Bila melihat fenomena perilaku para pelajar sekarang ini dan yang masih sekolah aktif, saya merasakan sebuah rasa kekuatiran yang tinggi terhadap tingkah laku mereka. Mayoritas sudah mulai muncul budaya konsumtif dan pola hidup hedonisme. Terbukti, mereka sekarang ini memperlihatkan sebuah perilaku yang mencerminkan itu semua. Bisa dilihat buktinya, mereka tidak mau naik motor jika motornya jelek dan tidak baru atau motornya keluaran tahun lama. Mereka minta yang terbaru, yang katanya lagi ngetrend di kalangan anak muda.
HP mereka juga selalu minta yang tercanggih dan terbaru, ada kesan antar anak muda sekarang saling bersaing untuk mempunyai barang yang terbaru dan terlengkap. Bagi yang orang tuanya kaya mungkin tidak ada masalah, tapi bagi mereka yang kurang mampu orang tua bingung karena anak terus menuntut sekaligus mengancam akan tidak sekolah jika mereka tidak dibelikan motor dan HP terbaru. Mungkin para orang tua jadi merasa pusing memikirkan tingkah laku meraka.
Belum lagi, gaya hidup anak muda sekarang adalah gemar menghabiskan waktunya di warung-warung internet. mereka sekedar bermain game daripada mencari berita yang bermanfaat. Mereka dengan rajin menghabiskan watunya untuk download gambar-gambar yang sebenarnya tidak pantas dilihat. Pembicaraan yang selalu diomongkan adalah melulu seputar perkembangan game. Apakah memang fenomenanya sudah seperti ini? Inilah yang patut kita cermati dan dipikirkan benarkah yang dilakukan akan mendatangkan manfaat nantinya?
Kami melihat anak muda sekarang terutama anak sekolah dilihat dari cara berbicara, bersikap dan bertingkah laku sudah sangat jauh dari budaya timur yang penuh adab dan sopan santun. Istilahnya kami menyebut pola sikap mereka sebagai “Perilaku Luar Negeri” Karena, mereka pada dasarnya belum mampu berpikir cermat. Umumnya pola pikir mereka simpel dan instan, sehingga kurang mengetahui dampaknya secara cermat.
Ya, perilaku mereka memang sudah mencerminkan budaya “Luar Negeri” yang salah satunya indikasinya adalah munculnya budaya materialistis, individualis, egoisentri, kurang peka, hidup enak tanpa bisa merasakan pahitnya, kepedulian dengan orang lain rendah, sopan santun dan tata krama mulai ditinggalkan, rasa hormat kepada orang tua mulai berkurang, dll. Intinya perilaku mereka menjadi serasa asing di negeri sendiri. Masayarakat dan orang tua di buat terheran-heran dengan kebiasaan mereka. Kurang apa mereka mendidik, mereka sudah merasa mengajarkan agama, tapi tidak ada peningkatan ibadah. Mereka sudah memasukkan ke sekolah bergengsi tapi justru kualitas kecerdasan dan berpikirnya kurang.
Jadi, sebaiknya untuk para orang tua sadarlah terhadap fenomena ini. Jangan berkata atas nama kasih sayang justru malah menceburkan mereka ke jurang kehancuran akhlaq tanpa disadarinya. Sudah berpikirkah mereka ketika membelikan barang-barang tersebut, apakah bermanfaat atau malah sebaliknya malah mendatangkan kerugian. Mari kita kembalikan lagi ke ajaran yang sesungguhnya yaitu belajar hidup dari kehidupan ini. Karena pelajaran yang terpenting adalah belajar hidup, belajar memecahkan setiap permasalahan hidup, sehingga mereka nanti kelak akan mampu bertahan hidup jika pada masanya tiba untuk menggatikan kedudukan mereka. Jangan sampai mereka menjadi buruh dinegeri sendiri, akibat ketidaktahuan pengaruh buruk yang ditimbulkan oleh barang-barang kualitas luar negeri.