MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Kias Makna Punakawan

Posted by marsaja pada Mei 25, 2008

Dalam jagad pakeliran biasanya terdapat tokoh pelaku empat serangkai yang terkenal dengan sebutan “Punokawan” yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Masing-masing tokoh mempunyai karakter yang unik dan berbeda-beda. Dalam pentas pakeliran, tokoh punakawan mempunyai tugas utama yaitu mendukung tokoh satria, disamping juga bertugas mengkritik kondisi sosial-budaya, ekonomi, politik kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya, istilah punokawan diambil dari mana dan apa artinya. Berikut ini ulasan yang bisa kita renungkan, kita rasakan, kita maknai sehingga memperoleh gambaran yang jelas dari keempat karakter punokawan tersebut. sehingga kita tidak akan terjebak pada pemikiran memvonis dulu sebelum mengerti/memahami makna dibalik gambaran karakter tokoh punokawan pada jagad pakeliran/pewayangan.

Istilah Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong sebenarnya diambil dari bahasa Arab. Pertama, Semar berasal dari kata “Ismar” yang artinya paku/pengokoh, diambil dari kata “Al Islamu Ismaruddunya” yang artinya Islam adalah pengokoh keselamatan dunia. Kedua, Nala Gareng (Gareng) berasal dari kata Nala Qoriin yang artinya memperoleh banyak teman, maknanya untuk memperoleh sebanyak=banyaknya kawan untuk kembali kejalan Tuhan dengan sikap arif dan harapan yang baik. Ketiga, Petruk berasal dari kata Fatruk yang merupakan wejangan tasawuf tingkat tinggi, yaitu Fat-ruk Kulla Maa Siwallahi (tinggalkan semua apapun yang selain Alloh SWT). wejangan ini merupakan karakter dan watak pribadi para wali dan mubaligh pada jamannya. Keempat, Bagong berasal dari kata Baghaa yang artinya berontak (berontak terhadap kebatilan/kemungkaran suatu/tindakan anti kesalahan.

Penambahan tokoh punokawan tersebut dilaksanakan ketika terjadi krisis pada kerajaan Majapahit, dilain pihak Islam mulai berkembang di pesisir utara pulau Jawa. Untuk berdakwah, para wali cukup jeli dalam menampilkannya, termasuk mengubah karakter dalam agama Islam ke budaya Jawa khususnya di wayang. sehingga melalui keempat karakter punokawan tersebut lebih mudah diterima masyarakat Jawa, yang tujuannya tiada lain adalah memahamkan rakyat tentang keluhuran agama Islam melalui metode kesenian wayang, karena pada saat itu rakyat kecil sangat menyukai kesenian tersebut. Para wali, terutama walisanga jeli memanfaatkan momen tersebut, sehingga dengan kecerdasan dan kejeliannya memasukkan nilai-nilai Islam kedalam tontonan wayang yang akhirnya bisa dijadikan sebagai tuntutan untuk mendidik rakyat kecil supaya memeluk Islam. Wallahu a’lam bishowab.

Satu Tanggapan to “Kias Makna Punakawan”

  1. Ivan O.I said

    makasi ilmunya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: