MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Bermain untuk Belajar

Posted by marsaja pada Juli 28, 2008

Pada kondisi sekarang ini, banyak orang tua yang berkeinginan supaya anaknya menjadi pandai dan cerdas. Ada beberapa kiat yang dilakukan, diantaranya dengan memasukkan pada sekolah unggulan atau memiliki karakteristik khusus supaya anaknya menjadi terpacu potensinya. Khusus pada anak, masih ada kecenderungan tidak mau terlalu dikekang karena mereka masih suka bermain. Lalu sebenarnya cara belajar yang tepat dan efektif bagi konsumsi anak agar tetap bisa belajar namun dalam suasana bermain itu bagaimana?

Sebenarnya antara belajar dan bermain tidaklah berbeda. Ada pandangan kuno yang mengatakan sesungguhnya kegiatan bermain itu menyenangkan dan menyegarkan pikiran. Dengan kondisi pikiran yang segar diharapkan anak mampu menangkap dan mencerna apapun informasi baik yang dikatakan orang ataupun yang dilihatnya, juga yang dirasakannya secara langsung. Karena dalam bermain juga dapat membuat anak bahagia, sehat, manusiawi dan menjadi lebih pintar.

Orang tua juga perlu memperhatikan lingkungan, karena lingkungan disamping juga mendukung juga bisa mematikan potensinya. Lingkungan yang baik semakin memicu anak berkembang kreatifitasnya. Bermain bisa mencerdaskan diperoleh dari mendapatkan pengalaman secara langsung sehingga pengetahuannya semakin bertambah. Bermain juga dapat melatih membina hubungan dengan teman sehingga akan mampu menyesuaikan diri dengan yang lain.

Dalam bermain akan lebih baik lagi jika ada keterlibatan dengan orang tua atau orang dewasa. Kelebihannya adalah memperkaya pengalaman, meningkatkan kualitas perkembangan kecerdasan, kemampuan sosial anak meningkat, lebih dekat dengan orang tua, adanya rasa puas dan aman dalam diri anak karena tidak selalu merasa diperintah, sedangkan yang dirasakan adalah sebagai teman bermain.

Waktu bermain yang sedikit bisa mendatangkan masalah. Hilangnya waktu bermain akan menyeret anak menjadi depresi, kejam dan kehilangan rasa manusiawi. Mengurangi waktu bermain berarti akan mengurangi semangat anak dan mengerutkan otak mereka serta menjadikan manusia yang kejam atau paranoid kelak.

Yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa kemampuan berpikir anak masih terbatas (egosentris). Orang tua harus bisa menghindari ambisi dan kebiasaan pasang target.  Anak yang dibesarkan dengan target memang bisa tumbuh pintar namun, jangan salahkan jika nantinya berkembang menjadi anak yang ksar dan tak berperasaan.

Jadi, menurut hemat kami sudah selayaknya setiap orang tua sadar untuk memberikan kesempatan kepada anak agar tetap memberi peluang untuk bermain dan juga belajar. Karena antara bermain dan belajar adalah hal yang tidak jauh berbeda. Mungkin bagi orang tua yang perlu dilakukan adalah mengontrol saja apakah hasil dari bermain positif atau tidak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: