MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Arsip untuk September, 2008

Mengembangkan Kecerdasan Anak

Ditulis oleh marsaja di/pada September 28, 2008

Siapa yang tidak senang mempuanyai anak yang cerdas? Sebenarnya bagaimanakah cara mengambangkan kecerdasan anak itu. Mari kita lihat dulu potensi anak ketika lahir. Saat anak lahir seorang anak telah mempunyai 100 miliar sel otak aktif dan 900 miliar sel otak pendukung. Jumlah sel otak yang sedemikian banyak hanya merupakan ptensi kecerdasan.

Potensi ini perlu dikembangkan secara sitematis. Kecerdasan mulai berkembang dengan terjadinya koneksi antarsel otak. KOneksi antarsel ini akan semakin bertambah apabila anak mendapat stimulasi yang cukup dari lingkungan. Cara yang paling mudah untuk memperbanyak koneksi adalah dengan melatih kemampuan sesorial anak, yaitu melatih kelima pancaindera, terutama indera peraba dengan menggunakan tangan untuk bermain.

Nah, betul kan!. Sudahkan anda melakukannya pada anak anda. Jangan hanya berharap anak anda cerdas, tapi anda tidak pernah melatihnya bahkan terkadang malah mematikan potensi anak anda. Jadi sudah saatnya anda sering-sering melatih agar koneksi antarsel otak anda nyambung, sehingga anak anda akan cepat berkembang dan menjadi cerdas.

Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »

Agar Anak Punya Minat Belajar

Ditulis oleh marsaja di/pada September 28, 2008

Menurut Adi W. Gunawan, Anak menjadi bosan dan tidak memiliki motivasi belajar karena dia tidak melihat manfaat dari materi pelajaran yang harus ia pelajari. Selama anak tidak bisa melihat manfaatnya, pikiran anak akan tertutup. Akibatnya, materi pelajaran menjadi membosankan dan tidak menarik.

Faktor lain adalah kemampuan anak dalam mempelajari materi pelajaran. Bila anak merasa tidak mampu akan terjadi cognitive shutdown dalam dirinya. Anak akan berpikir untuk apa mempelajari sesuatu yang tidak mampu ia kuasai. Hanya buang waktu dan tenaga saja. Hal ini berlaku bagi orang dewasa.

Oleh karena itu, cara agar anak berminat dalam belajar, tanamkan pada anak bahwa dalam proses pembelajaran pasti ada manfaatnya. Orang tua dan guru memang harus cerdas dan telaten dalam memahamkan pada anak sesuatu yang bermanfaat dari setiap apa yang diajarkannya. Selanjutnya, buat anak paham dan mengerti dulu sehingga anak kelihatannya benar-benar sudah mampu untuk menerima setiap yang diajarkan, jangan mengajarkan sesuatu bila anak belum menunjukkan reaksi atau minat bahwa ia benar-benar ingin mempelajarinya.

Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »

Cara Meningkatkan Preastasi Belajar Anak

Ditulis oleh marsaja di/pada September 28, 2008

Prestasi belajar dapat ditingkatkan dengan mudah bila kita dapat membantu anak menyingkirkan tiga penghambat utama proses pembelajaran (Giorgi Lozanov, Bapak Accelerated learning dunia), yaitu :

1.  Penghambat Kritis-Logis, adalah anak merasa bahwa bersekolah itu sulit, belajar itu tidak mudah dan tidak menyenangkan.

2.  Penghambat Intutif-Emosional, adalah anak merasa dirinya bodoh dan tidak mampu belajar.

3.  Penghambat Kritis-Moral, adalah anak merasa belajar merupakan kegiatan yang membutuhkan upaya keras sehingga anak merasa tidak mampu. (Adi W. Gunawan)

Dengan memahami permasalahan utama pada anak tersebut di atas diharapkan orang tua dan guru perlu membangun kesadaran anak, sehingga anak tidak akan mempunyai persepsi buruk tentang sekolah. Jangan sampai anak berpandangan bahwa sekolah adalah pekerjaan yang membosankan dan memberatkan

Tanamkan pada anak agar memiliki persepsi yang menarik bahwa pembelajaran adalah proses yang mengasyikkan dan menarik, dapat mengetahui hal-hal baru, belajar akan menambah pengalaman baru, mempunyai teman baru.

Dengan mengubah persepsi anak diharapkan akan memperingan langkah orang tua dan guru agar anak dapat belajar sebagaimana belajar untuk kemanfaatan dia kembali bukan untuk orang lain. Dengan persepsi yang positif diharapkan orang tua dan guru maupun masyarakat dapat bersama-sama membantu proses pembelajaran anak sehingga mereka dapat memanfaatkan umurnya untuk menyerap ilmu sebanyak-banyak dan kelak dapat dipraktekan dalam kehidupan sehari-harinya.

Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »

Makna Nafas

Ditulis oleh marsaja di/pada September 14, 2008

Setiap saat manusia selalu bernafas agar tetap hidup. Nafas yang terasa enak adalah nafas yang turun naik, nafas yang kita hirup dan dikeluarkan. Bagaimana rasanya jika kita bernafas dengan terus menghirup tanpa mengeluarkannya. Kira-kira apa yang dirasakan. Alangkah enaknya hidup kita jika kita masih diberi anugerah untuk bernafas dengan teratur, kadang naik kadang turun, kadang menghirup kadang dikeluarkan. Sehingga ada stabilisasi pernafasan di tubuh kita. Kita pun enak untuk melakukan segala aktifitas yang kita lakukan. Bayangkan juga bagi yang terkena sesak nafas, sulit sekali kita bernafas. Rasanya dada sesak dan untuk melakukan aktifitas kita menjadi lemah.

Begitulah gambaran orang hidup yang setiap hari terus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Allah SWT sudah mengatur kehidupan di bumi ini dengan adil. Diciptakannya waktu siang agar manusia bekerja dan berupaya, malam hari untuk istirahat. Seandainya manusia terus bekerja baik siang maupun malam, kira-kira kondisi tubuh kita bagaimana yaa? Seandainya manusia tahunya hanya bekerja tanpa henti dengan alasan mumpung hasilnya banyak, bahkan sampai nglembur segala, apakh kita sudah memenuhi hak tubuh kita yang juga memerlukan istirahat.

Bekerja untuk mendapatkan rezeki boleh, akan tetapi kita juga harus tahu waktu, karena tugas manusia tidak hanya bekerja saja, namun juga untuk beribadah. Bagaimanamungkin manusia bisa beribadah dengan khusu’, jika kurang istirahat. Jika manusia terus mencari uang saja, tanpa ingat akan beribadah, berarti manusia seperti terus menghirup nafasnya tanpa pernah mengeluarkanya. Apa yang terjadi selanjutnya, tentu adanda tahu sendiri jawabannya, seperti yang kami gambarkan tentang ilmu nafas kita.

Kadang kita mempuanyai rezeki yang melimpah, kadang rezeki kita sedikit. Begitulah kondisi rezeki itu, semuanya telah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Enak dan tidaknya sebenarnya tergantung persepsi manusia dalam merasakannya. Jika pas rezekinya melimpah, sebaiknya kita bersyukur. Jika rezeki kita pas seret, kita wajib bersabar. Jangan mau menangnya sendiri saja, mintanya rezeki terus melmpah, memangnya siapa yang mengatur rezeki manusia itu, ingat lhoo, kita ini mung sa’derma nglakoni, hanya sekedar menjalani.

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

Antara Lebah dan Ulat

Ditulis oleh marsaja di/pada September 14, 2008

Puasa di bulan Ramadhan mengajarkan kepada setiap hamba yang beriman untuk belajar menahan nafsu dari perbuatan tercela. Manusia diberi kesempatan seluas-luasnya selama satu bulan penuh untuk memperbaiki kondisi jiwanya untuk kembali memaknai hidupnya masing-masing sebagai hamba yang bertaqwa. Untuk itu mari kita bercermin pada filosofi 2 binatang yang kontradiksi perilakunya. Kedua binatang tersebut adalah Tawon (Lebah) dan Uler (Ulat). Ternyata kedua binatang tersebut mampu memberikan gambaran kualitas kehidupan manusia dalam menjalani tugasnya, yang sepantasnya hanya mengabdi kepada Allah SWT.

Coba perhatikan perilaku lebah sehari-harinya. Makanannya tergolong sangat istimewa, karena mereka hanya memakan dari sari-sari bunga.  Kehidupannya sangat rukun antara yang satu dengan yang lain. Mereka sangat patuh pada pimpinan Lebah (Ratu). Lebah mampu menghasilkan madu, yang sangat banyak manfaatnya. Bahkan dijelaskan dalam Al Qur’an bahwa madu adalah obat segala macam penyakit, subhanallah. Lebah tidak pernah mengganggu binatang lainnya. Lebah juga tidak mengganggu manusia, kecuali jika manusia dulu yang menjahilinya.

Sedangkan Ulat adalah binatang yang setiap detik, menit, jam terus makan samapi dedaunan yang ada habis. Mereka tidak pernah istirahat dai makan, sehingga kesenangannya hanya makan dan buang kotoran dimana-mana.

Kedua perilaku binatang di atas dapat kita jadikan cerminan pada diri kita masing-masing. Bagaimanakah seyogyanya tingkah laku kita di dunia ini. Apakah tindakan kita sudah pantas seperti Lebah atau masih dalam tingkatan Ulat. Alangkah baiknya jika setiap manusia benar-benar meniru perilaku Lebah. Manusia hanya mau makan dari sari-sari bunga, atau makan dari sesuatu yang halal yang telah disediakan oleh Allah SWT. Bukan makan atau mencari makanan dengan jalan menghalalkan segala cara, sehingga menutupi perbuatan haramnya. Karena pada dasarnya manusia yang bohong itu sebenarnya membohongi dirinya sendiri (Alangkah bodohnya yaaa).

Sebaliknya, jika yang dianut adalah teori ulat yang belum insyaf. Maka manusia jenis ini hanya memikirkan perutnya sendiri dan tahunya hanya makan saja, tidak pernah puas. Apalagi kalau diajak puasa, ada saja alasannya, karena tidak kuat, lemah, punya penyakit, dll. Makan terus berarti juga menandakan bahwa manusia tidak bisa menahan hawa nafsunya terutama masalah keduniawian, karena mereka tidak pernaha merasa puas. Habis ini yang dimakan, masih mencari makanan lain, sehingga orang jenis ini tentu saja tidak pernah bersyukur, betul tidak?

Kalau anda merasa seperti Lebah, maka anda akan bermanfaat bagi orang lain. Madunya bisa dimanfaatkan bagi orang lain. Ooh alangkah indahnya hidupnya. Orang jenis ini benar-benar menjadi hamba yang beriman, karena mereka hanya mau makan dari makanan yang berkualitas dan halal, sehingga hasil dari yang dimakan tentu juga baik.

Begitulah gambaran singkat kedua binatang tadi, mari kita bercermin sudahkan kita benar-benar berpuasa? Apakah kita sudah mampu mengelola nafsu amarah, alwamah. Sehingga yang muncul adalah nafsu sufiyah dan mutmainah kita. Alangkah berartinya hidup kita di dunia yang mampu memaknai setiap hidup ini dan memberikan kemanfaatan baik bagi keluarga, teman, maupun lingkungan kita.

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

Tiga Model Keunggulan

Ditulis oleh marsaja di/pada September 10, 2008

Tom Morris memaparkan tiga model keunggulan. Model yang paling dominan selama ini adalah keunggulan kompetitif. Model ini merupakan warisan pemikiran Barat, Yunani, Romawi, dan tradisi Eropa. Untuk mendapatkan keunggulan dalam suatu kegiatan, seseorang harus mengalahkan orang lain yang menentangnya. Segala upaya dilakukan untuk memenangkan permainan zero-sum. Problem model ini terletak pada sifatnya yang individualistis dan memusuhi, yang merusak pranata masyarakat.

Model lainnya berakar dari kebijaksanaan Timur, Taoisme, Budhisme, dan Hinduisme. Model ini disebut keunggulan komparatif. Setiap orang mencapai keunggulan tanpa harus bersaing dengan orang lain, tetapi membandingkan keadaan diri sendiridalam suatu rentang waktu. Dibanding kemarin, apakah hari ini dia sudah lebih dekat ke tujuan? Bagaimana caranya agar di dapat semakin dekat ke tujuannya? Problem model ini terletak pada kecenderungan ekslusif untuk memikirkan diri sendiri, tidak pernah menggali kepentingan yang lebih besar.

Model alternatif yang ditawarkan oleh Tom Morris adalah keunggulan kolaboratif, yang fokusnya meretas batas-batas individu. Model ini membuang kelemahan dari kedua model sebelumnya, namun tidak menuntut ditinggalkannya cara berpikir kompetitif dan komparatif. Cara berpikir dan kerja kolaboratif yang baik bergantung pada panduan dari cara berpikir kompetitif dan komparatif, namun yang menjadi sumbu roda adalah kerja kolaboratif untuk mencapai hasil yang lebih baik. Sikap mental yang mencirikan hubungan kolaborasi adalah berkongsi, dalam interaksi sinergis.

Berbeda dengan kerja sama, yang melibatkan banyak tenaga untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, dalam kolaborasi pikiranlah yang banyak dilibatkan. Motivasi kolaboratif didasarkan atas suatu visi yang dipahami dan dikembangkan bersama. Kolaborasi perlu dipandu dengan pemahaman tentang kebutuhan untuk bertumbuh. Tugas para pemimpinlah untuk membentuk pemahaman ini bagi perkongsian yang terbentuk. Dalam sebuah perkongsian sejati, setiap anggota mendorong mitranya untukmenjadi yang terbaik menurut kemampuannya. Masing-masing tidak ingin saling membantu dalam keadaan senang atau susah. Hasilnya adalah hidup penuh sukacita dalam Kebenaran, Kebaikan, dan Keindahan.

Contoh paling gamblang adalah kontes Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indosiar, dan yang semacamnya. Ketika memasuki babak final. model keunggulan kolaboratif terlihat amat jelas. Dua orang finalis tidak saling berkompetisi, karena kemenangan salah satunya tidak bergantung kepada kehebatan mereka untuk saling mengalahkan. Masing-masing finalis juga tidak hanya sibuk meningkatkan keunggulan komparatif masing-masing. Agar mendapatkan semakin banyak perhatian audiens, mereka justru berkolaborasi untuk menampilkan performa terbaik mereka, sebagai tim!.

Dalam situasi begini, jarang sekali fans mereka mengalihkan dukungan. Mereka sudah mempunyai pendukung fanatik sendiri-sendiri. Yang terjadi malah fans mereka yang saling berkompetisi dan berulang-ulang mengirimkan sms dukungan. Sementara itu, dengan kolaborasi kedua finalis juga secara bersama-sama menyedot pendukung baru. Sehingga, total pendukung mereka semakin membengkak, yang pada akhirnya akan membeli album yang telah maupun akan mereka telurkan. Kekuatan sinergis, dalam bentuk apapun, seperti dalam model keunggulan kolaboratif ini, selalu dasyat dampaknya. (Dari “Awaking the Excellent Habit” by Sansulung John Sum).

Jadi, sudah selayaknya kami merekomendasikan bagi semua khalayak yang ingin mencapai keberhasilan sejati tanpa mengalahkan orang lain dan bahkan untuk mencapai keberhasilan bersama-sama dengan sempurna, maka konsep keunggulan kolaboratif bisa dipertimbangkan dan diaplikasikan baik dalam ruang organisasi, kelembagaan, bisnis, maupun perusahaan.

Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »

Puasa = Poso

Ditulis oleh marsaja di/pada September 4, 2008

Dalam bulan ini, umat Islam di seluruh dunia sedang menjalani ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Puasa Ramadhan adalah termasuk dalam Rukun Islam. Istilah Jawa puasa adalah “POSO” yang maknanya “Ngeposne Roso”. Maksudnya adalah bahwa ketika menjalani ibadah puasa ini sudah selayaknya setiap umat Islam yang beriman hendaknya benar-benar “ngeposne roso”.

Ngeposne roso adalah suatu sikap dan perbuatan yang sungguh-sungguh menghentikan rasa kita. Artinya ada upaya yang sangat kuat dari pelaku berpuasa untuk menahan perasaan kita untuk benar-benar kita istimewakan khusus kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam. Orang yang menjalani puasa berarti orang yang harus mampu menahan segala keinginan nafsu. Memanajemen perasaan kita agar benar-benar pasrah, sumarah, semende ngersane gusti Allah, bertawakal Illallah.

Perasaan kita sebagai manusia yang mengaku beriman sungguh sedang diuji, apakah benar kita telah “POSO” atau hanya sekedar menahan rasa lapar dan haus saja. Perasaan yang mampu mengembalikan jatidiri manusia untuk tidak gegabah selalu menuruti keinginan-keinginan yang tanpa batas. Perasaan yang mampu mengelola secara bijak apakah kita sebenarnya hanya menuruti nafsu kita atau sudah mampu mengendalikan nafsu alwamah pada diri kita.

Poso adalah suatu bentuk ibadah yang hanya Allah sendirilah yang mengetahui kualitas ibadah manusia. Karena puasa berkaitan dengan hati kita, sehingga kualitas hati / perasaan kitalah yang menentukan seberapa baik kulitas puasa kita. Oleh karena itu mari kita bersama-sama belajar “ngeposne roso” kita sehingga kita akan terarah dalam menjalani setiap perbuatan kita, sehingga tetap dalam lindungan-Nya. Karena pada dasrnya orang yang berpuasa akan merasa malu jika melakukan perbuatan yang kurang pantas yang tidak sesuai adabiyah atau akhlaq yang karimah. aamiiin yaa robbal ‘aalamiin.

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »