MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Arsip untuk April, 2008

4 Sifat Manusia = 5 sempurna

Ditulis oleh marsaja di/pada April 22, 2008

Manusia diciptakan terdiri atas 4 unsur yang saling mendukung. Pada dasarnya juga terbagi pada 4 sifat mendasar yang dimiliki setiap individu. yang dimaksud 4 unsur ataupun sifat tadi adalah Amarah (air), Alwamah (Api), Sufiyah (angin), dan Mutmainah (tanah). Masing-masing unsur atau sifat tadi mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.

Pertama, Air memiliki sifat mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah, kalau kita bangunkan salurannya maka air akan mengalir sesuai dengan jalurnya dan bisa memanfaatkannya untuk kebutuhan manusia, seperti untuk saluran irigasi sawah, ladang, perkebunan, dll. Akan tetapi, kalau saluran air tersebut dibendung tanpa ada saluran pelimpahnya, maka bisa dibayangkan air akan meluber kemana-mana dan tumpah ruah ke segala arah, yang akhirnya bisa membuat bencana. Seperti banjir, kalau salurannya tidak cukup maka bisa berakibat fatal.

Seperti itulah gambaran amarah, jika kita tidak mampu mengontrolnya maka amarah akan berdampak buruk bagi kita sendiri, keluarga, sahabat, teman kerja atau bagi orang lain. Amarah mampu menghancurkan hubungan persaudaraan, ukhuwah, dll. Tapi, jika amarah ditempatkan pada situasi dan keadaan yang tepat, maka bisa menghasilkan manfaat. Oleh karena itu, sebaiknya masing-masing pribadi bisa mengontrol sifat amarah tadi supaya tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Sebaliknya malah bisa mendatangkan manfaat bagi yang lain. Amarah bisa digunakan untuk membangkitkan motivasi bagi orang lain.

Kedua, Api memiliki sifat menghabiskan sesuatu yang terbakar. Api mampu menghanguskan setiap benda yang dilalapnya. Tidak tersisa sama sekali. Tapi, jika kita mampu menggunakanya, maka ada keuntungannya. misalnya, untuk memasak dengan kayu kita butuh api untuk membakarnya

Untuk membakar sampah kita juga memerlukan api. Untuk menghangatkan suasana ketika suhu dingin juga bisa, dll.
Begitulah gambaran dari alwamah. Ya, api merupakan lambang dari sifat serakah, iri dan dengki, selalu ingin menang, sifat yang kecenderungannya untuk mempunyai segala sesuatu baik materi, jabatan, pengaruh, kekuasaan, tanpa ada batasnya. Jika kita tidak mampu mengontrol sifat serakah tadi, maka niscaya kita akan terus diperbudak oleh keserakahan tadi, terus merasa kurang dan tidak pernah merasa cukup. Ada tetangga beli TV terbaru, kita bingung juga ingin beli yang lebih baru, dan seterusnya. Tapi, bila kita mampu memanajemen sifat tadi maka kita tidak akan gampang terpengaruh tetangga, situasi dan kondisi apa pun, karena kita merasa cukup. Sebaiknya sifat serakah tersebut kita pendam, dan kita munculkan sifat orang yang pandai bersyukur.
Ketiga, Angin bersifat menghembuskan udara, membuat suasana yang gerah menjadi segar (isis/semilir), juga mampu mengirim bau-bauan apa adanya. Angin kadang bisa menjadi media perusak bila kecepatannya kencang atau putarannya deras, seperti angin puting beliung.

Begitulah perumpamaan dari sufiyah. Angin merupakan lambang dari sifat kejujuran. Mengatakan apa yang terlintas dari hati nuraninya, tidak pernah bohong, selalu mengatakan benar bila itu benar dan sebaliknya. Sedangkan orang yang tidak jujur akan mengakibatkan sesuatu yang negatif. orang yang gampang menfitnah akan mengakibatkan masalah menjadi tidak karuan. bisa menyebabkan perselisihan, pertengkaran, terputusnya persaudaraan, bahkan mungkin ke arah peperangan. Oleh karena itu mari kita berusaha untuk selalu berbuat atas dasar suara hati, sanubari, dan nurani serta kejujuran.

Keempat, Tanah bersifat qonaah, menerima apa adanya. Tanah dapat kita manfaatkan untuk kita tanami apa saja sehingga mampu menghasilkan, kita kelola untuk tambak, kolam, dll. tanah juga tidak pernah marah apabila kita membuang sampah dan kotoran di atasnya.

Itulah gambaran dari mutmainah. Tanah merupakan lambang dari qonaah, nrima ing pandum, selalu bersyukur dan tidak pernah mengeluh. Karena sifat tanah yakin terhadap yang menciptakannya, maka harus taat dan tunduk pada aturan Alloh swt. Akan tetapi bila tanah tidak dimanfaatkan dengan baik, seperti hutan-hutan yang digunduli maka bisa mengakibatkan sesuatu yang fatal, seperti longsor dan banjir. Oleh karena itu mari kita rawat sifat tersebut pada pribadi kita sehingga mampu menghasilkan sifat yang benar-benar qonaah dan tidak gampang berkeluh kesah.

Kelima, cahaya bersifat menerangi kegelapan, mampu menyinari ke segala penjuru dunia, kecepatannya juga luar biasa. Itulah perumpamaan cahaya. Cahaya adalah lambang dari ruh, ruh bersifat suci, merupakan inti dari keberadaan manusia. ruh adalah jiwa kita, batin kita. Orang kalau sudah pada tataran suci maka ia akan mampu melihat semuanya, mampu melihat rahasia-rahasia yang semua orang belum tentu tahu. mampu mendatangkan manfaat bagi orang lain. Orang yang sucilah yang akan selamat baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Maka dari itu, mari kita manajemen sifat-sifat kita mulai dari amarah, alwamah, sufiyah, dan mutmainah. sehingga sifat-sifat tadi mampu membawa manfaat dan rahmat bagi kepribadian kita. Keempat tersebut kita genapkan menjadi lima sempurna yang merupakan inti dari ruh manusia yang memiliki sifat bersih dan suci, yang tiada lain adalah anugerah dari Alloh swt. mari kita tampilkan sifat dan sikap yang tercermin dari hati kita yang paling dalam, yang memancarkan cahaya kesucian, sehingga orang lain akan merasa damai dan tentram di dekat kita.

Ditulis dalam Bekal Hidup | 1 Komentar »

Niat Lillah & Billah

Ditulis oleh marsaja di/pada April 22, 2008

Setiap kita melakukan sesuatu, sebenarnya semuanya tergantung dari niatnya. “sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya”. Kalau kita berniat baik, Insya Alloh kita nanti akan dibimbing ke arah yang baik, dan sebaliknya. Semuanya tergantung dari niatnya.

Kenapa niat begitu penting? Karena niat adalah posisi awal kita berangkat sebelum mengerjakan amal. Kalau dari niatnya saja sudah kurang pas, maka hasilnya juga kurang optimal. Dalam urusan ibadah seharusnya juga begitu. Kita luruskan niat kita sebelum mengerjakan amal ibadah. Dalam urusan ibadah, niat yang paling pas adalah Lillah (karena Alloh). Marilah kita tata niat kita semata-mata karena Alloh swt. Kita sebagai makhluk yang diciptakan, sudah sepantasnya mengabdi kepada yang menciptakan, kita sebagai hamba sudah sepantasnya mengabdi kepada yang Maha Pencipta. Ibaratnya, kalau kita sebagai anak buah sepantasnya taat pada juragan (bukan malah demo).

Jika kita sudah bisa menata niat kita hanya karena Alloh, maka sebaiknya ditingkatkan ketika mengamalkan ibadah, yaitu Billah (Ikhlas). Pada saat beramal, sebaiknya kita jangan mengharapkan apa-apa (ikhlas lahir batin). Karena kalau kita sudah bilang ikhlas, tapi dalam hati kita masih berharap (materi, harta, balasan, dll) berarti keikhlasan kita diragukan. Antara yang diucapkan dan yang dilakukan seharusnya ada kecocokan, antara yang dipikir dengan yang ditindakkan ada kesinambungan. Kalau sudah pada posisi mengamalkan, maka sebaiknya kita sudah pasrah, tawakal kepada Alloh, sehingga antara raga, jiwa benar-benar sudah menyatu secara lahir dan batin.

Pada saat mencapai posisi yang seperti itu berarti kita insya Alloh sudah masuk pada tataran kekhusukan atau istiqomah. Sedangkan orang yang sudah istiqomah, adalah orang yang benar-benar sudah bisa merasakan nikmatnya beribadah (orang yang diberi nikmat oleh Alloh SWT). Sementara, orang yang sudah merasakan nikmat ibadah maka ia akan semakin rajin melaksanakannya. “Beda kan orang yang hanya melihat atau mengetahui sate dengan orang yang bisa merasakan sate”.

Oleh karena itu, orang yang sudah masuk tingkatan istiqomah, itulah orang yang disebut sebagai hamba yang bertaqwa. Tandanya adalah orang yang suci dan bisa mensucikan (orang yang bisa mengambil manfaat dan bermanfaat bagi orang lain). Ibaratnya orang tersebut adalah sumur, dan air sumur bisa dimanfaatkan orang lain. Konsep ibadah yang seperti inilah yang disebut sebagai konsep “Lillah dan Billah”.

Ditulis dalam Bekal Hidup | 1 Komentar »

Merangsang Aktif Membaca & Komputer Anak

Ditulis oleh marsaja di/pada April 21, 2008

Bagaimana melatih dan merangsang anak yang suka membaca dan menggunakan komputer agar tidak bosan? Berikut ini tips untuk merangsang agar tetap aktif baik saat membaca dan menggunakan komputer, diantaranya adalah :

Untuk yang hobi membaca, kemampuan membaca perlu dipertahankan dengan memberikan buku-buku yang lebih variatif dan edukatif. Untuk menghindari kebosanan anak, silahkan anak diajak ke toko buku supaya bisa memilih sendiri buku yang disenanginya.

Sedangkan untuk mengembangkan kegemaran komputer, berikan sofware program yang lebih menantang sehingga kreativitasnya jauh lebih berkembang. Tolong hindari game-game yang berbau kekerasan karena bisa menimbulkan dampak negatif. Ada baiknya kita sebagai orang tua juga memberikan permainan edukatif yang berbentuk tiga dimensi dan melibatkan temannya secara kolektif. Misalnya, balok konstruksi atau permainan rancang bangun sehingga kecerdasan spasial (ruang) dan sosialnya juga berkembang.

Selanjutnya untuk mengasah kemampuan anak bisa dengan mengarahkan anak agar suka membantu temannya (menjadi tutor sebaya). Dengan begitu, ada dua sisi positif yang bisa diperoleh. Pertama, bagi si anak bisa mengembangkan kemampuannya, sementara bagi anak yang dibantu akan lebih mudah memahami sesuatu karena dibantu teman sebaya. hanya yang perlu diarahkan, kapan anak harus membantu temannya, dan kapan tidak boleh.

(Sumber : Klinik Pendidikan JP-Unesa)

Ditulis dalam Pendidikan | 1 Komentar »

Mengarahkan Anak Kecil agar Mandiri

Ditulis oleh marsaja di/pada April 21, 2008

Antara lincah dan nakal seringkali orang tak bisa membedakannya. Kita mengira anak yang baik harus selalu diam, tak banyak tingkah dan ocehan. Padahal justru anak yang terlalu diam dan pasif akan sulit berkembang.

Andi Misalnya, yang berusaha menalikan sendiri sepatunya. Karena tak bisa, jadinya justru ruwet dan butuh waktu lama untuk membenahinya kembali. Sebenarnya tingkah Andi bukannya karena iseng, tetapi menunjukkan tanda-tanda perkembangan kemandirian. Setiap anak kecil yang normal, pasti akan melewati tahap perkembangan ini. Masa yang mendidik jiwa mereka untuk mengerti apa arti kata mandiri. Lantas bagaimana langkah terbaik yang harus diambil orang tua? Berikut ini cara mengarahkan anak supaya bisa mandiri, diantaranya :

Pertama, mengarahkan dengan penuh kesabaran. Yanh harus diketahui keinginan-keinginan anak untuk mandiri itu tidak boleh dikekang apalagi dimatikan. Yang benar adalah diarahkan. Merepotkan? sudah jelas. Kalau tak mau repot tak usah punya anak saja. Tak seorang anakpun yang tidak membuat ibunya susah. Kesabaran harus menjadi modal utama. Bukan itu saja, tak jarang sejumlah materi pun harus ikut direlakan. Ketika anak belajar minum dengan tangannya sendiri, dua tiga gelas pecah berantakan jadi korban. Tak apa, seberapa harga gelas dibanding hasilnya? Kadang anak suka menghamburkan nasi atau sayur, sementara bila dilarang, anak-anak itu akan marah besar.

Kedua, melarang dengan diawali pujian. Memarahi anak-anak seperti ini bukanlah tindakan yang benar. Tetapi untukmengarahkan, juga tidak gampang. Yang jelas butuh kesabaran tingkat tinggi. Sekali dua kali ibu membiarkan anak mengisi penuh piringnya dengan bersemangat. Bahkan pujian pun diberikan. Pintarnya anak ibu ya, bisa makan sendiri. “Barulah untuk kali berikutnya ibu menambahkan, “Tapi nasinya jangan banyak-banyak, nanti tidak termakan semua. Insya Alloh metode larang yang didahului dengan pujian seperti ini akan lebih mudah dituruti anak-anak dengan senang hati.

Ketiga, bangkitkan semangat anak. Ucapkanlah kata-kata yang bisa membangkitkan semangat anak-anak, agar keinginan mandiri bertambah besar. Tidak semestinya orang tua justru melontarkan celaan ataupun sekedar ucapan yang menunjukkan keraguan kemampuan anak. “Jangan, kau belum bisa menalikan sepatumu sendiri!” Kata-kata seperti inilah yang akan mematikan hasrat anak untuk mencoba sendiri. Kita harus membiarkan anak-anak untuk berusaha mandiri. Alangkah baiknya jika orang tua tak usah turun tangan membantu sebelum mereka sendiri minta pertolongan.

Keempat, jangan terlalu membimbing anak. Sebaiknya jangan terlalu banyak memberikan bimbingan dan pemberitahuan sebelum anak-anak berusaha keras mengerjakan sendiri. Ada kalanya kesalahan maupun kegagalan masih lebih baik ketimbang larangan keras dari orang tua sebelum anak sempat mencoba. Para ahli mengatakan, anak-anak yang terlalu sering dibimbing, diberi tahu maupun dicegah, kelak akan berkembang menjadi orang yang kurang berani dalam mengambil tindakan maupun keputusan. Mereka akan cenderung bersikap terlalu berhati-hati. Sebaliknya, kepada  anak-anak yang terlalu pasif dan sejak semula tak memiliki keinginan untuk melakukan satu hal yang baru, orang tua harus bisa memancing keaktifannya.

Kelima, mengganti dengan benda lain yang serupa. Kadang tingkah anak-anak mencoba-coba itu menyangkut hal yang berbahaya. Banyak ibu ngeri melihat putra-putrinya memegang pisau dan gunting. Lantas memberlakukan larangan amat keras bagi anak-anak itu untuk memegang benda-benda tajam itu. Elsa misalnya, yang suka ikut-ikutan ibunya memasak di dapur. Si kecil suka meniru ibunya mengiris-iris di atas talenan. walaupun penuh resiko, ibunya tak pernah memarahi tingkah Elsa yang sebenarnya punya niat membantu itu. Ibu memberikan pisau roti yang tidak tajam lagi. Jika mengenai tangan tidak menyebabkan luka yang menyakitkan.  

Keenam, Mengalihkan perhatian kepada yang lain. Ibu juga bisa mengalihkan keinginan anak dari pekerjaan berbahaya itu. Beri kesempatan ia memegang pisau sebentar saja, lantas alihkanlah perhatiannya ke hal lain, ” Nah sudah selesai iris-irisnya. Terima kasih ya, Elsa sudah bantu ibu. Sekarang Elsa bantu petik-petik sayur saja, terus dicuci ya?”.

Ketujuh, Jangan menunjukkan sikap khawatir. Tindakan yang dilakukan ibu bukannya mematikan keingnan anak, melainkan mengarahkannya. Ini jauh lebih baik daripada menunjukkan sikap khawatir terhadap keinginan anak dengan berkata, “Aduh …. Elsa nggak usah pegang pisau, bahaya. Kalau kena tangan bisa putus nanti …”. Kekhawatiran ibu akan tertangkap oleh Elsa. Saat-saat selanjutnya Elsa akan terpengaruh dan ikut khawatir terhadap benda yang namanya pisau sehingga tidak lagi punya keinginan untuk berupaya melakukan sendiri kebutuhannya yang berkaitan dengan pisau. Elsa tak punya keinginan untuk mengiris roti tawar miliknya dan tak mau mencoba mengupas buah apel pemberian ayah.

(Sumber : Majalah Al Haromain)

Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »

Manajemen Belajar Anak Suka PS

Ditulis oleh marsaja di/pada April 21, 2008

Fakta tentang kondisi anak-anak masa sekarang ini, menunjukkan sebuah perubahan pola atau gaya permainan yang dari permainan budaya, olah raga menuju permainan berbasis teknologi komputer dalam hal ini permainan game (PS). Sebagai orang tua kita cukup merasa resah, gelisah, dan khawatir terhadap pola perubahan perilaku anak, hampir semua anak-anak usia sekolah semua keranjingan terhadap game. Bagaimana sikap kita sebagai orang tua/pendidik menghadapi fenomena seperti ini. Padahal usia anak tersebut seharusnya adalah masa-masa belajar atau menuntut ilmu.

Berikut ini wawasan yang bisa membuka cara pandang kita terhadap perilaku anak agar hobi gamenya tidak melupakan tugas utama untuk belajar. Anak yang suka bermain PS bukanlah sebuah gangguan. Tapi, justru sebuah manfaat bagi anak. Manfaat yang dapat dipetik adalah anak dapat mengembangkan kecerdasan inteletual (kognitif), visual (gambar), dan spasial (ruang). Kebiasaan tersebut perlu dikembangkan lebih lanjut misalnya dengan menuliskan kembali apa yang telah dimainkan anak.

Contoh kasus, berkat bermain game, Ali Reza umur 12 tahun telah dapat membuat novel karya sendiri dan sekarang telah diterbitkan. Ali Reza mengatakan bahwa berkat bermain game di PS banyak gagasan yang membantu tulisannya. Ataka, 11 tahun dari Yogyakarta, juga menghasilkan novel petualangan setelah banyak bermain PS.

Cara lain, untuk menyeimbangkan bermain PS dengan tanggung jawab belajar, ibu perlu melakukan penjadwalan. Bermain PS dan permainan komputer lainnya adalah tindakan belahan otak kiri yang berorientasi pada hasil. Agar gaya berpikirnya seimbang antara belahan otak kiri dan kanan, anak juga perlu diberi kesempatan untuk bersosialisasi dengan teman-temannya. Jika hanya berorientasi pada belahan otak kiri, anak akan lebih senang menyendiri ketika gugup, gelisah, dan marah.

Anak jenis ini adalah anak-anak teknologi yang dalam perkembangan ilmu pendidikan termasuk kelompok anak indigo. Anak indigo adalah anak yang menunjukkan seperangkat atribut psikologis baru dan luar biasa serta menunjukkan pola perilaku unik yang dapat dikatakan berpola baru. Maksudnya adalah pola yang ketika kita masih kecil tidak ada.

Anak indigo adalah anak terkomputerisasi yang berarti bahwa mereka akan menjadi lebih kepada kepala (pikiran) daripada hati (emosional). Untuk itu pengembangan hati perlu juga diintensifkan pada anak tersebut. Jadi kita sebagai orang tua/pendidik perlu memberikan kesempatan bagi anak untuk bersosialisasi, supaya belahan otak kanan juga ikut berkembang. Justru, dari sosialisasi anak bisa menyalurkan ide kepada teman-temanya, anak bisa menjadi kreator bagi yang lainya, anak bisa mengembangkan emosionalnya, dan masih banyak manfaat dari lainnya

(Sumber : Klinik Pendidikan JP-Unesa)

Ditulis dalam Pendidikan | 1 Komentar »

Trisakti

Ditulis oleh marsaja di/pada April 21, 2008

Manusia pada dasarnya menginginkan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat. Ada banyak cara dan jalan untuk menuju ke arah sukses tersebut. Berikut ini ada tiga kunci pokok jika kita ingin meraih kesuksesan baikdunia akhirat, di antaranya adalah  :

1.   Takholli, yaitu mensucikan hati kita, selalu berprasangka baik (Husnudhon). Istilahnya adalah menengok kekanan atau berpikir positif. Dalam setiap langkah, jangan lupa untuk selalu menjaga niat kita agar jangan sampai kotor, jaga terus supaya tetap bersih dan suci. Karena dengan kesucian hati, dalam setiap memandang masalah kita nanti insya Alloh akan mampu berbuat adil, tidak berat sebelah. Kita mampu memecahkan masalah dengan baik dan tanpa berprasangka dulu. Beda kalau di hati kita sudah ada rasa prasangka, biasanya hasilnya nanti juga kurang baik.

2.   Tahalli, yaitu berbuat/beramal baik kepada Alloh SWT. Karena kita sebagai makhluk Tuhan, maka kita harus ikhlas untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya. Disamping kita mengerjakan yang wajib, tentu kita bisa memperbanyak amal-amal sunah lainnya. Manusia yang paling dikasihi disisi Alloh SWT adalah manusia yang mempunyai derajat taqwa.

3.   Tajalli, yaitu berbuat baik kepada sesama makhluk baik tumbuhan, hewan maupun manusia. Karena kita hidup bersama dengan makhluk yang lain, maka kita harus berbuat baik kepadanya. jangan lupa kita sebenarnya sangat tergantung kepada yang lain, baik terhadap tumbuh-tumbuhan, hewan maupun sesama manusia. manusia sebagai makhluk sosial sangat membutuhkan keberadaan manusia lain. Oleh karena itu sebagai manusia seyogyanya untuk saling menghormati, menghargai, menyayangi, dan memaafkan.

Ketiga kunci pokok di atas kami beri nama “TRISAKTI“. Tiga resep yang bisa membekali hidup kita dengan perbuatan-perbuatan yang mulia. Mari kita renungkan dan melaksanakan dengan penuh keikhlasan.

Ditulis dalam Bekal Hidup | Leave a Comment »

Kelebihan Manusia

Ditulis oleh marsaja di/pada April 20, 2008

Manusia diciptakan dengan dianugerahi kelebihan dibanding makhluk lainnya. Yaitu, cipta, rasa dan karsa. Dari ketiga kelebihan tadi masing-masing bisa dikembangkan ke dalam potensi-potensi. Potensi yang bersumber dari cipta, yaitu potensi intelektual atau intelectual quotient (IQ). Potensi dari rasa, yakni potensi emosional atau emosional quotinet (EQ) dan potensi spiritual (SQ). Sedangkan potensi yang bersumber dari karsa, adalah potensi ketahanmalangan atau adversity quotient (AQ) dan potensi vokasional quotient (VQ).

Dengan IQ, manusia mampu menyatakan benar dan salah berdasarkan inteletual. Kita mampu menghitung, membuat konstruksi bangunan, menyusun program, dan sebagainya. Dengan EQ, manusia mampu mengendalikan amarah, memiliki rasa iba, kasih sayang, tanggung jawab, kerja sama, dan kesenian (estetika). Dengan adanya ini muncul sikap sabar, lemah lembut, ataupun sebaliknya. Dengan SQ, manusia membedakan mana yang baik dan yang buruk. Potensi ini sangat terkait dengan etika atau nilai-nilai moral, baik dan buruk, serta nilai-nilai keagamaan.

Dengan AQ, manusia mampu menghadapi berbagai hambatan dan tantangan hidup. Dengan adanya ini muncul sikap tabah, tangguh, memiliki daya juang, dan kreatifitas. Dengan VQ, manusia mampu dan cenderung pada bidang-bidang keterampilan atau kejuruan. Misalnya, bidang olahraga, kesenian, dan teknik. Pada hakikatnya, kedua potensi (AQ dan VQ) merupakan manifestasi dari berbagai potensi diri yang direalisasikan dalam tindakan.

Berikut ini cara untuk mengenali potensi diri, diantaranya adalah :

1.   Refleksi diri, yaitu perenungan secara mendalam dan jujur tentang keadaan dirinya. Apa saja kekuatan-kekuatannya dan bagaimana kekurangannya. Refleksi diri erat kaitannya dengan instropeksi diri (mawas diri).

2.   Tes psikologi atau psikotes, yaitu seperangkat soal yang harus dijawab secara jujur untuk memperoleh gambaran tentang diri seseorang. Misalnya, tes intelegensi (IQ), tes bakat, tes minat, dan tes lepribadian.

3.   Sharing dan evaluasi dari orang lain. Misalnya, dari pengamatan sesama teman terhadap dirimu, kemudian teman tersebut memberi input atau masukan informasi kepadamu.

Mengenali potensi diri adalah penting karena bisa memperoleh manfaat dari pengenalan potensi tersebut. Berikut manfaat dari mengenali potensi diri.

1.   Mengetahui kekuatan-kekuatan serta kelemahan diri sendiri.

2.   Mengembangkan potensi yang menonjol agar memperoleh hasil yang optimal.

3.   Membenahi kelemahan-kelemahan diri dalam menunjang kehidupan. Kelemahan bukan sebagai hambatan, tetapi diubah menjadi motivasi dan peluang.

4.   Mampu menempatkan diri dalam berbagai kehidupan karena setiap orang harus tahu diri.

Bagaimana, benar kan !!! bahwa manusia ternyata mempunyai kelebihan yang tiada terkira. Silahkan masing-masing potensi anda dikembangkan untuk menjadi orang yang bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun untuk orang lain.

(Sumber : Buku PKn 3 Yudistira)

Ditulis dalam Bekal Hidup | Leave a Comment »

Keunggulan Pembelajaran Inovatif

Ditulis oleh marsaja di/pada April 15, 2008

Untuk menerapkan metode pembelajaran, pertama-tama yang harus diingat bahwa tidak ada satu pun model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengajarkan segala macam hasil belajar. Setiap model unik dan hanya cocok untuk mengajarkan hasil belajar tertentu. Sebagai contoh, model pembelajaran kooperatif sangat baik untuk mengajarkan keterampilan sosial, mencegah dominasi siswa dalam kelas. Model pembelajaran langsung (direct instruction) sangat cocok untuk mengajarkan pengetahuan prosedural, seperti menggunakan alat, merangkai alat, gerakan tertentu pada seni dan olahraga. Sementara itu, pembelajaran berdasar masalah unggul untuk mengajarkan keterampilan bernalar dan berpikir tingkat tinggi.

Cara belajar siswa juga berbeda antara satu siswa dan siswa yang lain. Ada siswa yang belajar lewat mendengar, yang lain lewat membaca, sementara yang lain lagi baru dapat belajar bila melakukan. Karena itu, tentu sangat mustahil menggunakan satu model atau metode pembelajaran untuk semua siswa. Pembelajaran inovatif dilakukan untuk mengoptimalkan pencapaian semua hasil belajar dan mengakomodasi sebanyak-banyaknya perbedaan siswa. Dengan demikian, implementasi pembelajaran inovatif selalu multimetode, multimedia, berpusat pada siswa, dilakukan secara alami, dan memberikan peluang siswa mengalami sendiri.

Dengan demikian, keunggulan pembelajaran inovatif adalah : Pertama, Kualitas hasil belajar yang dicapai menjadi lebih tinggi. Kedua, Lingkup hasil belajar menjadi lebih komprehensif. Ketiga, pembelajaran inovatif tidak saja menekankan pada hasil belajar kognitif, tetapi juga hasil belajar proses dan sikap. Konsekuensinya tentu akan memerlukan waktu yang lebih lama karena dilakukan untuk mencapai banyak hasil belajar. Bandingkan dengan metode ceramah yang hanya menekankan pada hasil belajar kognitif dan hafalan yang tentu memerlukan waktu relatif singkat dan dari segi membekali siswa untuk belajar mandiri sepanjang hayat serta membekali siswa dengan kecakapan hidup (life skill) belum dilakukan. Siswa belum difasilitasi untuk menjadi siswa yang utuh.

Lebih memprihatinkan lagi bila guru menerapkan metode drill, mungkin berhasil memfasilitasi siswa untuk berhasil berkompetensi menghafal jangka pendek, tapi gagal membekali siswa hidup jangka panjang. Hasil penelitian tentang otak 25 tahun terakhir menemukan bahwa drill dapat mengakibatkan berkembangnya “otak reptil” pada siswa. Otak tersebut bertanggung jawab untuk survival, bela diri, dan berkelahi. Apa itu jawaban untuk maraknya tawuran antarsiswa?.

Memperoleh nilai Unas yang bagus memang merupakan hal yang diidamkan, namun nilai unas sebatas tataran kognitif bersifat semu. Karena itu, seharusnya evaluasi hasil belajar juga dilakukan untuk mengukur semua bentuk hasil belajar siswa. Sadar atau tidak, guru sekarang mengajar dipandu oleh evaluasi. Kalau evaluasi hanya pada tataran kognitif dan hafalan, guru akan men-drill siswa untuk mampu menghafal.

(Sumber : Klinik Pendidikan JP-Unesa)

Ditulis dalam Pendidikan | 1 Komentar »

Falsafah Buah Rambutan

Ditulis oleh marsaja di/pada April 14, 2008

Siapa yang tidak suka pada buah Rambutan, mulai Rambutan lokal, Aceh sampai Binjai. Namun bukan hanya buahnya saja yang nikmat, tapi kita juga bisa menggali filosofis dari buah rambutan tersebut. Kita tahu bahwa buah Rambutan terdiri atas tiga bagian : kulit, daging buah, dan isinya. Biasanya yang dimakan adalah daging buahnya, kulitnya dibuang, sedangkan isinya bisa ditanam lagi.

Adapun falsafahnya ialah Pertama, kulit itu akan menjadi sampah maka sebaiknya dikumpulkan dan dibuang, kalau sudah kering bisa dibakar. Kalau langsung dibuang dan tidak pada tempat sampah maka akan menjadi penyebab tersebarnya penyakit. Kulit mencerminkan “Salah”, Maknanya adalah perbuatan salah seyogyanya tidak dilakukan, tapi ditinggalkan. Kedua, isi/bijinya bisa kita tanam kembali supaya tumbuh menjadi pohon rambutan yang bisa berbuah lagi. Isi/biji mencerminkan “Benar”, Maknanya ialah kebenaran harus kita sampaikan (dakwahkan) kepada semua orang sehingga bisa menumbuhkan jiwa-jiwa yang cinta akan kebenaran. Ketiga, daging buah tentu bisa kita makan, kita rasakan manisnya, bisa diambil manfaatnya untuk menambah vitamin dan zat-zat lainnya. Daging buah mencerminkan “Lurus”, Maknanya adalah Jalan yang lurus, jalan yang kita pilih, jalan yang menunjukkan pencerahan hidup dunia hingga akhirat.

Seperti dalam keterangan surat Al fatihah “ihdinash shiroothol mustaqiim” artinya tunjukilah kami jalan yang lurus. Ada suatu perumpamaan yang pernah kita dengan bahwa shirothol mustaqiim seperti “rambut diporo pitu atau rambut dibagi tujuh” alangkah tipis dan kecilnya. Seperti itulah perbuatan “lurus” juga tipis batasnya antara salah dan benar. Maka sebaiknya kita teliti dalam memilih dan mengamalkannya.

Kesimpulannya adalah perbuatan salah harus kita tinggalkan, perbuatan benar sebaiknya disebarkan, didakwahkan, disiarkan, dan disampaikan kepada semua orang, sedangkan Jalan lurus itulah yang kita yakini, kita rasakan, kita kukuhi, dan kita istiqomahkan. Renungkanlah wahai saudaraku.

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

Strategi Inkuiri Model Teknik Bertanya

Ditulis oleh marsaja di/pada April 14, 2008

     Strategi belajar mengajar dapat dilaksanakan dengan berbagai metode mengajar, seperti metode tanya jawab, diskusi, problem solving, studi kasus, penelitian mandiri, dan sebagainya. Suatu metode perlu didukung oleh seperangkat teknik tertentu supaya metode tersebut dapat berjalan dengan baik. Salah satu teknik yang banyak dipakai dalam berbagai metode mengajar ialah Teknik Bertanya. Karena teknik ini digunakan secara luas, maka perlu dibicarakan secara khusus penggunaan teknik bertanya itu dalam hubungannya dengan strategi inkuiri.

Suatu ungkapan yang menyatakan bahwa “it is better to ask some question than to know all the answer” (Thurber), menunjukkan betapa pentingnya orang bertanya. Kita juga mengenal pepatah yang mengatakan “Malu bertanya sesat di jalan”. dalam kebudayaan Cina didapatkan pepatah kuno yang menyatakan “Satu pertanyaan = 1000 gambar, satu gambar = 1000 kata”.

Dalam hubungannya dengan proses belajar, pentingnya bertanya itu dapat kita lihat pada beberapa pernyataan, antara lain : 1.   Jantung strategi belajar yang efektif terletak pada pertanyaan yang diajukan guru (Fraengkel). 2.   Dari sekian banyak metode pengajaran, yang paling banyak dipakai adalah bertanya (Bank). 3.   Bertanya adalah salah satu teknik yang paling tua dan paling baik (Clark). 4.   Mengajar itu adalah bertanya (Dewey). 5.   Pertanyaan adalah unsur utama dalam strategi pengajaran, merupakan kunci permainan bahasa dalam pengajaran (Hyman). Karena itu tidak disangkal lagi pentingnya bertanya dalam kegiatan belajar mengajar.

Peranan bertanya adalah melengkapi kemampuan berceramah, mengubah kemampuan berceramah, meningkatkan kadar CBSA, sikap inkuiri bertitik tolak pada bertanya, mengubah persepsi yang keliruterhadap bertanya. Sedangkan fungsi bertanya ialah mengembangkan minat dan keingintahuan, memusatkan perhatian pada pokok masalah, mendiagnosis kesulitan belajar, menguatkan kadar CBSA, kemampuan memahami informasi, kemampuan mengemukakan pendapat, mengukur hasil belajar.

Untuk mengembangkan pertanyaan yang efektif sesuai dengan fungsi tersebut, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah : Pertama, Kehangatan dan antusias. Kedua, Beberapa kebiasaan yang perlu dihindari dalam mengajukan pertanyaan (mengulang pertanyaan, mengulang jawaban siswa, menjawab pertanyaan sendiri, memancing jawaban serentak, pertanyaan ganda, menentukan siswa tertentu).

Prinsip-prinsip bertanya, bertanya sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan dapat dibagi menjadi dua. ialah : 1.   Bertanya dasar. Bertanya untuk mengembangkan kemampuan berpikir dasar. Dihubungkan dengan taksonomi Bloom, kemampuan ini terdiri atas pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), dan aplikasi. 2.   Bertanya lanjut. Bertanya untuk megembangkan kemampuan berpikir kreatif-inovatif. Kemampuan ini terdiri atas analisis, sintesis, dan evaluasi.  

Dalam menjalankan prinsip ini perlu diperhatikan perubahan tingkat kognitif dari yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Urutannya adalah dari pertanyaan pengetahuanpemahamanterapan - analisis - sintesis evaluasi

Contoh pertanyaan tentang “Pasar”. Pengetahuan = ingatan (Dimana orang menjual hasil bumi di kota ini?, Pemahaman = membandingkan (Apa beda pasar ikan dengan toko?, Aplikasi = klasifikasi (Ada berapa pasar yang anda ketahui?, Analisis = motif (Mengapa orang menjual sayur di pasar dan bukan di toko?, Sintesis = Pemecahan masalah (Bagaimana meningkatkan kebersihan di pasar ikan di kota ini?, Sintesis = memperkirakan (Dimana sebaiknya pasar hewan di tempatkan?, Evaluasi = pendapat ( Bagaimana pendapat anda tentang ketertiban di pasar pagi selama ini?. Bagaimana? Bisa dicoba kaaaaannnnnn.

 

 

Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »