MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Arsip untuk Juli, 2008

Bermain untuk Belajar

Ditulis oleh marsaja di/pada Juli 28, 2008

Pada kondisi sekarang ini, banyak orang tua yang berkeinginan supaya anaknya menjadi pandai dan cerdas. Ada beberapa kiat yang dilakukan, diantaranya dengan memasukkan pada sekolah unggulan atau memiliki karakteristik khusus supaya anaknya menjadi terpacu potensinya. Khusus pada anak, masih ada kecenderungan tidak mau terlalu dikekang karena mereka masih suka bermain. Lalu sebenarnya cara belajar yang tepat dan efektif bagi konsumsi anak agar tetap bisa belajar namun dalam suasana bermain itu bagaimana?

Sebenarnya antara belajar dan bermain tidaklah berbeda. Ada pandangan kuno yang mengatakan sesungguhnya kegiatan bermain itu menyenangkan dan menyegarkan pikiran. Dengan kondisi pikiran yang segar diharapkan anak mampu menangkap dan mencerna apapun informasi baik yang dikatakan orang ataupun yang dilihatnya, juga yang dirasakannya secara langsung. Karena dalam bermain juga dapat membuat anak bahagia, sehat, manusiawi dan menjadi lebih pintar.

Orang tua juga perlu memperhatikan lingkungan, karena lingkungan disamping juga mendukung juga bisa mematikan potensinya. Lingkungan yang baik semakin memicu anak berkembang kreatifitasnya. Bermain bisa mencerdaskan diperoleh dari mendapatkan pengalaman secara langsung sehingga pengetahuannya semakin bertambah. Bermain juga dapat melatih membina hubungan dengan teman sehingga akan mampu menyesuaikan diri dengan yang lain.

Dalam bermain akan lebih baik lagi jika ada keterlibatan dengan orang tua atau orang dewasa. Kelebihannya adalah memperkaya pengalaman, meningkatkan kualitas perkembangan kecerdasan, kemampuan sosial anak meningkat, lebih dekat dengan orang tua, adanya rasa puas dan aman dalam diri anak karena tidak selalu merasa diperintah, sedangkan yang dirasakan adalah sebagai teman bermain.

Waktu bermain yang sedikit bisa mendatangkan masalah. Hilangnya waktu bermain akan menyeret anak menjadi depresi, kejam dan kehilangan rasa manusiawi. Mengurangi waktu bermain berarti akan mengurangi semangat anak dan mengerutkan otak mereka serta menjadikan manusia yang kejam atau paranoid kelak.

Yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa kemampuan berpikir anak masih terbatas (egosentris). Orang tua harus bisa menghindari ambisi dan kebiasaan pasang target.  Anak yang dibesarkan dengan target memang bisa tumbuh pintar namun, jangan salahkan jika nantinya berkembang menjadi anak yang ksar dan tak berperasaan.

Jadi, menurut hemat kami sudah selayaknya setiap orang tua sadar untuk memberikan kesempatan kepada anak agar tetap memberi peluang untuk bermain dan juga belajar. Karena antara bermain dan belajar adalah hal yang tidak jauh berbeda. Mungkin bagi orang tua yang perlu dilakukan adalah mengontrol saja apakah hasil dari bermain positif atau tidak.

Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »

Sopo Salah Seleh

Ditulis oleh marsaja di/pada Juli 24, 2008

Melihat kehidupan sekarang ini khususnya di Indonesia, ternyata sikap orang yang mengaku beradab justru malah dengan bangga menunjukkan kepada masyarakat tentang kebiadabannya. Mereka dengan seenak hati berbuat ketika amanah sedang dipegangnya. Tokoh panutan kelihatan tauladannya, pendidik kehilangan jiwa kasih sayangnya, pengusaha hilang rasa sosialnya, pejabat hilang keadilannya, rakyat hilang kesabarannya.

Akibatnya perilaku masyarakat sudah banyak yang keluar pada jalurnya. Orang berbuat salah malah dibela, sedangkan yang berbuat benar dipersalahkan. Kehidupan masyarakat menjadi kacau balau, terjadi unjuk rasa di sana sini dengan memperlihatkan kemarahannya, ini adalah bukti bahwa masyarakat sudah bertindak di luar jalur.

Ada sebuah gambaran fakta yang cukup memprihatinkan, diantaranya Kereta api yang keluar dari relnya, pesawat terbang yang jatuh terbakar, kendaraan darat yang salah jalur, kendaraan laut yang mudah tenggelam. Ini semakin membuktikan bahwa masyarakat sudah mulai kehilangan kontrolnya, hanya memperturutkan hawa nafsunya, hanya mengandalkan perhitungan akal saja, yang penting untung bagi diri dan kelompoknya tidak peduli pada nasib orang lain. Banyak bencana melanda di negeri ini mulai dari longsor dan gempa (tanah), kebakaran dan gunung meletus (api), banjir (air), badai topan (angin), dll.

Mari kita rasakan semua fakta tersebut dengan melakukan dan merefleksi diri bahwa “Sopo Salah Seleh”. Siapa yang berbuat salah sudah sepantasnya untuk mengakui dan tidak mengulangi lagi, untuk kemudian menghiasi dengan akhlaq yang lebih terpuji. Jangan lagi salah tapi tidak merasa salah, ini nanti bisa merugikan orang lain bahkan makhluq lain. Siapapu yang salah apakah itu pejabat, tokoh agama, pengusaha, maupun rakyat, sudah sepantasnya untuk mengakuinya dan memperbaiki dengan sikap dan tingkah laku yang mulia. Sehingga kedaimaian dan ketentramanlah yang akan didapat oleh seluruh makhluq di alam jagaq raya ini.

Dengan mengaku salah berati ada kesadaran untuk tidak mengulanginya lagi dan akan berusaha bertindak lebih baik. Tidak perlu butuh bantuan hakim untuk membuktikan bahwa kita salah, karena dengan bantuan hakim berarti masing-masing hanya mencoba mempertahankan rasa kebenarannya saja. alangkah mulianya jika dengan penuh kesadaran kita bangga mengaku salah. Ingat, sopo salah seleh , jika anda melakukan kesalahan tidak segera bertobat, maka akibatnya diri anda pribadi akan menerima balasanya. Karena sopo nandur bakal panen, siapa yang menanam akan panen.

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

Falsafah Buah Manggis

Ditulis oleh marsaja di/pada Juli 24, 2008

Nabi Muhammad SAW adalah Nabi sekaligus Rosul Alloh dan penutup para nabi yang berjumlah 25 orang. Ada sebuah sifat yang melekat pada pribadi Rosul yang terkenal dengan gelar “Al Amin” bahkan sifat ini sudah diakui oleh kaum Quraisy sejak usia Nabi masih anak-anak. Kenapa Nabi disebut gelar Al Amin, inilah yang seharusnya dicontoh oleh seluruh ummat manusia di dunia ini.

Al Amin berarti jujur, Bagaimana sebenarnya ilmu jujur itu? saya mencoba memahami dari sisi yang lain yaitu dari merenungkan dan meresapi suatu buah yang sangat manis yang bernama buah “Manggis”. Manggis juga berarti magis atau misteri, bersifat rahasia. Coba anda perhatikan dengan seksama buah manggis pada kulit luar, ada sebuah misteri yang bisa dibaca hanya dari kulitnya. Jika pada bagian bawah kulit ada tandanya lima, maka isinya juga lima, jika tandanya tujuh maka isinya juga tujuh. Kalau belum percaya buktikan deh!.

Pelajaran apa yang bisa kita petik? Pertama walaupun kulitnya hitam tapi isinya berwarna putih dan manis lhoo rasanya. Orang yang jujur itu tidak bisa kita pandang hanya dari tampilan luarnya tapi yang keluar dari dalam itulah yang sebenarnya. Jika tandanya lima, maka isinya juga lima, ini adalah tanda yang benar-benar fakta bahwa antara yang diluar dan di dalam seharusnya sama atau selaras. Walaupun bajunya hitam tapi dalamnya berhati putih dan orang yang jujur itu terasa enak dan manis. Kebalikannya jika kita berusaha menutup-nutupi pribadi kita maka rasanya tidak enak dan tidak nyaman.

Oleh karena itu sudah seyogyanya akhlaq kita masing-masing mari kita hiasi dengan kejujuran. Tiadak usah berlomba-lomba hanya dalam penampilan saja, tetapi berlomba-lomba melahirkan jiwa yang haqul jujur, seperti halnya buah “Manggis” .

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

Ilmu Shodaqoh dari Pak Tani

Ditulis oleh marsaja di/pada Juli 24, 2008

Cukup banyak keterangan tentang pengertian “shodaqoh” yang dapat kita ketahui dari berbagai sumber. Kami akan mencoba membaca makna tentang shodaqoh dari sisi lain, yaitu berusaha untuk meng-IQRO’ dari gambaran atau contoh nyata pada kehidupan ini. Bagaimana sesungguhnya makna dari shodaqoh tersebut dalam bingkai bahwa “Barang siapa bersyukur maka nikmatnya akan bertambah, dan yang menginkari maka akan mendapatkan azab”.

Shodaqoh yang benar adalah apabila kita memberikannya dengan tangan kanan, maka seolah-olah tangan kiri tidak mengetahuinya atau bershodaqoh dengan ikhlas. Bagaimanakah shodaqoh yang ikhlas itu? Kami menggambarkan dengan contoh perjalanan hidup seorang petani.

Pertama, Pak Tani akan mempersiapkan lahan supaya siap untuk ditanami. Kedua, menaburkan benih untuk disemai Ketiga, dari benih yang sudah semai ditanam pada tanah yang sudah disiapkan. Keempat, tanaman dirawat dengan penyediaan air yang cukup dan disuburkan dengan pemberian pupuk. Kelima, padi yang sudah tua dipanen. Hasil panen biasanya ada yang melimpah atau sebaliknya.

Coba perhatikan kronologis dari mulai menabur benih sampai dengan panen, itu adalah suatu bukti nyata bahwa Allah SWT maha pemurah. Dari benih yang sedikit mampu menghasilkan panen yang melimpah. Begitulah kias atau gambaran dari ilmu shodaqoh. Jika kita bershodaqoh dengan niat lillah dan billah, tanpa mengharapkan pahala atau balasan lainnya, insya Allah hasilnya akan melimpah. Sebaliknya jika bershodaqoh dibarengi dengan niat mendapatkan balasan, maka berarti kita mengharapkan pamrih yang berarti niatnya kurang ikhlas, maka kita seyogyanya lebih teliti dan jeli dalam menata niat kita.

Al Qur’an sudah sangat jelas, jika kita bersyukur maka nikmat akan bertambah. Dengan gambaran pak tani diatas coba direnungkan langka demi langkah yang dilakukan oleh pak tani. Jika dalam menanamnya kita benar, dilanjutkan dengan merawat dan memeliharanya, maka hasilnya akan bagus. Sebaliknya jika menanamnya tidak tepat, tidak dirawat atau dibiarkan saja, maka akan diserang hama dan tidak bisa panen. Sama, ketika niat kita dalam bershodaqoh tidak lillah dan ketika merawat kurang billah, maka hasilnya pun kurang baik.

Oleh karena itu mari kita mengaca pada kehidupan Pak Tani untuk memahami ilmu shodaqoh yang benar-benar lurus, yaitu niat shodaqoh karena lillah dan mengamalkannya dengan billah.

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

Salah, Ngalah, dan Kalah

Ditulis oleh marsaja di/pada Juli 11, 2008

Setiap manusia di dunia ini dalam mengarungi jagad kehidupan biasanya akan mendasarkannya pada sebuah cita-cita agar merangsang kegairahan dalam hidup. Kita sebagai manusia yang beriman juga tidak terlepas dari yang namanya cita-cita tersebut, adapun cita-cita tersebut adalah mampu beribadah dengan sholih atau menjadi manusia yang sholih.

Ada sebuah falsafah kehidupan yang cukup menarik yang patut untuk direnungkan bersama, yaitu “SALAH, NGALAH, DAN KALAH”. Sebenarnya apa maksudnya ?. Pertama, Salah (Asale saking Allah) bermakna bahwa segala sesuatu berasal dari Allah SWT, sehingga jika kita sadar, mengerti dan memahami makna tersebut, maka kita akan mengetahui sesungguhnya siapa yang menciptakan kita? sehingga kalau sudah tahu, maka sikap dan tingkah laku kita akan lebih teliti dan hati-hati, artinya tentu kita akan lebih sering bersyukur kepada Allah SWT.

Kedua, Ngalah (Ngelingana mring Allah) bermakna bahwa sebagai hamba kita patut dan semestinya ingat kepada Allah SWT. Dengan semakin mengingat/berdzikir kepada Allah, akan melahirkan sikap yang hasan dan menjadikan kita mampu bertingkah laku mulia, jika kita mendapat nikmat maka kita tidak akan lupa atau sombong, sedangkan jika mendapat musibah kita akan tetap bersabar.

Ketiga, Kalah (Tawakkal mring Allah) bermakna segala yang kita amalkan sudah seyogyanya kita teruskan dengan niat pasrah, sumarah dan tawakal kepada Allah. Jangan lagi kita mengeluh, atau tidak sabar terhadap semua yang dianugrahkan kepada kita yang sebenarnya tiada terkira besarnya, jangan lagi ngundamana bahkan protes kepada-Nya. Kita sepantasnya selalu bersyukur terhadap semua nikmat yang diberikan kepada kita hal ini sangat tapat dengan istilah “Nikmatilah yang sudah ada jangan mencari yang belum ada”.

Begitulah tiga pedoman yang patut kita renungkan bersama, sehingga akan mampu melahirkan sikap yang mulia dan perilaku atau akhlaq yang karimah, karena puncaknya ilmu terletak pada akhlaq yang mulia, sehingga cita-cita kita sebagai manusia yang sholih semoga bisa terkabul.

Ditulis dalam Bekal Hidup | Leave a Comment »

Bukan Memandaikan, Tapi Mencerdaskan

Ditulis oleh marsaja di/pada Juli 10, 2008

Kebijakan pemerintah berkenaan dengan pendidikan terus meningkatkan kualitasnya, terbukti dengan ditingkatkannya standar kelulusan nilai ujian nasional baik di tingkat SD, SMP maupun SMA yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Berkaitan dengan suksesnya pendidikan pemerintah juga telah mencanangkan program wajib belajar pendidikan dasar mulai 9 tahun (SD – SMP) bahkan sudah ditingkatkan menjai 12 tahun (SD – SMA). Termasuk langkah lainnya adalah dengan mengarahkan dan memperbanyak sekolah yang berbasis kejuruan untuk jenjang sekolah menengah atas yaitu SMK.

Kita sebagai rakyat Indonesia tentu menyambut baik program pemerintah tersebut, yaitu dengan jalan melaksanakan program tersebut, mendukung penuh untuk orientasi pendidikan. Dimana, salah satu tujuan utama pendidikan adalah untuk mencerdaskan siswa, hal ini sangat sesuai dengan tujuan nasional bangsa Indonesia yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun ironi sekali di masyarakat kita tujuan pendidikan tersebut seolah telah menjadi barang langka. Karena yang muncul justru tujuan arah pendidikan kita semakin banyak yang berorientasi hanya untuk kepintaran atau kepandaian belaka, tanpa mengarahkan kepada tujuan yang sebenarnya yaitu untuk mencerdaskan.

Sekarang ini kita melihat banyak lembaga pendidikan yang bersaing untuk arah “Pandai/Pintar” contoh dengan semakin menjamurnya Olimpiade, kompetisi di dunia TV, dll. Sebenarnya apa perbedaan antara pandai dan cerdas. Pandai atau pintar lebih berorientasi pada akal pikir, yang mana dengan model pendidikan tersebut akal pikir yang diolah atau dikembangkan, sehingga akan berimplikasi kurang baik terhadap jiwanya, hatinya. Bisa ditebak anak akan menjadi egois, tidak tahan uji, jika cita-citanya tidak tercapai akan mudah mengeluh bahkan bisa depresi. akibat lainnya jika ada yang lebih pandai dari dia mungkin dia nanti bisa beranggapan bodoh. Model pendidikan ini lebih mengutamakan kemampuan intelektual (IQ) saja.

Sedangkan cerdas berorientasi pada akal pikir dan juga rasa, sehingga yang dikembangkan selain kemampuan berpikir juga diimbangi dengan pengembangan rasa atau jiwanya. Model pendidikan ini akan berimplikasi selain anak pandai juga cerdas, karena kemampuan emosinya berkembang, seperti punya rasa empati, sabar, peduli, sosial, dll. Model pendidikan ini mengarah pada IQ, EQ, dan SQ.

Cerdas juga berarti tanggap terhadap orang lain, tanggap terhadap situasi dan kondisi, sehingga ketika si anak terjun di masyarakat kelak, dia akan merasa mampu untuk mengatasi setiap persoalan yang  dihadapinya. Seperti kita ketahui setiap manusia pasti mempunyai masalah, dan orang yang cerdas adalah bukan orang yang lari dari masalah tetapi orang yang siap menghadapi dan meyelesaikan masalah hidupnya. Orang yang cerdas adalah orang yang yang mampu dan tanggap terhadap persoalan dan mampu dengan bijak mengatasinya. Seperti slogannya  pegadaian yaitu menyelesaikan masalah tanpa masalah. Karena pada dasarnya dengan pengalaman menyelesaikan masalah berarti kita mendapatkan pengalaman hidup baru yang bisa kita bagikan kepada orang lain. Dan sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi yang lain. Jadi kesimpulanya jangan hanya memandaikan saja tapi cerdaskanlah.

Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »

Tiga Macam Rumah

Ditulis oleh marsaja di/pada Juli 3, 2008

Setiap manusia pasti membutuhkan rumah untuk tempat berlindung, sehingga manusia dengan daya dan upayanya berlomba-lomba membangun rumah dan menghiasinya. Pada dasarnya rumah dibedakan menjadi tiga, yaitu Rumah Raja, Rumah Orang Menengah, dan Rumah Orang Miskin. Rumah raja biasanya terdapat banyak harta dan simpanannya (emas, dan barang berharga lainya), Rumah orang menengah biasanya ada hartanya, sedangkan orang miskin tidak punya harta benda.

Seorang pencuri memang punya tugas untuk mencuri harta milik orang lain. Pencuri akan berpikir seribu kali jika ingin mencuri harta di rumah Raja, karena tentu banyak pengawal yang menjaganya baik siang maupun malam, di rumah orang miskin seorang pencuri pasti tidak mau mencuri ditempatnya karena tidak ada hartanya, Biasanya pencuri akan mengambil harta pada rumah orang menengah (bisa pengusaha, pejabat, atau hartawan). Begitulah gambaran rumah orang didunia begitu juga dengan rumah orang beriman.

Pertama, Rumah raja ibarat rumahnya orang yang sudah ma’rifat/ulama sejati, tentu syetan akan berpikir seribu kali jika ingin menggodanya, inilah yang disebut rumah “Mutmainah“. walaupun syetan berusaha sekeras mungkin untuk menggoda manusia kategori ini, syetan tidak akan mampu mempengaruhinya. Kedua, Rumah orang miskin ibarat rumah orang kafir/tidak beriman, maka syetan tidak perlu menggodanya,  buat apa karena pada jiwa orang tidak beriman syetan dengan leluasa mampu menembusnya, justru inilah teman dan saudaranya syetan jadi tidak perlu digoda, inilah yang disebut rumah “Amarah“. Ketiga adalah rumah menengah ibarat rumah orang yang kadang beriman kadang tidak, artinya jiwa orang ini masih labil belum istiqomah, justru syetan akan bersemangat menggoda orang kategori jenis ini. Karena orang model ini biasanya gampang lupa diri jika digoda syetan, masih suka memperturutkan hawa nafsunya, sehingga jika lengah syetan mudah masuk untuk mempengaruhinya, sebaliknya jika tetap waspada maka manusia jenis ini bisa dalam disebut beriman, inilah yang dinamakan rumah “Alwamah“.

Nah, anda kira-kira masuk pada tingkatan rumah yang bagaimana, silahkan direnungkan dengan instropeksi diri dan jika belum bisa bisa musyawarahlah dengan orang yang mampu menunjukkan jalan keluar terbaik.

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

Resep “Tawar”

Ditulis oleh marsaja di/pada Juli 3, 2008

Di dunia ini manusia yang paling beruntung adalah manusia yang semakin sering diuji oleh Yang Maha Pencipta. Dengan ujian tersebut jika lulus berarti manusia akan semakin meningkat derajatnya, sebaliknya orang yang tidak diuji sebenarnya kualitasnya diragukan. Seperti itulah kondisi manusia di dunia, yang mana setiap manusia yang beriman akan terus diuji keimanannya, apakah benar-benar beriman atau pura-pura iman!

Dari ujian yang diterima manusia masing-masing tentu berbeda satu sama lain. Ada yang diuji dengan kekayaan dan sebaliknya diuji dengan kemiskinan. Ada juga yang diuji dengan kepandaian maupun kebodohan, ada yang diuji dengan jabatan maupun rakyat biasa. Kemudian, bagaimana sikap kita sebagai orang yang beriman, inilah yang patut kita renungkan!.

Ada sebuah resep yang bisa kita pikirkan dan kita rasakan untuk menghadapi ujian dengan model apapun, dengan harapan kita akan mampu bersikap husnudzon atau selalu berpikir positif. Jika kita sedih, maka sebaiknya kita masukkan kesedihan kita pada air tawar, jika kita senang juga dimasukkan pada air tawar. Sehingga dengan resep air tawar dalam kondisi apapun maka akan terasa tawar atau netral lagi, tanpa kita merasa sedih bila ditimpa kesusahan atau merasa senang bila mendapat kebahagiaan.

Memang benar, dengan “Tawar” sesuatu akan kembali netral atau positif dan hasilnya dalam bersikap kita akan semakin lebih bijaksana, karena kita berangkat dari netral atau suci. Dengan kesucian kita akan terhindar dari perasaan sombong dan juga gampang putus asa. Sehingga diharapkan akan memunculkan sikap yang selalu pasrah, bersyukur dan ini sangat pas dengan istilah “Nikmatilah yang sudah ada jangan mencari yang belum ada”.

Ditulis dalam Bekal Hidup | Leave a Comment »

Jangan Melampaui Batas

Ditulis oleh marsaja di/pada Juli 3, 2008

Manusia pada dasarnya diciptakan ke dunia ini dalam keadaan sempurna, karena dikaruniai akal pikir, rasa, dan karsa. Dengan akal dan pikir manusia mampu membedakan dan membuat perhitungan untung dan ruginya, dengan rasa manusia mampu merasakan sesuatu yang nikmat, sedangkan dengan karsa manusia mampu mempunyai kehendak atau kemauan untuk berbuat sesuai dengan yang diyakininya.

Melihat kelebihan manusia seperti di atas, sudah sepatutnya setiap manusia selalu bersyukur dengan nikmat yang diberikan-Nya, jangan malah selalu merasa kurang atau tidak puas bahkan sampai inkar. Kadang didunia ini kita merasa sudah sempurna dengan keadaan kita, tanpa mau untuk selalu instropeksi diri. Berbuat sesuatu dengan seenaknya tanpa mempedulikan orang lain.

Kita sebagai manusia tidak terlepas yang namanya lupa dan salah, sepantasnya dalam berbuat sesuatu jangan sampai melampaui batas, yang pas-pas saja. “Isin” boleh, tapi jangan sampai “Kisinan atau ngisin-ngisini”, “Seneng” boleh, asal jangan sampai “Kesenengen”, “Senyum” boleh, tapi jangan  sampai “terbahak-bahak”, “Susah” boleh asal jangan sampai “kesusahan”, “Marah” boleh yang penting jangan sampai melampaui batas.

Ada yang perlu kita patut renungkan keadaan ummat sekarang ini, yaitu tentang “Isin, Kisinan, atau Ngisin-ngisini” ada hadits yang berarti “Malu sebagian daripada iman”, artinya jika kita masih punya malu karena tidak taqwa, justru kalau orang tidak punya rasa malu, inilah yang berbahaya. Dan kalau kita melihat fakta sekarang banyak sekali orang yang tidak punya rasa malu, bahkan ada yang malu-maluin malah tidak merasa terlebih malah bangga dengan tingkah polahnya.

Kita sebagai orang yang mengaku iman, sudah sepantasnya untuk menjaga sikap dan tabiat kita di dunia iin. Jangan sampai menjadi orang yang merasa pandai, bisa, mampu segala-galanya ternyata ketika menghadapi sebuah masalah akhirnya kita semakin terpuruk yang akhirnya kita merasa “Kisinan” bahkan yang lebih memprihatinkan adalah jika kita pada tingkat “Ngisin-ngisini”. Oleh karena itu marilah untuk selalu menjaga perkataan, sikap, dan perbuatan kita di dunia ini agar jangan sampai masuk pada kategori melampaui batas.

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

Bijaksana-Bijaksini

Ditulis oleh marsaja di/pada Juli 1, 2008

Kalau kita memperhatikan pancaindera kita, kita perlu merenungkan dan merasakan. Mata kita jumlahnya ada dua kiri dan kanan, rongga hidung juga dua, telinga juga dua, sedangkan mulut hanya satu. Kenapa jumlahnya mulut cuma satu?

Seperti anda ketahui masing-masing panca indera tersebut berfungsi sesuai dengan kapasitasnya. Mata untuk melihat, Hidung untuk mencium, Telinga untuk mendengar, Mulut untuk berbicara. Di dalam mulut ada lidah yang fungsinya untuk merasakan setiap makanan yang kita makan. Jadi apapun yang akan kita masukkan dalam tubuh yang bernama makanan, tentu harus kita filter dulu dengan lidah, rasanya enak atau tidak itu adalah tugas dari lidah (untuk merasakan).

Seperti itulah makna dari mulut, karena jumlahnya cuma satu dan fungsinya untuk berbicara maka kita perlu bertanggung jawab pada setiap yang kita katakan. Artinya, kita perlu Bijaksana dan Bijaksini. Ada pepatah yang mengatakan perkataan ibarat anak panah yang meluncur dari busurnya, termasuk lidah lebih tajam daripada pedang. Dengan gambaran tersebut setiap yang kita katakan akan membawa konsekuensi dan efek bagi yang mendengar. Oleh karena itu, kita patut untuk selalu menjaga perkataan kita baik kepada saudara, teman, atau kepada orang lain, terlebih pada orang yang belum kita kenal. Singkatnya jangan menggampangkan setiap perkataan kita. Setiap perkataan seharusnya dinalar dulu, dirasakan dulu, sudah pas tidak dengan nurani, apa akibatnya bagi orang lain, menyenangkan apa menyengsarakan.

Melihat begitu pentingnya arti dan efek sebuah perkataan, maka wajib bagi kita untuk hati-hati dengan perkataan kita sendiri. KARena perkataan adalah cermin pribadi seseorang. Jika perkataan tersebut membawa manfaat dan menentramkan orang yang mendengar berarti pribadinya memang baik, jika perkataan tersebut membuat yang mendengar sakit hati dan merasa tidak nyaman, maka kita patut instropeksi diri, kenapa bisa seperti itu!. Oleh karena itu alangkah baiknya jika kita bisa Bijaksana bagi orang lain dan bijaksini bagi diri sendiri.

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »