10, 2008

Tom Morris memaparkan tiga model keunggulan. Model yang paling dominan selama ini adalah keunggulan kompetitif. Model ini merupakan warisan pemikiran Barat, Yunani, Romawi, dan tradisi Eropa. Untuk mendapatkan keunggulan dalam suatu kegiatan, seseorang harus mengalahkan orang lain yang menentangnya. Segala upaya dilakukan untuk memenangkan permainan zero-sum. Problem model ini terletak pada sifatnya yang individualistis dan memusuhi, yang merusak pranata masyarakat.

Model lainnya berakar dari kebijaksanaan Timur, Taoisme, Budhisme, dan Hinduisme. Model ini disebut keunggulan komparatif. Setiap orang mencapai keunggulan tanpa harus bersaing dengan orang lain, tetapi membandingkan keadaan diri sendiridalam suatu rentang waktu. Dibanding kemarin, apakah hari ini dia sudah lebih dekat ke tujuan? Bagaimana caranya agar di dapat semakin dekat ke tujuannya? Problem model ini terletak pada kecenderungan ekslusif untuk memikirkan diri sendiri, tidak pernah menggali kepentingan yang lebih besar.

Model alternatif yang ditawarkan oleh Tom Morris adalah keunggulan kolaboratif, yang fokusnya meretas batas-batas individu. Model ini membuang kelemahan dari kedua model sebelumnya, namun tidak menuntut ditinggalkannya cara berpikir kompetitif dan komparatif. Cara berpikir dan kerja kolaboratif yang baik bergantung pada panduan dari cara berpikir kompetitif dan komparatif, namun yang menjadi sumbu roda adalah kerja kolaboratif untuk mencapai hasil yang lebih baik. Sikap mental yang mencirikan hubungan kolaborasi adalah berkongsi, dalam interaksi sinergis.

Berbeda dengan kerja sama, yang melibatkan banyak tenaga untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, dalam kolaborasi pikiranlah yang banyak dilibatkan. Motivasi kolaboratif didasarkan atas suatu visi yang dipahami dan dikembangkan bersama. Kolaborasi perlu dipandu dengan pemahaman tentang kebutuhan untuk bertumbuh. Tugas para pemimpinlah untuk membentuk pemahaman ini bagi perkongsian yang terbentuk. Dalam sebuah perkongsian sejati, setiap anggota mendorong mitranya untukmenjadi yang terbaik menurut kemampuannya. Masing-masing tidak ingin saling membantu dalam keadaan senang atau susah. Hasilnya adalah hidup penuh sukacita dalam Kebenaran, Kebaikan, dan Keindahan.

Contoh paling gamblang adalah kontes Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indosiar, dan yang semacamnya. Ketika memasuki babak final. model keunggulan kolaboratif terlihat amat jelas. Dua orang finalis tidak saling berkompetisi, karena kemenangan salah satunya tidak bergantung kepada kehebatan mereka untuk saling mengalahkan. Masing-masing finalis juga tidak hanya sibuk meningkatkan keunggulan komparatif masing-masing. Agar mendapatkan semakin banyak perhatian audiens, mereka justru berkolaborasi untuk menampilkan performa terbaik mereka, sebagai tim!.

Dalam situasi begini, jarang sekali fans mereka mengalihkan dukungan. Mereka sudah mempunyai pendukung fanatik sendiri-sendiri. Yang terjadi malah fans mereka yang saling berkompetisi dan berulang-ulang mengirimkan sms dukungan. Sementara itu, dengan kolaborasi kedua finalis juga secara bersama-sama menyedot pendukung baru. Sehingga, total pendukung mereka semakin membengkak, yang pada akhirnya akan membeli album yang telah maupun akan mereka telurkan. Kekuatan sinergis, dalam bentuk apapun, seperti dalam model keunggulan kolaboratif ini, selalu dasyat dampaknya. (Dari “Awaking the Excellent Habit” by Sansulung John Sum).

Jadi, sudah selayaknya kami merekomendasikan bagi semua khalayak yang ingin mencapai keberhasilan sejati tanpa mengalahkan orang lain dan bahkan untuk mencapai keberhasilan bersama-sama dengan sempurna, maka konsep keunggulan kolaboratif bisa dipertimbangkan dan diaplikasikan baik dalam ruang organisasi, kelembagaan, bisnis, maupun perusahaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: