MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Hukuman untuk Mendidik

Posted by marsaja pada April 8, 2008

p>Pernahkan kita melihat seorang anak yang menceritakan hukuman yang baru ia terima dari orang tua atau gurunya dengan perasaan bangga?. Ada seorang ibu yang merasa putus asa menghadapi putranya yang tidak ada jeranya dengan hukuman yang ia berikan. Suatu hari ia memberikan hukuman putranya dengan memasukkannya ke dalam kamar mandi, namun justru putranya bermain air di dalam bak kamar mandi.

Dalam proses pendidikan kita mengenal apa yang disebut alat pendidikan. Alat tersebut digunakan agar proses pendidikan dapat berjalan dengan baik. Alat-alat pendidikan yang kita kenal di antaranya adalah contoh dan teladan, ancaman dan ganjaran, perintah dan larangan, serta hukuman.

Hukuman kadang-kadang meramang harus digunakan. Dalam kaitan ini, ada beberapa teori tentang hukuman yang dianut oleh beberapa ahli pendidikan. Pertama, Rosseau memperkenalkan hukuman alam. Artinya, anak dihukum berdasarkan perbuatannya. Seorang anak yang bermain pisau dia terluka, memanjat pohon dia terjatuh, dan mungkin patah kakinya, bermain api dia terbakar, dll. Kedua, teori yang menjelaskan
bahwa hukuman diberikan kepada anak untuk membuat efek, yaitu anak dihukum agar ia tidak mengulangi perbuatan. Contohnya, bila terlambat datang ke rumah ia tidak diperkenankan melihat acara TV yang disenanginya atau tidak boleh bermain game. Ketiga, ada teori bahwa bentuk hukuman adalah kegiatan yang dapat mengurangi kenyamanan anak dalam waktu pendek, seperti seorang anak yang bermain bola di lapangan melebihi waktu yang disepakati dengan orang tuanya, maka hukumannya adalah tidak memperbolehkan anak tersebut untuk bermain bola esok hari.

Pada kasus seorang anak yang justru ia menceritakan sanksi yang ia terima dari orang tua atau gurunya dengan perasaan bangga, justru telah menjadikan hukuman tersebut sebagai alat untuk meningkatkan gengsinya, dialah anak pemberani, kuat dan bertanggung jawab. Atau karena anak tersebut merasa kurang mendapatkan perhatian, sehingga hukuman yang diberikan kepadanya ia anggap wujud perhatian orang tua / guru kepadanya dan ia menikmatinya.

Sementara kasus ibu di atas ada dua kemungkinan pada anak, pertama anak belum merasa bahwa memasukkan ke kamar mandi adalah bentuk hukuman dari perbuatan salahnya , dan kedua kegagalan di dalam memperhitungkan bahwa memasukkan ke dalam kamar mandi adalah hal yang mengurangi kenyamanan anak dan membuat efek jera. Bahkan anak tersebut menikmatinya.

(Sumber : Majalah Ticer KPI)

4 Tanggapan to “Hukuman untuk Mendidik”

  1. Suhadinet said

    Hukuman (punishment) berbalik arah menjadi reward bagi anak? Sangat mungkin terjadi. Guru harus hati-hati memilih punishment yang akan diberikan. Mengurung anak yang hobinya main air di dalam bak mandi bukan hukuman yang baik. Atau anak yang sering terlambat dan suka bolos dihukum dengan tidak mengijinkan masuk kelas. O..o..itu hadiah buat mereka. Tiap anak beda, unik. Menghapus papan tulis bisa jadi reward untuk seorang anak, tapi bisa juga jadi hukuman bagi anak yang lain. Lihat sikon dululah intinya.

  2. marsaja said

    Assalamu’alaikum Wr. Wb. Terima kasih atas pendapatnya mengenai “Hukuman untuk Mendidik” mungkin panjenengan punya konsep lain tentang “Konsep-konsep pendidikan” saya siap menerima pendapat panjenengan. mungkin kita bisa berbagi ilmu melalui diskusi di blog ini. matur nuwun selamat berjuang dan terus berkarya. Wassalam

  3. celine said

    Pak, mau tanya. . . Adik saya ini nuakalnya bukan main. Saya marahin tdk mempan, saya kash hadiah or reward jg tdk mempan, saya pukul dgn kemoceng jg tdk mempan. Terakhir saya datangin PSIKIATER buat ANAK, dia saranin kalau anak nakal. Masukin d dlm kamar lalu d kunci, tp kalau sya msukin kamar saya tdk tega buanget. . Saran bpk enaknya gmana? Apa ada efek samping jka saya kurung d dlm kamar? Thx

  4. Nenden Wardah said

    Ass.Wr.Wb, Alhamdulillah …. masukan bngt bwt sy!! Tp, terkadang bingung jg menanggapi PUNISHMENT terutama dgn kondisi saat ini. Ketika kita memberikan punishment kpd seseorang dgn tujuan mendidik selama punishment itu tidak berbentuk kekerasan, tp selalu berbuntut penolakan keras. Bingung jdnya ?????? Heeee….. Htr nhn. Wass

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: