MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Arsip untuk November 9th, 2008

Jihad dan Kepahlawanan

Ditulis oleh marsaja di/pada November 9, 2008

Setelah tiga terpidana Bom Bali I, yaitu Amrozi, Imam Samudra, dan Muklas dieksekusi pada minggu malam pukul 00.15 di Nusakambangan di masyarakat kembali terjadi kontroversi mengenai arti jihad. Para pendukung Amrozi cs beranggapan mereka telah melakukan jihad yang sesuai hukum Islam, disisi lain ada pihak yang menyalahkan pemahaman jihad versi Amrozi cs. Untuk itu kami mencoba untuk merenungkan kembali sebenarnya yang dimaksud dengan JIHAD ITU BAGAImana? Akhir-akhir ini kata-kata Jihad kelihatannya sudah dikonotasikan dengan pengertian yang negatif, inilah yang harus kita luruskan kembali sehingga masyarakat tidak bingung lagi memahaminya.

Jihad adalah bersungguh-sungguh. Mari kita mulai dari pengertian yang paling mendasar dulu. Jihad atau bersungguh-sungguh adalah kesungguhan hati kita untuk menjalankan kewajiban kita sebagai kholifah fil ardh. Manusia diperintahkan hanya untuk mengabdi kepada-Ku, yaitu kepada yang menciptakan kita semuannya. Setiap manusia yang beriman hendaklah bersungguh-sungguh ibadahnya. Kita dasari sikap kita dengan hati yang suci, berpikir yang positif, kita tingkatkan dengan ibadah yang suci dan kita sempurnakan kepada perbuatan baik dan bermanfaat kepada sesama makhluk.

Jihad juga berarti bersungguh-sungguh dalam membela agama, maknanya memahami dan mengamalkan setiap yang diperintahkan dan yang dilarang agama. KIta memang boleh bahkan diperintahkan untuk mempertahankan agama yang diyakini, tapi dengan cara yang santun. Karena Islam diturunkan bukan untuk memerangi agama lain, tapi justru untuk menyempurnakannya. Islam diturunkan bukan untuk memerangi orang lain, tapi justru untuk menyadarkan dan hidup rukun. Islam diturunkan karena semata-mata untuk rahmatal lil’alamiin.

Pengertian jihad kaitanya dengan kepahlawanan tentu sangat pas sekali,  justru inilah yang harus kita dalami sehingga tidak menghasilkan prilaku yang negatif atau merusak. Jika memang niatnya suci dan semata-mata karena lillahi ta’ala saya yakin jihadnya akan benar-benar berperilaku santun dan penuh semangat heroik. Karena sebagai manusia pada dasarnya kita tidak mempunyai hak untuk membunuh sesama makhuk, apalagi membunuh atas nama agama bahkan Tuhan. Coba dipikirkan kembali apakah jihad yang mengorbankan orang yang tidak bersalah disebut jihad yang sesuai dengan hukum Islam.

Kita wajib membela agama dan harga diri kita, jika orang lain menginjak-injak, menghina kita. Namun yang perlu dipikirkan adalah cara yang kita lakukan, harus dengan cara yang sudah dicontohkan Rosulullah. Rasulullah ketika perang melawan kaum kafir quraisy juga masih mengedepankan adab berperang, yaitu jangan membunuh orang tua renta, para wanita, dan anak-anak bahkan kepada musuh yang sudah lemah. Rasulullah hanya berperang kepada yang memerangi saja, sehingga cara seperti itu justru menjadikan kaum quraisy merasa takjub dan akhirnya ada sebagian yang memeluk Islam. Bahkan Rasulullah bersabda Perang yang paling besar adalah perang melawan hawa nafsunya sendiri. Karena keserakahan dan kesewenang-wenangan pada dasarnya berawal dari mereka yang tidak bisa mengendalikan nafsunya.

Akhirnya semangat kepahlawanan ternyata adalah semangat yang didasari oleh semangat jihad di jalan Allah. Jihad yang mampu melahirkan sikap yang haqqul yakin kepada Allah SWT. Semangat yang mampu diterjemahkan dan diyakini oleh para pejuang muslim di dunia juga di Indonesia. Jadi selamat hari Pahlawan, semoga kita mampu menirunya untuk kita amalkan pada kehidupan sehari-hari.

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

Refleksi Hari Pahlawan

Ditulis oleh marsaja di/pada November 9, 2008

63 tahun yang lalu, tepatnya 10 November 1945. Arek-arek Surabaya yang penuh semangat nan menggelora, berjuang mengusir penjajah Sekutu yang diboncengi oleh Belanda yang ternyata masih mempuanyai maksud untuk kembali berkuasa di Indonesia. Arek-arek Surabaya dalam perjuangannya melawan penjajah telah dibakar semangat patriotismenya dengan teriakan Takbir oleh Bung Tomo. Bung Tomo mampu membakar semangat para pemuda Surabaya dengan teriakan Allah Akbar Allah Akbar Allah Akbar. Ya, dengan bacaan kalimat itulah, justru yang mampu memotivasi jiwa-jiwa jihad, jiwa-jiwa semangat kepahlawanan bangsa Indonesia untuk kembali mempertahankan kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia an tentu atas berkat rahmad Allah SWT.

Karena kegigihan arek-arek Surabaya itulah, akhirnya pemerintah secara resmi menetapkannnya sebagai hari Pahlawan bagi bangsa Indonesia. Sebenarnya kegigihan perlawanan anak-anak bangsa melawan penjajah tidak hanya terjadi di Surabaya, namun karena di Surabaya paling heroik dan fenomenal maka akhirnya ditetapkan sebagai hari Pahlawan. jadi setiap tanggal 10 November, pemerintah bersama rakyat selalu memperingatinya sebagai hari yang bersejarah bagi perjalanan bangsa.

Apa yang bisa kita petik dari setiap peringatan, terlebih ini peringatan hari Pahlawan. Sangat tepat sekali apabila sekarang ini kita belajar untuk merefleksikannya, karena ummat sekarang sudah jauh dari pengayoman para ulama (sebab sebagaian ulama sekarang rame-rame berurusan dengan pilkada, sehingga kurang memperhatikan nasib ummat, yang sebenarnya sangat butuh pencerahan pikir dan hati). Pahlawan berasal dari kata “Pahalawan” artinya orang yang mendapatkan pahala karena jasa-jasanya. Ya, karena para pejuang tersebut bertindak tanpa pamrih, semangat pantang menyerah, dan Ikhlas karena Allah SWT, akhirnya mereka mendapat julukan sebagai pahlawan bangsa atau orang yang berjuang demi bangsa, demi martabat bangsa dan negara, bukan karena kepentingan pribadi maupun golongan.

Marilah kita mencoba merasakan lagi sifat-sifat yang dikukuhi oleh para pahlawan tersebut, sehingga dengan memahami kembali diharapkan dapat tercermin juga pada pribadi-pribadi kita sebagai manusia yang beriman. Adapaun semangat yang dimiliki menurut hemat kami adalah mereka mempunyai keberanian sejati, pantang menyerah, rela berkorban, membela bangsa, berjuang tanpa pamrih, mempunyai keyakinan yang tinggi terhadap Yang Maha Pencipta, loyalitas tinggi, berdedikasi, mengutamakan persatuan di ats semua golongan dan agama, dll. Itulah yang seharusnya menjiwai pada pribadi-pribadi kita sebagai warga negara Indonesia.

Semangat itulah yang mampu menghantarkan Indonesia merdeka dan mampu mempertahankan kemerdekaan, walaupun penjajah merajalela dan musuh dari dalam negeri juga terus merongrong. Namun dengan keyakinan yang tinggi bertindak atas nama kebenaran dan niat yang suci, mereka para pahlawan akhirnya atas ridha Allah SWt mampu mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih dengan susah payah.

Jadi, wahai para pemuda Indonesia dan semuanya mari kita ambil semangat heroik mereka untuk kita renungkan kembali dan kita implementasikan pada diri kita masing. Silahkan berjuang sesuai dengan maqom dan kemampuan masing-masing, sehingga kia akhirnya menjadi manusia yang bermanfaat baik bagi pribadi maupun lingkungan.

Ditulis dalam Aktual | Leave a Comment »