MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Arsip untuk Oktober, 2008

Memaknai Sumpah Pemuda

Ditulis oleh marsaja di/pada Oktober 28, 2008

Tanggal 28 Oktober 2008 adalah tepat 80 tahun berlangsungan peristiwa bersejarah “Sumpah Pemuda”. Bagaimanakah kita seharusnya memaknainya? Dengan memaknai yang positif dan pas kita diharapkan tidak akan salah dalam bersikap dan bertindak. Coba renungkanlah ketika kita masih dalam kandungan. Dijelaskan bahwa ketika kita dalam kandungan ibu, kita ternyata telah bersumpah dan bersaksi untuk mengaku kepada dua hal yaitu : Mengaku bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan mengaku bahwa Muhammad utusan Allah.

Tentunya pengakuan tersebut bermakna sangat dalam, karena itu bukti nyata bahwa kita mengakui kepada yang telah menciptakan kita dan mengakui utusan-Nya yang dapat menjadi suri tauladan. Setelah kita beranjak baligh kita juga setiap menjalankan ibadah sholat lima waktu maupun sholat sunah, kita juga terus mengucapkan janji itu. Maka marilah kita menyadari apa yang kita ucapkan, sehingga dengan kesadaran itu diharapkan akan melahirkan sikap yang mulia, akan memunculkan akhlaq-akhlaq yang terpuji.

Itulah sebenarnya yang membuat para pemuda pada saat itu benar-benar menyadari arti sumpahnya. Yang mana sumpah yang tercetus untuk kepentingan bangsa dan negara, tidak akan terjadi jika tidak ada yang melandasi dan mendasari sifat mereka. Mereka dengan teguh dan percaya diri bersumpah dihadapan orang lain, tentu mempunyai sifat dan sikap yang mampu menggelorakan semangat itu. Dan semangat yang mampu menggelorakan jiwa-jiwa yang heroik itu adalah tiada lain kecuali Pengakuan terhadap Dua Kalimah Syahadat. “Asyhadualla Ilahaillallah Waasyhaduanna Muhamadarasulullah”.

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

Refleksi Sumpah Pemuda

Ditulis oleh marsaja di/pada Oktober 28, 2008

Delapan Puluh tahun yang lalu, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928 perwakilan para pemuda se-Indonesia dengan semangat yang menggelora menyuarakan sebuah sumpah yang terkenal dengan sebutan “Sumpah Pemuda”. Ada hal yang sangat penting yang digelorakan para pemuda pada saat itu, yaitu sebuah pengakuan akan tiga hal, bahwa mereka mengaku bertanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, dan berbahasa persatuan bahasa Indonesia.

Perhatikanlah pengakuan para pemuda terhadap tiga hal yang tergabung dalam Sumpah Pemuda, alangkah mulianya hati para pemuda saat itu. Sebuah pengakuan yang tulus dan murni akan kepentingan yang jauh lebih besar dari kepentingan golongan dan diri sendiri. Mereka tidak menonjolkan segala macam perbedaan, justru persamaanlah yang mereka usung. Sehingga walaupun dari berbagai unsur, mereka bisa bersatu padu dan bersumpah untuk terus menggelorakan semangat persatuan, sehingga mampu mengilhami seluruh masyarakat untuk berjuang dalam koridor rasa persatuan di atas kepentingan bangsa dan negara.

Lalu bagaimana kita seharusnya merefleksikan peristiwa Sumpah Pemuda? Ingatlah bahwa semangat persatuan dan kesatuan sangat pas dan tepat sesuai ajaran agama Islam, yaitu semangat kerukunan yang mana itu menjadi dasar bagi umat Islam yakni Rukun Islam dan Rukun Iman. Ingat RUKUN lhoo bukan persengketaan, perpecahan, mengedepankan perbedaan atas nama apa saja. Jikalau semangat kerukunan yang terus kita jaga dan rterus dikembangkan, niscaya kemakmuran dan kejayaanlah yang akan kita dapat.

Sudah saatnya bangsa Indonesia kembali kepada semangat kerukunan, kebersamaan, kegotong royongan, kekeluargaan, saling tolong menolong, saling membantu, saling menghargai dan saling menyayangi. Tinggalkan permusuhan, kebencihan, dendam, iri, dengki, perpecahan, adu domba. Buat hidup ini lebih bermakna, lebih bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun sesama, karena semulia-mulianya orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Terakhir, Sudahkah kita yang merupakan warga negara Indonesia benar-benar memahami makna “Sumpah Pemuda” untuk itu mari kita buktikan dengan tindakan yang bermanfaat dan terpuji.

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

Memaknai Istihlal

Ditulis oleh marsaja di/pada Oktober 14, 2008

Pada bulan Syawwal ini ummat Islam dipenjuru dunia merayakan hari kemenangan. Antar mereka saling memaafkan dari dosa yang telah diperbuat baik yang di sengaja maupun tidak. Ada tradisi unik yang terjadi di negeri ini berkaitan dengan ibadah di bulan Syawwal ini. Tradisi tersebut adalah saling berkunjung ke rumah saudara, tetangga, teman, maupun guru-guru mereka. Bahkan ada yang secara bersama-sama mengadakan lebaran khusus hari ketujuh atau kedelapan di bulan syawwal yang dinamakan lebaran ketupat. Di kantor-kantor juga di lembaga sekolah juga dilaksanakan acara Istihlah atau Halal bi Halal. Yang mana, semuanya bertujuan untuk saling memaafkan.

Ya, itulah suasana Istihlal pada umumnya di negeri ini. Kesan saya, Istihlal adalah sebuah bukti nyata pengamalan agama Islam yang sangat mulia, karena di dalam istihlal kita secara ihklas bersedia memaafkan kesalahan orang lain, dan orang lain juga bersedia memaafkan kekhilafan kita. Alangkah indahnya dunia ini, apabila antar sesama manusia saling memaafkan, sehingga akan meminimalisir bahkan menghilangkan musuh di antara kita.

Sudahkah kita benar-benar memaafkan lahir batin kesalahan orang lain kepada kita?. Sudahkah kita mengikhlaskan kekhilafan sesama kepada kita?. Jika kita dengan tulus ikhlas memaafkan segala kesalahan orang lain, maka anda layak disebut sebagai manusia yang saling mengasihi, menyayangi, dan menghargai. Anada layak dinamakan seorang hamba yang taat kepada Yang Maha Menguasai. Karena manusia yang di dalam hatinya ikhlas selalu memaafkan kesalahan orang lain, dialah yang disebut sebagai hamba yang benar-benar MENANG dalam hidupnya.

Suasana Istihlal itu juga menandakan bahwa kita hidup di dunia secara bersama, baik antar sesama manusia, maupun makhluk yang lainya. Jangan ada lagi kata musuh dengan orang lain. Jangan merasa kita menjadi musuh dan dimusuhi orang lain. Dengan teman kita saling membutuhkan, dengan bawahan, atasan, dengan karyawan kita harus berlaku sama sederajat, karena yang membedakan kita dengan yang lain pada dasarnya adalah ketaqwaan kita kepada Yang Maha Mengasihi.

Perbanyaklah teman bukan lawan. Karena teman jelas akan mendatangkan kemanfaatan, sedangkan lawan akan memperbanyak kemudharatan. Marilah kita munculkan teman-teman baru pada lingkungan kita, baik dengan tetangga, lingkungan kerja dan kantor, dan masyarakat. Itulah  hakikat Istihlal, yang mana jiwa kita akan kembali suci apabila antar sesama manusia kita mampu saling menghalalkan, saling mengikhlaskan dan memaafkan kekhilafan kita dan orang lai. Jadi, seberapa jauh kita bisa MEMAKNAI ISTIHLAL tergantung dari seberapa dalam dan ikhlas kita MEMAAFKAN DIRI DAN ORANG LAIN. Semoga bermanfaat, Mohon MAAF LAHIR BATIN UNTUK YANG MEMBACA TULISAN INI, AMIIN.

Ditulis dalam Aktual | Leave a Comment »

Menjaga Kemenangan

Ditulis oleh marsaja di/pada Oktober 8, 2008

Bulan Ramadhan telah berlalu, semua umat muslim berharap tahun depan dapat berjumpa lagi dengan Ramahan. Pada bulan Ramdhan kita banyak sekali mendapatkan berkah, karena pada bulan itu Allah SWt menurunkan barokah, pengampunan dosa, dan terbebas dari api neraka. Umat Islam berlomba-lomba dalam beramal dan berbuat kebajikan. Mereka selama sebulan penuh latihan untuk menahan hawa nafsu, agar nafsunya benar-benar terkendali.

Satu bulan telah berlalu, pada bulan syawwal inilah kita berjumpa dengan “Bulan Kemenagan”. Kemenangan bagi siapa? Kemenangan yang merasa telah berjuang dengan semangat jihad pada puasa Ramadhan lalu. Kemenangan yang membahagiakan seluruh umat Islam di dunia. Kemenangan yang seharusnya tetap dijaga agar suasana kemenangan tersebut benar-benar tertancap di hati oleh seluruh umat muslim yang beriman.

Marilah kita lihat, sebenarnya kemenangan yang bagaimana yang benar-benar disebut sebagai kemenangan sejati!. Bangsa Indonesia juga pernah dalam sejarahnya juga mengalami kemenangan yaitu kemenangan atas penjajahan bangsa yang serakah yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945. Kemudian bagaimana kondisi rakyat Indonesia sekarang, apakah sudah benar-benar disebut menang atau merasa menang! Itulah yang patut kita renungkan bersama. Kalau kita menyikapinya hanya dengan senang-senang, maka kerugianlah yang kita dapat.

Lalu bagaimana mengartikan “Kemenangan yang sejati itu? Kemenangan hanya bisa kita raih apabila pada masing-masing pribadi telah mampu mengalahkan pribadinya, mengendalikan nafsunya, mengalahkan egonya. Memajukan dirinya, memperbaiki sikapnya, memuliakan akhaqnya, dan memperbaiki kulitas hidupnya, memperbaiki kualitas ibadahnya.

Sehingga dengan adanya semangat dan tingkah laku pada diri pribadi, maka anda patut dikatakan menang. Pengembangannya anda mampu berbuat kebajikan bagi sesama makhluk didunia ini. Anda mampu menolong tetangga yang kesusahan. Anda mampu menjadi penerang dikegelapan. Anda mampu menyenangkan orang yang sedih. Anda mampu menjadi pelindung baik bagi keluarga, saudara, tetangga, maupun masyarakat sekitar anda. Bagaimana apakah anda sudaha merasa menang yang sebenar-benarnya? Maka mari kita jaga spirit kemenagan di bulan syawwal ini.

Ditulis dalam Aktual | 1 Komentar »