MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Raja “ONG” Vs Raja “AL”

Posted by marsaja pada Agustus 4, 2008

Pada hari Jum’at, tanggal 1 Agustus 2008 di PSPP Sehat Mandiri Yogyakarta, dimana ditempat itu kami berjumpa dan berdiskusi tentang “Narkoba” kami sedikit banyak mendaptkan pengetahuan sekaligus pengalaman dari pelaku yang telah terjerembab oleh keganasan narkoba. Acara tersebut merupakan termasuk salah satu rangkaian kegiatan “Tadabur Alam Besar” atau disebut juga Studi Tour yang diselenggarakan oleh SMP Al Azhaar Tulungagung.

Ada pengalaman menarik yang disampaikan oleh Salah seorang yang dulu sebagai pecandu narkoba namun sekarang bapak ini telah pulih kembali dan mampu membagi pengalamannya pada orang lain yang berkunjung di sana. Pengalaman yang disampaikan memang banyak sekali, namun ada hal yang cukup menarik yaitu bahwa orang yang kecanduan narkoba akan menyebabkan dampak yang semuanya kalau boleh kami menyebutkan sebagai seuatu yang membuat rugi dan merugikan. Kenapa bisa seperti itu?

Akibat kecanduan narkoba bisa kita simpulkan akan mengakibatkan pada tiga kebiasaan yang disebut sebagai “Raja Ong” yaitu Bengong, Bohong dan Nyolong (mencuri). Kebiasaan bengong akan membuat pola sikap dan pikir yang pasif, tidak dinamis, dan terbelakang. Kebiasaan bengong menandakan bahwa orang tersebut miskin inisiatif, miskin ide, pesimis dan tidak memandang kedepan dengan optimis. Kebiasaan bohong akan memiliki dampak yang luar biasa buruknya. Dari bohong semuanya bisa menjadi berantakan, akan menimbulkan ketidakpercayaan, saling berprasangka dan mengakibatkan disharmoni bahkan tidak rukun. Kebiasaan nyolong (mencuri) akan menyebabkan kerawanan sosial, ketidakamanan dan ketidaknyamanan keluarga dan masyarakat, sehingga keamanan negara terganggu.

Pada hari Sabtu, 2 Agustus 2008 di Ponpes As-Salam Surakarta, kami juga mendapatkan pengalaman baru yaitu sebagai pengobat Raja Ong di atas pola sikap yang dilandasiu dengan tiga hal yang disebut “Raja Al” yakni Keseimbangan Intelektual, Spiritual, dan Moral. Pola pikir yang dilandasi intelektual akan melahirkan sikap yang cerdas, mampu menghitung rugi dan untung, membedakan baik dan buruk, serta yang barokah dan yang sesat. Pola sikap yang intelektual mampu kita tampilkan untuk membuang jauh kebiasaan bengong. Pola sikap spiritual akan melahirkan sikap yang hasan, yang baik, yang berlandaskan syariat agama, sehingga mampu berbuat jujur yang merupakan kebalikannya dari bohong. Sedangkan moral adalah cerminan dari perbuatan yang penuh kasih dan sayang yang diliputi akhlaqul karimah, sehingga akan mencegah sikap yang buruk dan mengarah maksiat. Dan ini sangat pas untuk menangkal dari sikap nyolong.

Begitulah sebagian oleh-oleh yang kami peroleh dari perjalanan singkat kami ke Yogya dan Solo, yang mana ada sebuah ironi, akan tetapi jika kita telah sadar dan sabar, maka mudah-mudahan mampu melahirkan sikap yang mulia, jauh dari keingkaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: