MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Arsip untuk November 6th, 2008

Pendidikan yang Berkualitas

Ditulis oleh marsaja di/pada November 6, 2008

Melihat fakta anak sekolah yang ada sekarang ini, dilihat dari output belajar mereka ternyata hasilnya kurang memuaskan, baik bagi orang tua, guru, maupun masyarakat. Munculnya berbagai metode pengajaran juga belum mampu menghasilkan kualitas pendidikan yang memuaskan. Mereka sama-sama mengaku mempunyai metode pengajaran yang paling aktual dan paling tepat diterapkan pada anak-anak sekolah.

Karakteristik anak sekolah sekarang ini adalah tipe-tipe anak yang lebih mengedepankan pada bermain belaka, hura-hura, kurang serius belajar, gampang menyerah, etos belajar kurang, egosentris, individualis, sosialnya kurang, dan cenderung tidak peduli pada lingkungan.

Internet yang katanya sumber informasi, ternyata banyak disalahgunakan dan disalahartikan. Sumber informasi yang seharusnya dimanfaatkan untuk kebaikan ternyata digunakan untuk menuruti nafsu kesenangan semata. Kemunculan pusat-pusat game membuktikan bahwa trend yang ada sekarang adalah lebih banyak kepada permainan maya, bukan permainan yang sifatnya lebih nyata.

Terlebih yang paling memprihatinkan adalah kecenderungan anak sekarang jika meminta kepada orang tua harus dituruti tanpa mempedulikan kemampuan orang tuanya. Karena yang terjadi sekarang banyak anak-anak yang hanya ikut-ikutan saja. Misalnya temannya punya HP baru, yang lain minta dibelikan yang baru juga, temannya punya motor baru yang lain juga suruh membelikan walau harus kredit. Orang tua terlalu gampang menuruti kemauan anak tanpa menyaring dan merasakan dampaknya. Dengan pola kebiasaan seperti itu akhirnya menjadikan anak manja, maunya ada terus, tanpa mengetahui keadaan orang tuanya masing-masing.

Akibatnya banyak anak yang ternyata akhirnya bermasalah. Karena mereka yang awalnya selalu diluluskan permintaannya (dilulu), ketika suatu saat keinginan mereka tidak dikabulkan mereka marah dan cenderung menyalahkan orang tua. Kalau sudah begini, mereka membuat masalah di rumah dan di sekolah. Mereka merasa tidak betah lagi di rumah, akhirnya mencari tempat nongkrong di luar dan yang paling mengkhawatirkan adalah mereka bergaul dengan teman-teman yang bermasalah pula. Setiap ada masalah di rumah mereka selalu lari dan akhirnya masalah semakin tidak terselesaikan malah semakin menumpuk. Sehingga mereka menjadi pribadi yang aneh, suka marah, cenderung keras dan kalau diajak bicara diam dan tidak mau menjawab, apalagi cenderung cuek dan tidak peduli lagi, dan seterusnya. Siapa yang rugi kalau sudah begini?

Oleh karena itu sudah saatnya orang tua berpikir dan merasakan, pola pendidikan yang tepat bagi anak-anaknya. Coba lihat model pendidikan yang orang-orang yang berhasil sekarang ini, maupun teladan-teladan hidup ini. Seperti Rasulullah, ketika kecil sudah memelihara kambing, Sudah berlatih merasakan beratnya hidup ini. Hidup harus bekerja keras bukan hanya sekedar menerima saja, tanpa mau berempati dan merasakan kerja keras tersebut. Sudah waktunya orang tua melatih anak-anaknya dengan jiwa dan semangat kerja keras, melatih diri dengan keterbatasan, saling peduli dengan sesama. Jangan selalu meluluskan permintaan anak tanpa dievaluasi dulu dampaknya. Ada pepatah yang mengatakan “Berakit-rakit ke hulu, berenang ketepian artinya bersakit dahulu bersenang-senang kemudian” Jangan malah dibalik kesenangannya dulu yang terus ditanamkan, tapi rasa sakitnya tidak pernah ditanamkan.

Intinya, orang tua harus mendidik dengan seimbang. tanamkan seuatu yang membuat anak mampu merasakan kesulitan hidup ini, jangan hanya menanamkan kesenagannya saja. Sehingga ketika suatu saat anak tidak menjumpai hidup yang enak, mereka tidak kaget dan mampu segera menyelesaikan masalahnya dengan cerdas. Jadi sudah saatnya orang tua mendidik secara berkualitas.

Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »

Hukuman Mati Amrozi cs ………?

Ditulis oleh marsaja di/pada November 6, 2008

Dunia ini memang seperti panggung sandiwara. Kalau kita melihat pada pemberitaan di media elektronik dan media massa khususnya tentang berita seputar hukuman mati Amrozi cs, rasanya lebih heboh dan bikin penasaran para pemirsa, bahkan beritanya melebihi episode sinetron, yang intinya selalu bikin penasaran pemirsa!.

Seperti yang kita ketahui bersama, ternyata pelaksanaan eksekusi hukuman mati Amrozi cs terus mengalami penundaan, sehingga rakyat menjadi penasaran. Ada kesan yang muncul bahwa pemerintah kurang tegas terhadap keputusan hukum yang telah dikeluarkan. Kasus eksekusi hukuman mati di Indonesia sebenarnya pada kasus-kasus kriminal lain sudah pernah dilaksanakan, seperti kasus narkoba, perampokan sadis, dll. Namun melihat fakta yang ada, khususnya hukuman mati terpidana Bom Bali kami menangkap kesan yang muncul beritanya sengaja dibesar-besarkan dan di blow up oleh media massa. Sehingga rakyat secara tidak langsung digiring untuk selalu mengikuti setiap adegan yang dipertontonkan oleh sang sutradara skenario eksekusi hukuman mati Amrozi cs.

Bagimana seharusnya kita menyikapinya? tentu anda masing-masing berhak memberikan pendapat mengenai peristiwa ini. Seperti saya juga berhak memberikan pendapat. Menurut saya kasus eksekusi pelaksanaan Bom Bali ini memang sudak masuk pada ranah politik, kalau memang pemerintah tegas dan yakin terhadap keputusan yang dibuat, seharusnya juga konsisten terhadap keputusannya. termasuk mengenai waktu pelaksanaannya. Rakyat ini jangan dibuat bingung dan penasaran, karena urusan rakyat tidak hanya mengkonsumsi berita tersebut.

Pendapat kami berkaitan dengan hukuman mati (tidak hanya kasus bom Bali, tapi siapa saja yang divonius di negeri ini) adalah perlu dikaji kembali efektivitasnya. Apakah vonis hukuman mati sebenarnya sudah memenuhi rasa kemanusiaan. Kita harus kembali pada hakikat hukuman itu sebenarnya untuk apa? Setahu saya, hukuman adalah untuk kembali menyadarkan bagi orang-orang yang telah berbuat kesalahan, sehingga mereka diharapkan dapat memperbaiki kembali sikap dan perilakunya. Disini berarti para penegak hukum masih memberikan kesempatan kepada orang-orang yang telah divonis bersalah untuk bertobat dan memperbaiki kesalahanya untuk kemudian kembali hidup normal di masyarakat.

Ada lagi yang harus dipahami bersama, bahwa mati atau yang mencabut nyawa manusia adalah hak Allah SWT. Toh setiap manusia yang hidup akan mati juga. Nah kaitannya dengan hukum yang berlaku di Indonesia maupun di dunia jika memang harus dihukum mati, apakah tidak lebih baik jika divonis dengan hukuman seumur hidup di penjara. Kasih kesempatan kepada orang yang bersalah tersebut untuk merenungkan perbuatannya. Apakah sebagai manusia itu kita dibolehkan untuk membunuh sesama?

Kalau memang di penjara perilakunya tetap buruk dan tidak menyadari kesalahanya, hatinya masih keras, ya sebaiknya tetap dipenjara sampai ajalnya tiba. namun, jika perilakunya berubah baik dan sudah lembut, maka kita sebagai manusia biasa seharusnya memberi kesempatan untuk berbuat lebih baik, berbuat yang bermanfaat bagi sesama makhluk. Ingat Allah SWT tetap menerima taubat bagi hamba yang insyaf dan tidak mengulangi kesalahannya dan mau meminta maaf kepada yang bersangkutan.

Jadi, kesimpulan kami lebih baik bagi setiap yang divonis hukuman mati adalah dengan mengganti hukuman seumur hidup di penjara sampai ajalnya tiba.

Ditulis dalam Aktual | Leave a Comment »