Ditulis oleh marsaja di/pada Maret 31, 2008
Pengembangan sekolah di masa depan akan mengarah pada bentuk-bentuk sekolah kreatif. Yaitu, sekolah yang tidak menerapkan metode pengajaran konvesional untuk memberi pengetahuan pada anak melainkan menerapkan metode edutainment (belajar sambil bermain)
Dengan metode ini anak tidak akan difokuskan pada pelajaran-pelajaran yang menjurus ke penghitungan seperti matematika dan science yang mengandalkan otak kiri. Namun, mereka akan dituntun untuk lebih mengembangkan bakat yang menggerakkan otak kannya seperti bahasa dan seni. Sehingga suasana belajar akan terjalin lebih hidup, akrab, dan menyenangkan untuk anak.
Jadi, kalau ingin kedepan tetap eksis, maka semua sekolah seharusnya berubah menjadi sekolah kreatif. Sekolah itu proses pembelajaran berpusat pada murid, bukan pada guru, sehingga tidak ada lagi murid yang hanya menerima pelajaran guru, amun mereka turut mengembangkan pelajaran tersebut.
(Sumber : Klinik Pendidikan JP-Unesa)
Ditulis dalam Pendidikan | 1 Komentar »
Ditulis oleh marsaja di/pada Maret 31, 2008
Kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) menggunakan asumsi dasar bahawa sekolah yang paling mengetahui apa seharusnya dilakukan untuk meningkatkan mutu atau mengembangkan sekolahnya. Karena itu, dalam MBS, sekolah diberi kewenangan mengambil berbagai kebijakan operasional berlandaskan koridor yang ditetapkan secara nasional, yaitu : perencanaan dan evaluasi program sekolah, pengelolaan kurikulum, pengelolaan proses pembelajaran, pengelolaan keuangan, pelayanan kesiswaan, hubungan sekolah dan masyarakat, serta pengelolaan iklim sekolah.
Dalam MBS, pengambilan kebijakan di sekolah harus dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan stake holder, antara lain guru, siswa, komite sekolah, dan tokoh masyarakat yang menaruh perhatian pada pendidikan. Dengan cara itu diharapkan tumbuh rasa memiliki sekolah dari kalngan masyarakat, dan pada gilirannya akan meningkatkan partisipasi mereka dalam mendukung sekaligus mengontrol program-program sekolah.
Pelaksanaan MBS memerlukan lima syarat, yaitu: keterbukaan, kerja sama, kemandirian, akuntabilitas, dan sutainibilitas (kesinambungan). Di samping itu pelaksanaan MBS memerlukan perubahan sikap dan perilaku seluruh jaran kependidikan. Sekolah harus mampu secara aktif melakukan berbagai program inovasi dan tidak lagi menunggu petunjuk dari atas. Fungsi birokrasi pendidikan akan berubah dari penguasa menjadi konsultan dan fasilitator sekolah. Konsekuensinya, pertanggungjawaban sekolah tidak hanya kepada pemrintah, tetapi terutama justru kepada masyarakat.
(Sumber : Klinik Pendidikan JP-Unesa)
Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »
Ditulis oleh marsaja di/pada Maret 31, 2008
Peningkatan kualitas pendidikan bukan sekedar persoalan menambah fasilitas di sekolah. Hal paling penting yang juga harus dilakukan adalah memberikan metode pembelajaran yang benar pada siswa. Fasilitas tetaplah penting namun bukan yang nomor satu. Yang harus dikedepankan justru metode pembelajaran yang bertumpu pada guru. Banyak potensi siswa yang sering terabaikan oleh guru. Guru tak boleh berhenti bereksplorasi dan memperhatikan berbagai kecerdasan siswa.
Memang benar, tuntutan terhadap guru bukan hal yang mudah. Meng-up grade potensi guru tak cukup sekedar memberikan berbagai pelatihan. Yang paling baik adalah memberikan mereka lebih banyak waktu luang untuk membaca dan menimba pengetahuan baru.
Selama ini, guru terlalu banyak dibebani hal-hal yang tak semestinya. Laporan penting tapi janganlah menuntut guru membikin laporan yang tebal-tebal, biar kepala sekolahnya saja.
Satu hal yang tak kalah penting, guru juga harus selalu jeli untuk memanfaatkan alam sekitar sebagai bahan ajar. Contoh anak-anak suku Asmat, jika melulu menunggu fasilitas, meraka yang berada di daerah terpencil tak bakal berkembang. Anak-anak suku Asmat dapat belajar Biologi dari alam Irian. MIsalnya hutan, flora, dan fauna mereka. Jadi kita tidak boleh kalah kreatif.
(Sumber : Klinik Pendidikan JP-Unesa)
Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »
Ditulis oleh marsaja di/pada Maret 31, 2008
Konsep sekolah kini tidak bisa lagi sekedar berbasis kompetensi akademik. Sesuai perkembangan zaman, para siswa bukan hanya dituntut pintar secara akademik, tapi juga harus peka lingkungan dan berkarakter. Konsep itulah yang seharusnya sudah mulai diantisipasi pihak sekolah.
Kunci sekolah berbasis karakter adalah penanaman tiga hal pokok pada siswa. yakni, konsep diri, perilaku, serta motivasi. Hal itu, lebih tepatnya mulai diterapkan sejak sekolah dasar (SD). Adapun cara agar ketiga hal tersebut terserap oleh siswa secara efektif adalah dengan mengintegrasikan dalam proses belajar mengajar (PBM) setiap hari di sekolah. Contoh pelajaran Biologi, siswa jangan hanya diterangkan mengenai kenapa burung bisa terbang, tapi juga apa yang harus dan tak boleh kita lakukan pada burung. Begitu pula dalam pelajaran Sejarah, siswa tidak hanya diajari bagaimana cara menghafal, tapi juga harus dibina untuk mengetahui manfaat pelajaran itu sendiri. Siswa akan berkembang jika cara pengajarannya seperti itu. Diharapkan tanggung jawab akan muncul dari siswa.
Sosok yang paling berperan dalam penerapan konsep ini bukan hanya guru, tapi juga orang tua. Orang tua harus berperan penuh dalam penanaman bilai-nilai cinta lingkungan di rumah. Sementara guru bersikap proaktif di sekolah untuk memasukkan unsur-unsur empati dalam setiap pelajaran.
Sebenarnya banyak sekolah yang sudah menuju sekolah berbasis karakter. Namun, mereka hanya sebatas menyosialisasikan dan menjadi sisipan. Padahal, seharusnya integrasi sisipan moral harus dimasukkan dalam silabus pendidikan. Artinya, guru harus menyiapkan sedini mungkin materi-materi sisipan dalam pelajaran sebelum masuk kelas atau yang sering disebut sebagai rencana pembelajaran. Sisipan motivasi, konsep diri, dan perilaku pada anak-anak sangat penting. Ini akan menjadikan meraka calon-calon pemimpin.
Penanaman karakter ini diharapkan bisa mengurangi problem berat yang dihadapi anak bangsa. Seperti, masalah ketidakdisiplinan, kurang empati, plagiat, tidak punya konsep diri, serta malas. Yang paling parah sifat inferiornya. Karena itu, motivasi sudah masuk top urgent. Dengan suntikan motivasi, siswa diharapkan dapat mengamalkan ilmu bukan hanya diri sendiri, tapi bisa bermanfaat bagi orang lain.
(Sumber : Klinik Pendidikan JP-Unesa)
Ditulis dalam Pendidikan | 3 Komentar »