MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Arsip untuk November 23rd, 2008

Menyikapi Kontroversi Sikap Amrozi cs

Ditulis oleh marsaja di/pada November 23, 2008

Pasca eksekusi para terpidana peristiwa Bom Bali I, ternyata di masyarakat kita melahirkan perdebatan wacana tentang jihad fisabilillah berkepanjangan. Padahal sebagai umat muslim tentu kita sudah punya pedoman yang kuat (hukum agama) mengenai perilaku seperti yang dilakukan Amrozi cs. Dari yang pedoman yang kuat seharusnya mampu menjadi pencerah setiap permasalahan yang ada di lingkungan kita, jika kita masih senang berdebat soal status apakah yang dilakukan Amrozi bisa disebut jihad atau tidak berarti saya menganggap kita kurang paham dalam memahami agama kita. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aktual | Leave a Comment »

Meraih Hidup Mulia

Ditulis oleh marsaja di/pada November 23, 2008

Manusia diciptakan adalah untuk rahmatal lil’alamin, rahmat bagi alam semesta ini. Manusia juga ditugaskan sebagai pemimpin di bumi ini. Untuk meraih posisi terhormat itu manusia harus mampu meraih hidup yang mulia, karena kedudukan manusia lebih tinggi daripada malaikat jika menjadi manusia yang bertaqwa atau mulia. Sedangkan kedudukan manusia akan lebih rendah daripada binatang jika perilakunya nista dan hina. Nah, bagaimana agar manusia mampu meraih ke derajat kemuliaan itu? Berikut ini resepnya!. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Bekal Hidup | Leave a Comment »

Mendidik Anak dengan Perilaku Positif

Ditulis oleh marsaja di/pada November 23, 2008

Ada sebuah realitas yang menarik di masyarakat kita tentang pola pendidikan yang tepat agar potensi anak berkembang dengan maksimal. Untuk mendidik anak-anaknya para orang tua sudah berusaha bertingkah laku baik dan berusaha mengajarkan hal yang baik pada anaknya, tetapi anaknya mempunyai masalah besar dalam hal berperilaku, bertindak, dan berpikir. Kenapa hal itu bisa terjadi? Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »

Konsep Mendidik Anak yang PAS!

Ditulis oleh marsaja di/pada November 23, 2008

Fakta menunjukkan betapa memprihatinkan sikap dan perilaku anak-anak sekarang ini. Kami melihat bahwa kenakalan sikap anak-anak itu terjadi karena kurang adanya komunikasi di internal keluarga. Keluarga dirasakan seperti rumah asing bagi penghuninya sendiri terutama anak-anak. Khusus pada orang tua yang sibuk bekerja, yang intensitas pertemuannya dengan anak-anaknya dirasa kurang hal ini menjadi permasalahan tersendiri. Perilaku yang ditunjukkan anak-anak sudah sangat jauh dari akhlaq yang sepantasnya.

Kalau sudah melihat anak-anak mereka nakal dan berperilaku negatif, orang tua baru mulai memikirkan, kenapa hal itu menimpa anaknya. Ada sebuah permasalahan yang cukup mendasar, yaitu rata-rata kenakalan anak yang demikian disebabkan orang tuanya terlalu sibuk bekerja dan hanya mengurusi bisnisnya saja. Mereka kadang masih berkilah bahwa mereka merasa sudah mencurahkan kasih-sayangnya secara melimpah kepada anak-anaknya. Mereka berharap anak-anaknya bisa mengerti sehingga mereka sadar akan kenakalannya.

Ya, kami sepakat bahwa kasih sayang yang berlimpah itu perlu tetapi ternyata itu belum cukup untuk mengembalikan dan mendidik sikap dan perilaku anak-anak agar menjadi pribadi anak yang positif. Untuk mendidik anak orang tua perlu pengetahuan untuk mendidik anak-anak berkembang memenuhi potensinya. Orang tua perlu belajar dan mengikuti perkembangan zaman.

Kita juga melihat salah satu cara yang dipakai orang tua untuk menindak anak-anak yang nakal adalah dengan menghukum mereka dengan keras dan mengatakan bahwa itu semua dilakukan karena kasih sayang dan bertujuan baik. Respons yang ditunjukkan oleh anak karena umumnya mereka masih polos dan belum bisa berpikir jernih akhirnya malah menjadi konflik. Karena bagi anak pada dasarnya mereka sulit membedakan hukuman dengan aksih sayang. Bagi pikiran bawah sadar anak-anak, hukuman artinya benci dan kasih sayang adalah perhatian atau tidak menghukum.

Bahkan sebagaian orang tua tidak berani menunjukkan emosi negatif mereka karena takut melukai perasaan anak mereka sehingga membiarkan kenakalan berlanjut. Dan akhirnya orang trua bertindak menurut suasana hati atau intuisi. Orang tua tidak punya kerangka kerja yang pasti, bingung memilih cara yang tepat untuk menangani setiap permasalahan yang tejadi pada anak. Jika suara hati mengatakan harus marah dan menghukum, ya dilakukan; jika suara hati mengatakan tidak boleh marah, ya dilakukan. Inilah yang menuntun orang tua pada tindakan tidak konsisten yang akhirnya akan dipelajari oleh anaknya sendiri juga.

Lalu bagaimana solusinya? Belajar mengenai mendidik anak dari sumber yang benar dan mengikuti pelatihan untuk menjadi orang tua yang profesional sangat penting dilakukan karena  pengetahuan ini memberi  pencerahan berpikir kita suatu struktur bertindak dan  kerangka kerja, sehingga kita mempunyai keyakinan dalam mengambil tindakan. Perlu dipahami bersama bahwa situasi zaman ketika ayah dan ibu kita masih kecil berbeda dengan situasi zaman ketika kita kecil, berbeda juga dengan situasi zaman anak kita sekarang. Inti untuk menjadi orang tua yang baik dan benar sama di semua zaman, tetapi bagaimana mengaplikasikan inti itu ke dalam tindakan sehari-hari itulah yang bisa berubah dari zaman ke zaman.

Situasi dan kondisi yang dihadapi oleh orang tua berubah dari waktu ke waktu. Perkembangan teknologi dan perekonomian membuat masalah yang dihadapi berkembang semakin kompleks. Orang tua butuh latihan bukan karena mereka tidak mampu tetapi karena menjadi orang tua di zaman sekarang tidak lagi sesederhana zaman dulu.

Ditulis dalam Pendidikan | 1 Komentar »