MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Mengarahkan Anak Kecil agar Mandiri

Posted by marsaja pada April 21, 2008

Antara lincah dan nakal seringkali orang tak bisa membedakannya. Kita mengira anak yang baik harus selalu diam, tak banyak tingkah dan ocehan. Padahal justru anak yang terlalu diam dan pasif akan sulit berkembang.

Andi Misalnya, yang berusaha menalikan sendiri sepatunya. Karena tak bisa, jadinya justru ruwet dan butuh waktu lama untuk membenahinya kembali. Sebenarnya tingkah Andi bukannya karena iseng, tetapi menunjukkan tanda-tanda perkembangan kemandirian. Setiap anak kecil yang normal, pasti akan melewati tahap perkembangan ini. Masa yang mendidik jiwa mereka untuk mengerti apa arti kata mandiri. Lantas bagaimana langkah terbaik yang harus diambil orang tua? Berikut ini cara mengarahkan anak supaya bisa mandiri, diantaranya :

Pertama, mengarahkan dengan penuh kesabaran. Yanh harus diketahui keinginan-keinginan anak untuk mandiri itu tidak boleh dikekang apalagi dimatikan. Yang benar adalah diarahkan. Merepotkan? sudah jelas. Kalau tak mau repot tak usah punya anak saja. Tak seorang anakpun yang tidak membuat ibunya susah. Kesabaran harus menjadi modal utama. Bukan itu saja, tak jarang sejumlah materi pun harus ikut direlakan. Ketika anak belajar minum dengan tangannya sendiri, dua tiga gelas pecah berantakan jadi korban. Tak apa, seberapa harga gelas dibanding hasilnya? Kadang anak suka menghamburkan nasi atau sayur, sementara bila dilarang, anak-anak itu akan marah besar.

Kedua, melarang dengan diawali pujian. Memarahi anak-anak seperti ini bukanlah tindakan yang benar. Tetapi untukmengarahkan, juga tidak gampang. Yang jelas butuh kesabaran tingkat tinggi. Sekali dua kali ibu membiarkan anak mengisi penuh piringnya dengan bersemangat. Bahkan pujian pun diberikan. Pintarnya anak ibu ya, bisa makan sendiri. “Barulah untuk kali berikutnya ibu menambahkan, “Tapi nasinya jangan banyak-banyak, nanti tidak termakan semua. Insya Alloh metode larang yang didahului dengan pujian seperti ini akan lebih mudah dituruti anak-anak dengan senang hati.

Ketiga, bangkitkan semangat anak. Ucapkanlah kata-kata yang bisa membangkitkan semangat anak-anak, agar keinginan mandiri bertambah besar. Tidak semestinya orang tua justru melontarkan celaan ataupun sekedar ucapan yang menunjukkan keraguan kemampuan anak. “Jangan, kau belum bisa menalikan sepatumu sendiri!” Kata-kata seperti inilah yang akan mematikan hasrat anak untuk mencoba sendiri. Kita harus membiarkan anak-anak untuk berusaha mandiri. Alangkah baiknya jika orang tua tak usah turun tangan membantu sebelum mereka sendiri minta pertolongan.

Keempat, jangan terlalu membimbing anak. Sebaiknya jangan terlalu banyak memberikan bimbingan dan pemberitahuan sebelum anak-anak berusaha keras mengerjakan sendiri. Ada kalanya kesalahan maupun kegagalan masih lebih baik ketimbang larangan keras dari orang tua sebelum anak sempat mencoba. Para ahli mengatakan, anak-anak yang terlalu sering dibimbing, diberi tahu maupun dicegah, kelak akan berkembang menjadi orang yang kurang berani dalam mengambil tindakan maupun keputusan. Mereka akan cenderung bersikap terlalu berhati-hati. Sebaliknya, kepada  anak-anak yang terlalu pasif dan sejak semula tak memiliki keinginan untuk melakukan satu hal yang baru, orang tua harus bisa memancing keaktifannya.

Kelima, mengganti dengan benda lain yang serupa. Kadang tingkah anak-anak mencoba-coba itu menyangkut hal yang berbahaya. Banyak ibu ngeri melihat putra-putrinya memegang pisau dan gunting. Lantas memberlakukan larangan amat keras bagi anak-anak itu untuk memegang benda-benda tajam itu. Elsa misalnya, yang suka ikut-ikutan ibunya memasak di dapur. Si kecil suka meniru ibunya mengiris-iris di atas talenan. walaupun penuh resiko, ibunya tak pernah memarahi tingkah Elsa yang sebenarnya punya niat membantu itu. Ibu memberikan pisau roti yang tidak tajam lagi. Jika mengenai tangan tidak menyebabkan luka yang menyakitkan.  

Keenam, Mengalihkan perhatian kepada yang lain. Ibu juga bisa mengalihkan keinginan anak dari pekerjaan berbahaya itu. Beri kesempatan ia memegang pisau sebentar saja, lantas alihkanlah perhatiannya ke hal lain, ” Nah sudah selesai iris-irisnya. Terima kasih ya, Elsa sudah bantu ibu. Sekarang Elsa bantu petik-petik sayur saja, terus dicuci ya?”.

Ketujuh, Jangan menunjukkan sikap khawatir. Tindakan yang dilakukan ibu bukannya mematikan keingnan anak, melainkan mengarahkannya. Ini jauh lebih baik daripada menunjukkan sikap khawatir terhadap keinginan anak dengan berkata, “Aduh …. Elsa nggak usah pegang pisau, bahaya. Kalau kena tangan bisa putus nanti …”. Kekhawatiran ibu akan tertangkap oleh Elsa. Saat-saat selanjutnya Elsa akan terpengaruh dan ikut khawatir terhadap benda yang namanya pisau sehingga tidak lagi punya keinginan untuk berupaya melakukan sendiri kebutuhannya yang berkaitan dengan pisau. Elsa tak punya keinginan untuk mengiris roti tawar miliknya dan tak mau mencoba mengupas buah apel pemberian ayah.

(Sumber : Majalah Al Haromain)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: