MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

5 Pendekatan Menuju Pendidikan Sukses

Posted by marsaja pada Juni 6, 2008

Ada banyak sekali teori-teori model pendidikan yang kita jumpai pada saat ini, mulai yang konvensional sampai dengan yang dikatakan modern. Semuanya menawarkan cara dan metode sukses mendidik, baik dari kalangan akademisi, para ahli, maupun praktisi pendidikan. Metode yang digunakan juga bervariasi, baik cara dari menjelaskan, praktek, maupun motivasi. Semuanya menawarkan dengan ciri khas masing-masing, sehingga diharapkan para peserta didik mampu menerima materi yang diajarkan.

Namun, dari berbagai model pendidikan tersebut, kita sebagai orang tua harus jeli dan teliti. Sehingga kita akan mampu menyaring setiap model tersebut. Jangan sampai anak kita hanya pandai tapi nakal, pintar tapi moralnya rendah, canggih tapi lupa adab, serba bisa tapi lupa jati diri. Lalu bagaimanakah sebenarnya pendekatan pendidikan yang baik, tepat, dan pas ? Sehingga cita-cita orang tua benar-benar terealisasi, orang tua bangga anak pun senang. Berikut ini lima (5) Pendekatan Pendidikan yang bisa kita renungkan dan kalau cocok silahkan diterapkan, diantaranya adalah :

1. Pendekatan Modeling / Teladan. Apapun yang dilakukan anak, pada awalnya karena melihat seseorang, melihat contoh, mengamati orang lain. Bahasa lainnya, anak melihat idolanya atau teladannya. Dan pendekatan ini memang cukup efektif bagi yang biasa berkecimpung dalam bidang pendidikan. Anak akan cenderung berbuat dengan sukarela karena mendasarkan pada idola yang disenanginya. Oleh karena itu baik kita sebagai orang tua, guru, saudara marilah kita mencoba untuk berusaha menjadi contoh yang baik dan bermoral, baik untuk anak didik kita maupun masyarakat luas.

2. Pendekatan Substansif bukan Kulit Luar. Dalam mendidik kepada anak, sudah seyogyanya  para orang tua atau guru mulai mengajarkan hal-hal yang bersifat substansif, yang esensial atau pokok, karena dengan membiasakan model pendekatan yang utama, anak akan terbiasa mempunyai prinsip atau pegangan utama. Sebaliknya, jika kita hanya berkutat pada kulit luarnya saja, maka anak nanti akan gampang terombang-ambing oleh keadaan yang serba tidak menentu ini. Dengan mengajarkan pada hal-hal pokok anak juga akan terbiasa menghargai orang lain, karena si anak mampu memdapatkan makna dari setiap yang dipelajari, pada akhirnya anak mampu melaksanakan pada kehidupan disekitarnya.

3. Pendekatan Pendidikan yang Tidak Diskriminatif. Sepantasnya bagi seorang atau lembaga pengelola sebuah pendidikan, mulai membuka diri memberi kesempatan kepada setiap orang untuk mengenyam pendidikan tanpa membeda-bedakan status, asal, kemampuan atau kekayaannya. Ketika anak belajar dengan teman-temanya yang berasal dari berbagai latar belakang, justru akan mumunculkan dampak yang posistif. Anak akan terbiasa berbagi dengan anak yang lain, saling peduli, saling berempati, tolong menolong. Anak juga akan terlatih menghargai setiap perbedaan dari anak yang lain. Alangkah indahnya jikalau anak mempunyai sifat saling menghormati, menghargai dan menyayangi.

4. Pendekatan Agama yang Understanble and Applicable (Teori dan Praktek). Setiap ilmu yang dipraktekkan atau diamalkan berarti anak akan merasakan secara langsung manfaat dari ilmu yang dipelajari. Sedangkan jikalau terus mempelajari ilmu tanpa dipraktekkan, maka hanya akan menghasilkan anak yang pandai secara terori saja, tanpa bisa memngamalkan. Biasanya tipe seperti ini jika menghadapi sebuah persoalan dampaknya akan tertekan, karena kenyataan kadang jauh berbeda dengan teori. Sedangkan yang terbiasa diamalkan, maka jika menghadapi persoalan  anak akan mampu berpikir dari setiap pengalaman yang dirasakannya, sehingga akan mampu melahirkan solusi yang kreatif dan kritis.

5. Pendekatan Kasih Sayang. Bagi orang tua atau lembaga pendidikan sudah selayaknya mampu menciptakan suasana yang kondusif, menyenangkan, dan mampu memunculkan motivasi yang tinggi bagi anak agar merasa butuh terhadap proses pembelajaran. Ketika mendidik mungkin kita kadang menjumpai anak yang nakal, tidak patuh mengerjakan tugas/PR, bandel, suka mengganggu anak yang lain, maupun kejelekan-kejelekan yang lain. Dari kejadian tersebut, biasanya orang tua atau guru akan memberikan hukuman. Namun, jika hukuman tersebut dirasa kurang adil, justru bukan hasil yang baik yang diperoleh tapi malah anak akan semakin marah bahkan bisa dendam. Lalu bagaimana ? Mari kita coba pendekatan kasih sayang, kita dekati, beri perhatian, kita ajak bicara dengan suasana yang baik. baru kemudia kita beri pengertian bahwa perbuatan salah akan berdampak tidak baik, dan sebaliknya. Hukuman mungkin perlu, tapi kalau bisa yang arahnya mendidik.

Begitulah, 5 pendekatan yang bisa kita renungkan bersama untuk kemudian kita laksanakan baik terhadap anak sendiri maupun di sekolah, ingat ketika mengajar di sekolah berarti pada dasarnya mereka adalah anak-anak kita sendiri, seingat saya guru adalah orang tua kedua setelah orang tua kandung, iya kan!. Maka mari kita doakan pada anak-anak supaya menjadi anak yang sholih dan sholihah. Bukankah segala yang menentukan baik dan buruknya manusia karena Alloh SWT, bukan kita. Walaupun kita sebagai orang tua maupun guru memang berkewajiban mendidik, tetapi hasilnya kita pasrahkan kepada  Alloh SWT, jika berhasiol kita wajib bersyukur, jika  belum berhasil, kita sepantasnya untuk bersabar dan teruis berusaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: