MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

” e … Mantene Teko, e …”

Posted by marsaja pada Agustus 11, 2008

e … mantene teko, e … beberno kloso. e … klosone bedhah, e … tembelen jadah. e … jadahe mambu, e … pakakno asu. e … asune mati, e … guwaken kali. e … kaline banjir, e … guwaken pinggir“. Itulah lagu Jawa yang cukup populer pada usia kami kecil dulu. Para orang tua dan juga guru bahasa Jawa di sekolah sering menyanyikan untuk anak-anaknya. Mungkin ketika kecil dulu kita pahamnya adalah sebuah lagu daerah yang merdu untuk didengarkan dan dinyayikan dengan teman sebaya, sehingga baik yang menyanyi atau yang mendengarkan semuanya terhanyut dan merasa senang dengan lagu daerah tersebut.

Ada sebuah makna mendalam yang sebenarnya dipesankan melalui syair lagu tersebut. Makna yang dimaksud adalah bahwa manusia hidup tidak terlepas dengan masalah, selesai masalah yang satu muncul masalah berikutnya dan seterusnya sampai manusia menghembuskan nafas terakhirnya. Di syair lagu tersebut disampaikan sebuah pesan orang yang mampu menyelesaikan masalah, namun masalah berikutnya menghampiri. Ya, apakah kita hidup di dunia ini sebaiknya bagaimana yang sepantasnya? Lari dari masalah atau menghadapi masalah?

Apa sebenarnya masalah itu? Jika kita menganggap masalah adalah sebuah persoalan yang bikin susah, maka kesusahan yang akan didapat, namun jiuka kita menganggapnya sebuah pembelajaran hidup, maka pengalaman dan kecerdasanlah yang akan diterima. Bukankah orang yang mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah adalah orang yang cerdas dan kreatif, Iya kan! Seedangkan orang yang cenderung lari atau takut dengan masalah berarti orang yang tidak yakin dengan kemampuannya atau yang disebut dengan istilah kurang percaya diri.

Ada yang cukup menarik kaitanya dengan masalah yaitu slogannya dari Pegadaian yaitu “Menyelesaikan masalah tanpa masalah“. Ya, slogan tadi memperlihatkan sebuah keyakinannya besar bahwa jika ingin sukses hidup kita harus mampu menyelesaikan setiap masalah, walaupun masalah akan selalu menghampiri. Namun disitulah letak keunikannya, bahwa manusia memang dilatih akalnya, mampu tidak mereka menggunakan anugerah akal pikir supaya digunakan dengan tepat, diantaranya untuk menyelesaikan masalah agar manusia semuanya mampu meraih cita-citanya.

Akhirnya, marilah kita mencoba berpikir dengan jernih bahwa setiap masalah sebenarnya mendatangkan pengalaman yang berharga. Manusia diberi kelebihan akal pikir untuk mengambil pelajaran dan hikmah sehingga dari hikmah tersebut manusia mampu mengarungi kehidupan di dunia dengan tenang dan percaya diri, serta yakin bahwa jika ada kemauan untuk menyelesaikannya, maka masalah akan dipandang sebagai sesuatu yang untung dan menguntungkan.

2 Tanggapan to “” e … Mantene Teko, e …””

  1. ressania said

    Ijin repost ya, kak…

  2. […] bisa bersumber dari kultur kebiasaan manusia. Tembang itu berjudul (entah apa saya lupa mungkin Dayoh) dengan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: