MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Konsep W-7

Posted by marsaja pada Agustus 19, 2008

Setiap manusia pada dasarnya memerlukan terpenuhinya kebutuhan dasar untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Ada yang disebut kebutuhan primer maupun sekunder yang keduanya bertujuan untuk memuaskan bagi masing-masing manusia. Ada berapa macamkah kebutuhan manusia yang sepatutnya bisa terpenuhi sehingga manusia akan berperan menjadi manusia yang berguna bagi diri dan yang lain. Konsep kehidupan yang kami maksud adalah setiap manusia sepantasnya mengerti akan kebutuhan dirinya dan untuk orang lain.

Konsep kehidupan yang kami maksud adalah W-7, yaitu Wastra, Wareg, Wisma, Wasis, Waras, Waskita, dan Wicaksana.

Pertama, Wastra (sandang) adalah bahwa setiap manusia membutuhkan pakaian (sandang) untuk menutupi aurot, yang mana dengan memakai baju kita menjadi lebih beradab dan sopan. Sandang juga berarti “ageman” atau agama. Dengan berdasar agama maka hidup kita menjadi terarah dan ada pijakan dasar-dasar hukum untuk melakukan setiap amal perbuatan. Manusia menjadi sopan, indah dipandang, dan terpenting menutup aurot sehingga dengan menjaga aurot berarti kita telah menaati aturan agama dan bertindak yang beradab.

Kedua, Wareg (pangan) adalah setiap manusia membutuhkan makanan (pangan) untuk proses pertumbuhan badan jasmaniyah. Dengan kita makan berarti kita telah sadar memasukkan zat-zat yang dibutuhkan badan. Kita berarti menghargai anugerah dengan merawat badan kita agar tetap kuat dan terus tumbuh sesuai dengan umur kita. Makanan yang kita makan tentu adalah makanan yang bermanfaat bagi tubuh kita, makanan yang halal, makanan yang mendatangkan keberkahan bagi hidup kita.

Ketiga, Wisma (papan) maksudnya setiap manusia secara kodrati membutuhkan tempat berlindung, membutuhkan rumah (papan) setelah beraktivitas sehari-hari.  Dia butuh tempat tinggal untuk membentuk keluarga yang  harmonis, sakinah, mawadah warohmah.  Rumah adalah tempat pengayoman bagi kita, berbahagialah bagi orang-orang yang mempunyai jiwa pengayoman bagi sesamanya. Rumah menjadi tempat untuk merencanakan hidup kita, memulai setiap aktivitas kita. Menjadi tempat berkumpul keluarga, yang mana dengan berkumpul, kita bisa bermusyawarah dan menjaga kerukunan setiap anggota keluarga.

Keempat, Wasis (pendidikan) bermakna bahwa pada dasarnya manusia disamping membutuhkan makanan secara lahir juga memerlukan pendidikan. Dengan pendidikan kita belajar dari hal-hal yang belum kita ketahui, kemudian kita pahami, dihayati kemudian kita amalkan baik bagi dirinya, keluarganya dan orang lain. Pendidikan adalah bukti bahwa setiap manusia membutuhkan ilmu untuk menyingkap segala rahasia di alam jagaq raya ini. Ilmu adalah pintu gerbang untuk memahami setiap yang diciptakan di alam raya ini. Dengan pendidikan manusia menjadi cerdas, sehingga dengan kecerdasannya manusia diharapkan mampu memecahkan setiap permasalahan yang dihadapinya. Karena dari permasalahan itu kita menjadi berpoengalaman, sehingga dengan pengalaman itu kita bisa berbagi dengan orang lain, agar yang lain juga mampu memecahkan setiap masalahnya.

Kelima, Waras (kesehatan) berarti kondisi badan agar tetap mampu beraktivitas harus dalam kondisi sehat, baik sehat jasmani maupun rohani. Bayangkan kalau badan kita sakit, apakah kita bisa beraktivitas?. Sehat adalah karunia yang sangat besar dari Yang Maha Pencipta, sehingga dengan kesehatan itu kita mampu berbuat sesuatu yang berguna bagi dirinya dan orang lain. Walaupun orang punya banyak uang jika badannya sakit, maka dia akan tetap berkeluh kesah. Oleh karena itu sudah sepantasnya setiap manusia yang sehat selalu dalam kondisi bersyukur.

Keenam, Waskita (keruhanian) adalah konsep diri kita bahwa kita ada karena kita diciptakan. Pada dasarnya setiap manusia adalah hamba yang seharusnya selalu ingat kepada yang menciptakan. Keruhanian  mencerminkan keyakinan dan keimanan kita kepada Sang Kholik. Dengan keimanan akan melahirkan jiwa yang ihsan, sikap yang berakhlaq karimah, tingkah laku yang didasari adabiyah. Ruhani pada dasarnya bersifat suci, sehingga sudah selayaknya kita tetap menjaga kesucian itu. Karena setiap kita melakukan perbuatan yang salah, sebenarnya ruhani kita telah mengingatkan, tinggal anda mau jujur untuk mengaku atau tidak.

Ketujuh, Wicaksana (kebijaksanaan) adalah buah dari proses pendidikan. Kebijaksanaan adalah buah dari setiap pemikiran dan perilaku manusia, yang mana dengan kebijaksanaan itu akan melahirkan sikap yang baik, sikap yang mulia yang bisa mendatangkan manfaat bagi diri dan yang lain. Orang yang bijaksanalah yang pantas menjadi tauladan bagi hidup kita. Bukankah Rosululloh adalah orang yang paling bijaksana, sehingga mampu mendidik danm membina para sahabat menjadi teladan umat sejati. Bijaksana dan bijaksini adalah konsep hidup yang perlu dilestarikan karena orang yang mampu berbuat bijak adalah yang mampu menyelami arti kehidupan di dunia ini, bahwa kita sepantasnya bersifat rohmatan lil’alamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: