MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Bukan Memandaikan, Tapi Mencerdaskan

Posted by marsaja pada Juli 10, 2008

Kebijakan pemerintah berkenaan dengan pendidikan terus meningkatkan kualitasnya, terbukti dengan ditingkatkannya standar kelulusan nilai ujian nasional baik di tingkat SD, SMP maupun SMA yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Berkaitan dengan suksesnya pendidikan pemerintah juga telah mencanangkan program wajib belajar pendidikan dasar mulai 9 tahun (SD – SMP) bahkan sudah ditingkatkan menjai 12 tahun (SD – SMA). Termasuk langkah lainnya adalah dengan mengarahkan dan memperbanyak sekolah yang berbasis kejuruan untuk jenjang sekolah menengah atas yaitu SMK.

Kita sebagai rakyat Indonesia tentu menyambut baik program pemerintah tersebut, yaitu dengan jalan melaksanakan program tersebut, mendukung penuh untuk orientasi pendidikan. Dimana, salah satu tujuan utama pendidikan adalah untuk mencerdaskan siswa, hal ini sangat sesuai dengan tujuan nasional bangsa Indonesia yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun ironi sekali di masyarakat kita tujuan pendidikan tersebut seolah telah menjadi barang langka. Karena yang muncul justru tujuan arah pendidikan kita semakin banyak yang berorientasi hanya untuk kepintaran atau kepandaian belaka, tanpa mengarahkan kepada tujuan yang sebenarnya yaitu untuk mencerdaskan.

Sekarang ini kita melihat banyak lembaga pendidikan yang bersaing untuk arah “Pandai/Pintar” contoh dengan semakin menjamurnya Olimpiade, kompetisi di dunia TV, dll. Sebenarnya apa perbedaan antara pandai dan cerdas. Pandai atau pintar lebih berorientasi pada akal pikir, yang mana dengan model pendidikan tersebut akal pikir yang diolah atau dikembangkan, sehingga akan berimplikasi kurang baik terhadap jiwanya, hatinya. Bisa ditebak anak akan menjadi egois, tidak tahan uji, jika cita-citanya tidak tercapai akan mudah mengeluh bahkan bisa depresi. akibat lainnya jika ada yang lebih pandai dari dia mungkin dia nanti bisa beranggapan bodoh. Model pendidikan ini lebih mengutamakan kemampuan intelektual (IQ) saja.

Sedangkan cerdas berorientasi pada akal pikir dan juga rasa, sehingga yang dikembangkan selain kemampuan berpikir juga diimbangi dengan pengembangan rasa atau jiwanya. Model pendidikan ini akan berimplikasi selain anak pandai juga cerdas, karena kemampuan emosinya berkembang, seperti punya rasa empati, sabar, peduli, sosial, dll. Model pendidikan ini mengarah pada IQ, EQ, dan SQ.

Cerdas juga berarti tanggap terhadap orang lain, tanggap terhadap situasi dan kondisi, sehingga ketika si anak terjun di masyarakat kelak, dia akan merasa mampu untuk mengatasi setiap persoalan yang  dihadapinya. Seperti kita ketahui setiap manusia pasti mempunyai masalah, dan orang yang cerdas adalah bukan orang yang lari dari masalah tetapi orang yang siap menghadapi dan meyelesaikan masalah hidupnya. Orang yang cerdas adalah orang yang yang mampu dan tanggap terhadap persoalan dan mampu dengan bijak mengatasinya. Seperti slogannya  pegadaian yaitu menyelesaikan masalah tanpa masalah. Karena pada dasarnya dengan pengalaman menyelesaikan masalah berarti kita mendapatkan pengalaman hidup baru yang bisa kita bagikan kepada orang lain. Dan sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi yang lain. Jadi kesimpulanya jangan hanya memandaikan saja tapi cerdaskanlah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: