MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Arsip untuk Juni, 2008

Resep Meraih Hidup Nikmat

Ditulis oleh marsaja di/pada Juni 19, 2008

Sebagai manusia masing-masing pribadi tentu mempunyai cita-cita hidup dan semuanya menginginkan hidup yang nikmat, baik lahir maupun batin, baik sekarang maupun yang akan datang. Banyak sekali cara yang ditempuh, namun mayoritas hanya mampu meraih kenikmatan sesaat dan tempores. Lalu, sebenarnya cara atau resep yang komplit itu bagaimana? Berikut resep yang bisa kita renungkan, jika sudah cocok silahkan dirasakan dan diamalkan, diantaranya adalah :

1.  Iradah (kemauan). Kunci utama untuk meraih tujuan hidup adalah berupa kemauan yang kuat. Hal ini diisyaratkan pada Al Qur’an “Dan orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh dalam (mencari keridhoan) Kami, niscaya benar-benar Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik” QS Al Ankabut : 69. Ada juga pepatah yang mengatakan “Dimana ada kemauan, disitu ada jalan”.

2.  Takholli (mengosongkan diri dari perangai-perangai tercela). Didalam kehidupan ini setiap manusia akan selalu mendasarkan perbuatannya pada prinsip yang dipegangnya. Adapun dasar yang tepat sebelum kita memulai setiap aktivitas adalah membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela atau kotor, seperti sombong, iri, dengki, marah, riya, dsb. Dalam artian kondisi kita berangkat dari nol atau netral dan tidak berprasangka buruk (positif thinking). Dalam Al Qur’an diterangkan “Sungguh menanglah orang yang membersihkan hatinya” QS. Asy-Syam : 9. Caranya, pertama dengan instropeksi diri (muhasabah), kedua menjauhkan segala makanan yang haram dan tidak berlebih-lebihan dalam soal makanan.

Takholli (dengan titik di atas pada huruf Kho) merupakan suatu lambang, bahwa diri pribadi masih dikungkung oleh titik noda, untuk itu orang harus menghilangkan titik di atas huruf Kho, bila telah hilang, berarti telah hilanglah noda yang menyelubungi jiwa, sehingga dia menjadi Tahalli (huruf Kho berubah menjadi Ha), hal ini menjadi simbol bahwa noda itu telah lebur oleh usaha dalam ber-Takholli.

3.   Tahalli (akhlaq yang mulia, perangai-perangai terpuji). “Akhlaq yang luhur akan dapat meningkatkan seseorang hamba ke derajat tertinggi dan ditempatkan di tempat paling mewah di akhirat, meskipun ibadatnya agak kurang” HR. Thabrani. Akhlaq yang luhur mampu mengendalikan hawa nafsu dan menguatkan akal. Carannya dengan memperbanyak ilmu dan menunaikan amal ibadah.

Tahalli (dengan Ha tanpa titik) sebagai lambang, bahwa noda-noda telah hilang tenggelam dari diri kita, sehingga lambang bahwa nafsu telah kita taklukan di bawah kekuasaan akal dan iman. Untuk selanjutnya kita tunggangi dengan Tajalli.

4.   Tajalli (Nyata bagi hati segala kegaiban, karena tersingkapnya tirai yang menyelubunginya). “Kalau tidak karena para syetan yang mengerumuni hati bani Adam, niscaya akan dapat melihat kerajaan langit” HR. Ahmad.

Tajalli (dengan huruf Jim bertitik di bawah) menjadi lambang, bahwa kemenangan telah berada di pihak akal dan iman. Sedangkan nafsu telah ditunggangi oleh akal, sehingga dia tidak sanggup lagi hendak membangkang terhadap kehendak akal, dia telah menjadi kendaraan dan tunggangan yang cekatan bagi akal dan iman.

Bila Tajalli ini telah terjadi pada hati insan, terbukalah segala indera batin untuk menanggapi apa-apa yang terjadi dalam hubungan dengan kekasih. Di saat itu terjadilah perkenalan yang amat indah antara mukmin dengan Tuhannya (ma’rifat). Disinilah manusia akan melihat dengan mata hatinya betapa indah Hadhrat Rububiyah, sehingga kelulah lidah hendak melukiskan-Nya, tak sanggup pena hendak menggambarkan-Nya. Ia adalah Jamal (Maha Indah) sekaligus Jalal (Maha Perkasa) tak ada uyang melebihi Jamal dan Jala-Nya.

Manusia takkan sampai ke taraf ini kalau tidak melalui mujahadah (berjuang dan bersungguh-sungguh) dengan penuh kesabaran mengisi hidup dengan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi segala yang dilarang-Nya, mengerjakan segala yang wajib dan sunah disertai dengan keikhlasan hati, khusu’, khudu’, dan tawadhu’, bersamaan pula dengan menjauhi segala larangan-Nya. Apabila semua ini sudah diisi disertai dengan ilmunya, insya Allah Tuhan akan berkenan menerangi hati dengan nur keagungan-Nya.

Ditulis dalam Bekal Hidup | Leave a Comment »

Menaklukan Hawa

Ditulis oleh marsaja di/pada Juni 19, 2008

Setiap manusia diwajibkan Tuhan untuk melawan hawa nafsunya, karena hawa nafsu sangat berbahaya bagi dirinya. Dia selalu hendak membelokkan jalan orang agar ia tersesat, sehingga hilanglah kesadarannya terhadap Tuhan dan terhadap dirinya sendiri. Bentuk tubuhnya masih bentuk manusia, tetapi perasaan kemanusiaannya telah sirna sama sekali.

Hal ini sudah diisyaratkan dalam Al Qur’an “Mereka punya hati tetapi tiada mengerti, mereka punya mata tetapi tidak melihat, mereka punya telinga tetapi tidak mendengar. Mereka tak ubahnya seperti binatang, bahkan lebih sesat lagi. Merekalah orang yang lengah” QS. Al-A’rof : 179.

Begitulah keadaan manusia bila telah ditunggangi oleh hawa nafsu. Hatinya tak tahu lagi apa yang dikatakan keindahan hidup, apa yang dikatakan kebenaran. Tak tampak lagi oleh matanya apa rahasia alam yang terbentang dihadapannya. Pendengarannya terhadap kemerduan bunyi hikmat Ilahiyah telah sirna. Dengan demikian, hilanglah dari dirinya alat timbangan yang digunakan untuk membedakan antara yang haq dan yang batil.

Agama mewajibkan bagi setiap muslim untuk berjihad menaklukan hawa nafsunya. Gunanya agar martabat kemanusiaannya tetap terjaga dengan baik, kalau nafsu diperturutkan hilanglah harga diri, jatuhlah kewibawaan (muruah) di tengah-tengah masyarakat.

Pada diri manusia ada empat (4) naluri pokok manusia. Pertama, Instink Egosentris (naluri mementingkan diri sendiri). Kedua, Instink Polemos (naluri berjuang dab berkelahi). Ketiga, Instink Eros (naluri sexual). Keempat, Instink Religious (naluri berbakti kepada Tuhan).

Dari keempat naluri di atas jika diperturutkan akan mengakibatkan bala bencana. Instink Egosentris bisa mengarah kepada sifat sombong, bangga diri, riya, dsb. Sifat ini akan memencilkan orang dari pergaulan ramai, sebab tidak disukai oleh masyarakat. Akhirnya, dia kesepian sendiri dan tidak dipedulikan orang lain. Instink Polemos arahnya adalah sifat kebinatangan, suka merusak, membuat keonaran, memperkosa, merampok, yang mana akibatnya bisa menghancurkan orang lain. Instik Eros maunya hanya untuk kesenangan birahi, akibatnya tubuh lahir bisa dihinggapi oleh penyakit kotor, sedang batin menderita akibat dosa. Instink Religious arahnya tanpa mengetahui petunjuk Allah SWT berupa syariat agama, niscaya orang akan memperhambakan dirinya kepada sesama makluk, bahkan dapat memperhambakan diri kepada sesama manusia atau benda-benda lain.

Sebenarnya Tuhan yang menjadikan nafsu itu telah menetapkan jalan kemana nafsu itu harus disalurkan. Tuhan maha adil, Dia tidak menyuruh kita membendung nafsu itu secara kaku dan tidak memerintahkan kita menghancurkan nafsu yang ada dalam diri kita. Tetapi disuruh-Nya menyalurkan nafsu itu pada tempatnya sesuai dengan petunjuk Kitab yang diturunkannya, yakni Al Qur’an.

Adapun cara menyalurkan yang tepat adalah Instink Egosentris digunakan untuk mempertahankan harga diri, keluarga dan agama. Mempertahankan diri merupakan tanggung jawab setiap muslim, karena rasa tanggung jawab sebenarnya rasa “ego” dalam tubuh. Instink Polemos disalurkan untuk memupuk daya juang dan semangat mau berkelahi dalam menghadapi musuh yang datang untuk merusak diri, keluarga dan agama. untuk menghadapi segala gangguan yang mungkin akan merongrongnya, justru sifat inilah yang melahirkan semangat jihad. Instink eros dapat disalurkan melalui jalur perkawinan, yang bertujuan membina suatu ikatan keluarga, sehingga manusia bisa terhindar dari kekacauan yang ditimbulkan oleh nafsu seksual. Instik Religious disalurkan melalui amal ibadah dan aqidah Islamiyah, hal ini sesuai firman Allh SWT ” Tidaklah kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepada-Ku” QS. Adz-Dzariyat : 56.

Begituah empat instik induk yang diciptakan oleh Tuhan, didalamnya terkandung sifat-sifat binatang, syetan dan malaikat. Maka kalau diperturutkan akan membawa kehancuran bagi manusia. Jika dibendung habis-habisan akan berbahaya pula bagi kita. Oleh Allah SWT masing-masing naluri diberi jalur tersendiri, sehingga manusia dapat hidup dengan tentram.

Inilah jihad yang terbesar dan terberat, sebab gelora nafsu tidak datang dalam seketika, tepai dalam setiap tarikan nafas kita, dia selalu mengerahkan kekuatannya hendak melumpuhkan akal kita. Sebab itu waspadalah, semoga kita menang.

Ditulis dalam Bekal Hidup | Leave a Comment »

Sayangilah …..

Ditulis oleh marsaja di/pada Juni 14, 2008

“Sayangono sekabehane ingkang mapan ono bumi, mangka siro bakal disayangi sekabehane ingkang mapan ono langit” atau “Sayangilah semua yang berada di bumi, maka kamu akan disayangi oleh semua yang ada di langit”.

Agama Islam melalui teladannya yaitu Kanjeng Nabi Muhammad SAW sudah sangat jelas menyampaikan kepada ummatnya bahwa sebagai makhluk yang beradab dan paling sempurna dari makhluk yang lain, mempunyai tugas mulia yaitu sebagai kholifah di bumi. Artinya, kita sebagai manusia sepantasnya lebih beradab dan memahami dengan makhluk yang lain.

Jika kita mampu menyayangi setiap yang berada di bumi yaitu dengan cara saling menghargai, menghormati, menyayangi dan memaafkan antar sesama manusia, menyayangi binatang dengan memeliharanya dan menjaga tumbuh-tumbuhan dengan terus melestarikannya. Maka itulah sebenarnya tugas manusia.

Jika manusia sudah bertindak diluar batas kemanusiaan, maka bukan sifat manusia yang diamalkan tetapi nafsu binatanglah yang dilakukan. Sudah sangat jelas bahwa jika manusia bisa lebih mulia daripada Malaikat dan bisa lebih hina daripada binatang. Oleh karena itu mari kita belajar untuk menyayangi semua makhluk, maka semua yang ada di langit akan menyayangi kita!

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

Ibumu…

Ditulis oleh marsaja di/pada Juni 8, 2008

Pernah ada sebuah cerita pada masa Rosulullah SAW, bahwa sebagai anak menghormati orang tua itu adalah kewajiban utama, bahkan Rosululloh bersabda yang harus dihormati lebih dulu adalah Ibu, Ibu, Ibu, kemudian Bapak. Kenapa Rosulullah sampai menyebut Ibu sebanyak tiga kali baru ke Bapak. Bukan berarti kita mengesampingkan peran seorang Bapak/Ayah. Akan tetapi cerita tersebut menekankan bahwa peran Ibu memang sangat besar.

Ada juga hadits “Al Jannatu Tahta Aqdaamil Ummahat” artinya Surga di bawah telapak kaki ibu, di Indonesia bahkan ada peringatan hari khusus untuk Ibu yaitu “Hari Ibu”. Di jari kita juga ada sebutan “Ibu Jari”. Bumi yang kita pijaki disebut “Ibu Pertiwi”, dll. Dari keterangan-keterangan tersebut  tentu ada makna yang mendalam mengenai makna Ibu, sehingga Rosulullah menyebutkan sampai 3 kali. Adapun maknanya adalah Ibu yang pertama adalah Ibu Kandung, kedua adalah Hajar Aswad, dan ketiga ialah Bumi. Berikut ini ulasannya :

1.  Ibu Kandung. Ibu adalah orang tua yang mengandung, berjuang ketika melahirkan, dan yang merawat sampai akil baligh. Tentu peran ibu memang sangat besar melihat tugas-tugas yang dilaksanakannya. Mulai merawat ketika mengandung, perjuangan antara hidup dan mati pada waktu melahirkan, mendidik dan merawat ketika bayi sampai beranjak dewasa. Dengan kesabaran dan kegigihannya seorang ibu selalu sabar dan teguh serta ikhlas dalam membesarkan si anak tanpa adanya pamrih ketika anak dewasa kelak. Sehingga dengan pengorbanan baik lahir maupun batin, dengan semangat yang tak kenal menyerah, tentu pantas dan wajib bagi kita sebagai anak untuk menghormati ibu, dengan cara selalu menghormati, taat, dan jangan sampai membantahnya, kecuali kalau perintahnya melanggar syariat agama.

2.   Hajar Aswad. Ka’bah merupakan kiblat umat Islam di dunia dalam beribadah sholat. Di Ka’bah terdapat batu yang menjadi simbol atau dijadikan kiblat bagi umat Islam. Jadi sangat pas kalau Rosulullah menyebut “Surga di bawah telapak kaki ibu” artinya orang Islam yang yang iman (mukmin) dan ihsan tentu dalam beribadah sholat akan menghadap ke kiblat secara syariat (lahir) sedangkan hatinya (batin) akan selalu tertuju pada Allah SWT. Maknanya setiap muslim yang selalu istiqomah (menikmati/khusu’) dalam beribadah khususnya sholat maka sebagai syariatnya /patokannya harus menghadap ke kiblat (Hajar Aswad). Hal ini  bisa dikatakan orang yang taat pada aturan Allah SWT berarti akan memperoleh derajat taqwa. Sehingga Hajar Aswad bisa diartikan secara lebih mendalam tentang hakikat makna ibu yang kedua. Jadi, kita sepatutnya menghormati hajar aswad dengan cara meningkatkan amal ibadah sholat kita.

3.  Bumi. Kalau kita masih kecil maka yang memberi makan adalah orang tua, umumnya kita berada di gendongan seorang ibu. Lalu, kalau kita sudah besar apa tetap ibu yang menggendong, tentu bukan! Tapi yang menggendong sebenarnya adalah “bumi” tempat kita berpijak, hidup sebagai makhluk di dunia ini. Maka jika kita berpikir lebih dalam lagi bahwa bumi perannya sangat besar karena sebagai tempat hidup semua makhluk (Manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan). Kita mendapatkan makanan juga dari hasil bumi, kita menjalankan kendaraan juga butuh minyak bumi (hasil bumi), dll. Jadi, sangat tepat bahwa kita harus menghormati bumi dengan cara manjaga kelestariannya dan mengolah hasil bumi dengan tidak merusaknya.

Begitulah saudaraku, sedikit yang bisa saya renungkan selaku Dawuh dari Rosulullah bahwa kita wajib menghormati Ibu sebanyak 3 kali. Dengan merenungkan, meresapi, dan merasakan hal tersebut, insya Allah akan semakin memacu motivasi beribadah dan hidup  kita di dunia. Karena dengan lebih merasakan maka hasilnya akan lebih istiqomah (menikmati).

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

5 Pendekatan Menuju Pendidikan Sukses

Ditulis oleh marsaja di/pada Juni 6, 2008

Ada banyak sekali teori-teori model pendidikan yang kita jumpai pada saat ini, mulai yang konvensional sampai dengan yang dikatakan modern. Semuanya menawarkan cara dan metode sukses mendidik, baik dari kalangan akademisi, para ahli, maupun praktisi pendidikan. Metode yang digunakan juga bervariasi, baik cara dari menjelaskan, praktek, maupun motivasi. Semuanya menawarkan dengan ciri khas masing-masing, sehingga diharapkan para peserta didik mampu menerima materi yang diajarkan.

Namun, dari berbagai model pendidikan tersebut, kita sebagai orang tua harus jeli dan teliti. Sehingga kita akan mampu menyaring setiap model tersebut. Jangan sampai anak kita hanya pandai tapi nakal, pintar tapi moralnya rendah, canggih tapi lupa adab, serba bisa tapi lupa jati diri. Lalu bagaimanakah sebenarnya pendekatan pendidikan yang baik, tepat, dan pas ? Sehingga cita-cita orang tua benar-benar terealisasi, orang tua bangga anak pun senang. Berikut ini lima (5) Pendekatan Pendidikan yang bisa kita renungkan dan kalau cocok silahkan diterapkan, diantaranya adalah :

1. Pendekatan Modeling / Teladan. Apapun yang dilakukan anak, pada awalnya karena melihat seseorang, melihat contoh, mengamati orang lain. Bahasa lainnya, anak melihat idolanya atau teladannya. Dan pendekatan ini memang cukup efektif bagi yang biasa berkecimpung dalam bidang pendidikan. Anak akan cenderung berbuat dengan sukarela karena mendasarkan pada idola yang disenanginya. Oleh karena itu baik kita sebagai orang tua, guru, saudara marilah kita mencoba untuk berusaha menjadi contoh yang baik dan bermoral, baik untuk anak didik kita maupun masyarakat luas.

2. Pendekatan Substansif bukan Kulit Luar. Dalam mendidik kepada anak, sudah seyogyanya  para orang tua atau guru mulai mengajarkan hal-hal yang bersifat substansif, yang esensial atau pokok, karena dengan membiasakan model pendekatan yang utama, anak akan terbiasa mempunyai prinsip atau pegangan utama. Sebaliknya, jika kita hanya berkutat pada kulit luarnya saja, maka anak nanti akan gampang terombang-ambing oleh keadaan yang serba tidak menentu ini. Dengan mengajarkan pada hal-hal pokok anak juga akan terbiasa menghargai orang lain, karena si anak mampu memdapatkan makna dari setiap yang dipelajari, pada akhirnya anak mampu melaksanakan pada kehidupan disekitarnya.

3. Pendekatan Pendidikan yang Tidak Diskriminatif. Sepantasnya bagi seorang atau lembaga pengelola sebuah pendidikan, mulai membuka diri memberi kesempatan kepada setiap orang untuk mengenyam pendidikan tanpa membeda-bedakan status, asal, kemampuan atau kekayaannya. Ketika anak belajar dengan teman-temanya yang berasal dari berbagai latar belakang, justru akan mumunculkan dampak yang posistif. Anak akan terbiasa berbagi dengan anak yang lain, saling peduli, saling berempati, tolong menolong. Anak juga akan terlatih menghargai setiap perbedaan dari anak yang lain. Alangkah indahnya jikalau anak mempunyai sifat saling menghormati, menghargai dan menyayangi.

4. Pendekatan Agama yang Understanble and Applicable (Teori dan Praktek). Setiap ilmu yang dipraktekkan atau diamalkan berarti anak akan merasakan secara langsung manfaat dari ilmu yang dipelajari. Sedangkan jikalau terus mempelajari ilmu tanpa dipraktekkan, maka hanya akan menghasilkan anak yang pandai secara terori saja, tanpa bisa memngamalkan. Biasanya tipe seperti ini jika menghadapi sebuah persoalan dampaknya akan tertekan, karena kenyataan kadang jauh berbeda dengan teori. Sedangkan yang terbiasa diamalkan, maka jika menghadapi persoalan  anak akan mampu berpikir dari setiap pengalaman yang dirasakannya, sehingga akan mampu melahirkan solusi yang kreatif dan kritis.

5. Pendekatan Kasih Sayang. Bagi orang tua atau lembaga pendidikan sudah selayaknya mampu menciptakan suasana yang kondusif, menyenangkan, dan mampu memunculkan motivasi yang tinggi bagi anak agar merasa butuh terhadap proses pembelajaran. Ketika mendidik mungkin kita kadang menjumpai anak yang nakal, tidak patuh mengerjakan tugas/PR, bandel, suka mengganggu anak yang lain, maupun kejelekan-kejelekan yang lain. Dari kejadian tersebut, biasanya orang tua atau guru akan memberikan hukuman. Namun, jika hukuman tersebut dirasa kurang adil, justru bukan hasil yang baik yang diperoleh tapi malah anak akan semakin marah bahkan bisa dendam. Lalu bagaimana ? Mari kita coba pendekatan kasih sayang, kita dekati, beri perhatian, kita ajak bicara dengan suasana yang baik. baru kemudia kita beri pengertian bahwa perbuatan salah akan berdampak tidak baik, dan sebaliknya. Hukuman mungkin perlu, tapi kalau bisa yang arahnya mendidik.

Begitulah, 5 pendekatan yang bisa kita renungkan bersama untuk kemudian kita laksanakan baik terhadap anak sendiri maupun di sekolah, ingat ketika mengajar di sekolah berarti pada dasarnya mereka adalah anak-anak kita sendiri, seingat saya guru adalah orang tua kedua setelah orang tua kandung, iya kan!. Maka mari kita doakan pada anak-anak supaya menjadi anak yang sholih dan sholihah. Bukankah segala yang menentukan baik dan buruknya manusia karena Alloh SWT, bukan kita. Walaupun kita sebagai orang tua maupun guru memang berkewajiban mendidik, tetapi hasilnya kita pasrahkan kepada  Alloh SWT, jika berhasiol kita wajib bersyukur, jika  belum berhasil, kita sepantasnya untuk bersabar dan teruis berusaha.

Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »

Resep Hidup Nikmat

Ditulis oleh marsaja di/pada Juni 2, 2008

Ada sebuah resep hidup yang patut kita renungkan agar hidup kita benar-benar nikmat baik lahir maupun batin. Resep hidup nikmat tersebut adalah “Neng, Ning, Nung, dan Neng“.

Sebelum berbuat hendaklah seseorang harus memperhatikan bahwa perasaannya tenang, terang dan diam (Neng = Meneng), hanya dengan meneng jiwa dan batin kita akan menjadi jernih (Ning = Bening), dengan bening ia kan dapat berpikir dengan baik (Nung = Anung). Dengan cara itu, maka akan diperoleh saat-saat terbaik untuk memecahkan persoalan paling efektif dan efisien, termasuk bidang ekonomi (Nang = Menang).

Usaha untuk mencapai kemenangan itu memang harus diupayakan, namun jangan sampai merugikan orang lain, justru harus untung dan menguntungkan. Seperti istila “Menang tanpo ngasorake” Menang tanpa merendahkan. itulah konsep hidup yang bisa menentramkan diri dan orang lain, karena tidak ada yang dirugikan sebaliknya semua diuntungkan baik lahir maupun batin

Ditulis dalam Bekal Hidup | 1 Komentar »

Karena Firman-Nya

Ditulis oleh marsaja di/pada Juni 2, 2008

Ada sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan, sebelum kita menjawabnya. Sebuah hakikat penciptaan dan makna hidup.

Titik” itu ada / tidak ? Tidak ! kecuali bergantung pada Garis. “Garis” itu itu ada / tidak ? Tidak ! kecuali bergantung pada Bidang. “Bidang” itu ada / tidak ? Tidak ! kecuali bergantung pada Ruang. “Ruang” itu ada / tidak ? Tidak ! kecuali bergantung pada Firman-Nya (Dr. Damardjati Supadjar).

Ibarat titik, ternyata semua yang ada dan tampak di alam semesta ini semua karena Firman-Nya, karena memang ciptaan Alloh SWT. Antar satu dengan yang lain memang ada proses saling ketergantungan atau saling membutuhkan. Antara manusia satu dengan yang lain juga saling membutuhkan. Misalnya kalau kita butuh nasi/beras tentu yang berjasa adalah Petani, butuh rumah kita harus beli bahan-bahannya untuk membangun, butuh siraman rohani kita bisa mendengarkan pengajian, dll. Apa ada manusia yang merasa tidak membutuhkan orang lain ?.

Ternyata antara makhluk yang satu dengan yang lain, baik manusia, hewan, dan tumbuhan secara kodrati memang cenderung saling membutuhkan. Sedangkan makhluk itu sendiri pada dasarnya wajib mengingat bahwa kita semua ada karena diadakan, diciptakan, karena Firman-Nya. Jadi, sepantasnya kita juga taat dan tunduk terhadap aturan-aturan yang ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa. Kalau ada manusia yang masih sombong, takabur, membangga-banggakan harta, kedudukan, maupun Yang ia punya, sesungguhnya itu adalah cerminan manusia yang bodoh. Karena harta, kedudukan adalah merupakan amanah yang harus kita jaga. Karena memegang amanah sesungguhnya memegang beban yang sangat berat. tetapi kenyataan menunjukkan banyak sekali orang yang berlomba-lomba dengan berbagai cara untuk meraih harta dan kedudukan tersebut, apakah mereka tidak ngerti dan paham bahwa kelak akan dimintai pertanggung jawabannya.

Tapi kalau kita sadar dan ingat bahwa kita diciptakan dan dipercaya didunia ini. Maka sikap dan tingkah laku kita sepantasnya berdasarkan aturan-aturan yang telah ditentukan. Kita berusaha untuk menjaga kelakuan kita, menjaga sikap dan tabiat kita agar tetap pada jalur yang lurus. Dan yang terpenting menjaga pribadi kita. Karena rusaknya moral sebenarnya manusia tidak menyadari tentang hakikat diri dan pribadi masing-masing. Maka dari itu, marilah kita berusaha untuk sadar dan ingat dengan cara “eling lan waspada” dengan memperbaiki kualitas diri baik keimanan, keislaman, dan keihsanan kita masing-masing dengan mengerti, memahami, dan tanggap terhadap diri dan pribadi kita. Maka  marilah kita renungkan sebelum kita bertindak.

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »