Ditulis oleh marsaja di/pada Mei 28, 2008
Secara umum yang dimaksud dengan kebudayaan adalah suatu proses/hasil krida, cipta, rasa, dan karsa untuk menjawab tantangan hidup manusia. Manusia cenderung tidak puas dengan hanya apa yang terdapat dalam alam kebendaan. Manusia juga ingin memiliki wawasan dan tujuan hidup tertentu sesuai dengan kesadaran dan cita-citanya. Ada enam nilai budaya yang sangat menentukan watak etika dan kepribadian manusia atau masyarakat. Enam nilai budaya tersebut sangat menentukan konfigurasi kepribadian dan norma
Enam nilai budaya tersebut adalah Pertama, Nilai Teori / Ilmiah yang mampu melahirkan idealisme. Jika nilai ilmiah yang utama akan menghasilkan sikap rela berkorban untuk pengembangan ilmiah, jika tidak hati-hati bisa terjerumus ke arah materialis dan sekulerisme. Kedua, Nilai Ekonomi, Jika nilai ini yang mendominasi akan cenderung ke arah paham materialis, sehingga untuk mencapai keuntungan akan menghalalkan segala cara. Ketiga, Nilai Kekuasaan yang arahnya untuk mencapai sebuah kedudukan (jabatan), Jika ini sebagai nilai utama maka orang kategori ini akan berusaha merebut dan selalu ingin mempertahankannya. Ketiga nilai tersebut termasuk Budaya Progresif yang arahnya memang cenderung dinamis dan berkembang.
Nilai budaya berikutnya adalah Nilai Agama, Nilai Seni, dan Nilai Solidaritas yang berdasarkan rasa, perasaan , intuisi, dan imajinasi. Ketiga aspek ini dinamakan Budaya Ekspresif yang berwatak konservatif. Jika nilai-nilai agama tidak didukung pemikiran yang rasional bisa terjerumus pada penghayatan serba mistik dan gaib yang ekstrim dan irasional.
Lalu bagaimanakah yang utama bagi kehidupan manusia? Yaitu dengan mengembangkan budaya yang memiliki keserasian nilai progresif dan ekspresif, hal ini hanya mungkin jika nilai agama dijadikan sendi utama dan didukung oleh nilai teori dan ekonomi. (Prof. Simuh)
Ditulis dalam Bekal Hidup | Leave a Comment »
Ditulis oleh marsaja di/pada Mei 26, 2008
” Kali Ilang Kedunge ” yang berarti pendangkalan makna hakikat hidup, itulah gambaran/kias yang pas dan tepat untuk melukiskan kehidupan bagi orang-orang yang belum memahami makna hakikat hidup di dunia. Lalu, bagaimana agar kita tidak kehilangan makna hidup yang sesungguhnya. Pertama, apa yang perlu diketahui dan diakui tentang keberadaan kita ? jawabannya “Hidup kita”. Hidup Kita sebenarnya hidup yang dihidupi atau hidup yang menghidupi ? Kalau kita bisa menjawab dengan tepat pertanyaan itu, maka kita sudah termasuk mulai bisa merasakan makna hakikat hidup.
Bila kita yakin bahwa hidup kita karena dihidupi bukan hidup yang menghidupi, berarti kita yakin akan keberadaan Sang Pencipta, yang Maha Kuasa. Maknanya kita akan berusaha untuk taat dan patuh pada aturan-aturan yang dibuat oleh Alloh SWT. Jadi kalau ada yang tidak taat terhadap aturan Alloh SWT, berarti orang tersebut tidak sadar bahwa kita hidup ada yang menghidupi. Sebaliknya bagi yang termasuk taat, artinya orang itu sadar terhadap hidupnya.
Kadang manusia dalam mengarungi hidupnya hanya terjebak pada satu pandangan saja, yaitu pandangan mata (pandangan lahir), sehingga kita biasanya secara tidak sadar akan terjebak pada sesuatu yang kasat mata saja, sesuatu yang gebyar saja, seuatu yang tampak dari luarnya saja, tanpa bisa merasakan sesuatu yang berada didalam. Apabila kita melihat sesuatu dengan dua mata, yakni mata lahir dan mata batin (rasa), maka kita akan mampu memandang setiap persoalan dengan lebih bijaksana dan lebih luas (mendalam).
Misalnya, buah rambutan kalau kita hanya melihat luarnya berati kita hanya akan menemukan kulitnya saja, sedangkan bila kita mampu me-rasa-kan berati kita mampu merasakan buahnya (bukan isinya lhoo). Dan yang bisa memberikan manfaat tentunya rasanya, sehingga dari memakan atau merasakan buahnya tadi akan mendatangkan manfaat dari segi kandungan gizi (vitamin, dll). beda kan bila yang dimakan kulitnya, tentu bukan manfaat yang diperoleh tetapi penyakit (masalah) yang kita dapatkan.
Orang yang hanya tahu bahwa sate enak, tentunya hasilnya lain dengan yang bisa me-rasa-kan sate memanag nikmat. Oleh karena itu, marilah kita mencoba untuk menyempurnakan pandangan kita dengan melihat secara jeli dan teliti dengan cara menggunakan dua pandangan kita yaitu mata lahir dan mata batin, caranya yaitu kita melihat dengan Pancaindera kemudian kita tembuskan dengan Rasa (Roso) kita, sehingga hasilnya akan lebih sempurna. Terakhir, mari kita renungkan setiap langkah kita sebelum kita laksanakan, sehingga akan memperoleh hasil yang pas dan tepat.
Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »
Ditulis oleh marsaja di/pada Mei 25, 2008
Dalam jagad pakeliran biasanya terdapat tokoh pelaku empat serangkai yang terkenal dengan sebutan “Punokawan” yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Masing-masing tokoh mempunyai karakter yang unik dan berbeda-beda. Dalam pentas pakeliran, tokoh punakawan mempunyai tugas utama yaitu mendukung tokoh satria, disamping juga bertugas mengkritik kondisi sosial-budaya, ekonomi, politik kehidupan sehari-hari.
Sebenarnya, istilah punokawan diambil dari mana dan apa artinya. Berikut ini ulasan yang bisa kita renungkan, kita rasakan, kita maknai sehingga memperoleh gambaran yang jelas dari keempat karakter punokawan tersebut. sehingga kita tidak akan terjebak pada pemikiran memvonis dulu sebelum mengerti/memahami makna dibalik gambaran karakter tokoh punokawan pada jagad pakeliran/pewayangan.
Istilah Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong sebenarnya diambil dari bahasa Arab. Pertama, Semar berasal dari kata “Ismar” yang artinya paku/pengokoh, diambil dari kata “Al Islamu Ismaruddunya” yang artinya Islam adalah pengokoh keselamatan dunia. Kedua, Nala Gareng (Gareng) berasal dari kata Nala Qoriin yang artinya memperoleh banyak teman, maknanya untuk memperoleh sebanyak=banyaknya kawan untuk kembali kejalan Tuhan dengan sikap arif dan harapan yang baik. Ketiga, Petruk berasal dari kata Fatruk yang merupakan wejangan tasawuf tingkat tinggi, yaitu Fat-ruk Kulla Maa Siwallahi (tinggalkan semua apapun yang selain Alloh SWT). wejangan ini merupakan karakter dan watak pribadi para wali dan mubaligh pada jamannya. Keempat, Bagong berasal dari kata Baghaa yang artinya berontak (berontak terhadap kebatilan/kemungkaran suatu/tindakan anti kesalahan.
Penambahan tokoh punokawan tersebut dilaksanakan ketika terjadi krisis pada kerajaan Majapahit, dilain pihak Islam mulai berkembang di pesisir utara pulau Jawa. Untuk berdakwah, para wali cukup jeli dalam menampilkannya, termasuk mengubah karakter dalam agama Islam ke budaya Jawa khususnya di wayang. sehingga melalui keempat karakter punokawan tersebut lebih mudah diterima masyarakat Jawa, yang tujuannya tiada lain adalah memahamkan rakyat tentang keluhuran agama Islam melalui metode kesenian wayang, karena pada saat itu rakyat kecil sangat menyukai kesenian tersebut. Para wali, terutama walisanga jeli memanfaatkan momen tersebut, sehingga dengan kecerdasan dan kejeliannya memasukkan nilai-nilai Islam kedalam tontonan wayang yang akhirnya bisa dijadikan sebagai tuntutan untuk mendidik rakyat kecil supaya memeluk Islam. Wallahu a’lam bishowab.
Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »
Ditulis oleh marsaja di/pada Mei 23, 2008
Manusia seperti wayang begitulah ibaratnya. hidup di dunia ini diatur oleh dalang, yaitu Gusti yang Maha Agung, yang menguasai seluruh alam. Manusia hanya sekedar menjalani (mung sa’derma), sesuai kehendak dalangnya, tetapi berhak berusaha, memeperjuangkan tercapai cita-cita. Dalam menemukan kewajiban kehidupan .
Wahai sahabat jangan ada lupa, terhadap kewajiban manusia yang utama, yaitu : Memelihara ketentraman dunia, Melenyapkan kebalikan, Selalu berbakti kepada Tuhan siang maupun malam, Mencintai sesama dengan sesanti yang benar dan selalu menang. Yang salah akan punah, bermula menjangkau orang lain, itu adalah amal yang nyata, amal lahir dan amal batin. Selalu giat bekerja, Sepi dari ambisi pribadi, Suka memberi pertolongan, Menerangi hati yang gelap, Pantang merugikan orang lain, Siap sedia mengalah, Demi kerukunan hidup bersama.
Ditulis dalam Bekal Hidup | Leave a Comment »