MAR_SAJA

Mesem minangka tandane syukur

Alam Juga Demo

Ditulis oleh marsaja di/pada November 2, 2009

Ada yang mengatakan jika hati manusia hidupnya tenang, maka alam pun juga ikut tenang. Pendek kata ada kesinambungan antara yang terjadi di alam ini dengan yang terjadi pada diri manusia. Karena pada dasarnya antara unsur alam dengan unsur manusia itu senyawa. Buktinya pada diri manusia juga terdapat unsur tanah, air, api, angin dan cahaya. Sedangkan kita melihat yang terjadi di bumi kita khususnya di Indonesia seringkali terjadi bencana alam seperti tanah longsor, banjir, kebakaran, puting beliung, dll. Istilah kami sekarang ini alam juga demo! Karena apa?. Coba kita rasakan dengan  pendekatan “Rasa Pangrasa”

Sebab manusianya juga banyak yang demo!. Dari unsur tanahnya, banyak manusia sekarang ini yang gampang protes, tidak terima terhadap nasibnya. Padahal sifat tanah adalah “Nrimo” mau menerima apa yang dianugrahkan Sang Pencipta kepada hambanya. Ibarat sifat tanah, yang menerima dengan ikhlas baik ditanami apapun sampai didirikan suatu banngunan tanah pun tetap mau menerima. Manusia kurang pandai bersyukur terhadap nikmat yang diterimanya. Bayangkan kita menanam dengan sedikit benih padi saja tetapi hasilnya berlipat ganda. Sehingga ketika manusia kurang menyadari nikmat yang telah diterimanya maka kita akhirnya lupa dan gampang protes, seolah tidak mau menerima keberadaan nasibnya. Istilahnya “Kurang nrimo”. Makanya bumi yang kita pijak ini juga ikut-ikutan demo dengan cara tanah longsor dan juga gempa bumi.

Dari unsur air, mayoritas manusia sudah kehilangan sifat sucinya. Seperti sifat air yang suci dan mensucikan. Sebagian diri manusia jiwanhya sudah kotor, dan tidak lagi mampu bersuci secara utuh. memang jasad tubuh bisa disucikan tapi hatinya tetap kotor. Buktinya walaupun sudah bersuci, beribadah namun kelakuannya tetap negatif. Apalagi manusia sifatnya seperti air yaitu suci dan mensucikan. Mereka sangat jarang ditemui pada saat sekarang ini. Sehingga kalau di dunia ini sudah sangat jarang yang mau bersuci, maka alam pun juga akan menebarkan sifat sucinya yang tujuanya untuk membersihkan manusia, diantaranya dalam bentuk banjir bandang.

Dilihat dari unsur api, sebagian besar manusia kehilangan sifat beraninya tapi malang semakin pengecut dan tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Taruh contoh adanya pembalakan liar, korupsi merajalela, penggusuran yang cenderung radikal, dll. Ini menandakan bahwa manusia cenderung mengikuti sifat gampang marahnya tanpa bisa mengontrol. Sehingga jika kebanyakan orang marah tentu bukan kebaiakan atau keselamatan tetapi akan melahirkan kerusakan baik secara fisik maupun nonfisik. Orang tidak akan mampu mewujudkan sifat terpuji jika dalam pribadinya gampang marah atau suka menuruti jiwa pemarahnya. Tentu bisa kita rasakan kalau alam juga marah dengan bencana yang berupa kebakaran yang terjadi dimana-mana.

Keempat dari unsur angin, kita bisa merasakan bahwa angin bersifat jujur, apapun aroma di suatu tempat maka angin atau udara akan menunjukkan bau yang sebenarnya. Seperti itulah gambaran angin yang berarti jujur. memang kalau kita melihat tingkah polah manusia sekarang banyak yang hilang kejujurannya. Mereka tidak berani mengatakan yang sebenarnya atau mengakui yang sebenarnya. Akibat seperti ini maka alam juga akan menampakkan demonya dengan cara puting beliung, gimana?

Nah, kita tentunya bisa berpikir kembali kenapa alam demo, menurut kami karena mayoritas jiwa manusiananya juga gampang demo sehingga kehidupan kita selaras dengan kehidupan alam. Artinya jika kita ingin alam ini tenang, maka jiwa kita juga harus tenang. Jika menginginkan alam ini bermanfaat, maka tebarkan manfaat juga disekitar anda. dan jika anda menginginkan kedamaian di jagad ini maka marilah kita pupuk jiwa pengayom kita baik kepada keluarga maupun orang lain. Ini hanyalah sebuah tulisan yang mampu disampaikan untuk dipikirkan dan dirasakan secara lebih mendalam.

Pertanyaannya adalah jika di negara kita sedang terjadi konflik antara KPK dengan Polisi, maka apa yang akan terjadi di alam ini selanjutnya? Kami berpendapat jika para pemimpin bangsa masih berpegang teguh pada sifat kejujuran maka kedamaian yang akan diperoleh di negri ini, namun jika sebaliknya maka kita tunggu saja apa yang akan terjadi, waspadalah wahai saudaraku, JUJURLAH!

Ditulis dalam Aktual | Leave a Comment »

Luhure Pakaryan

Ditulis oleh marsaja di/pada Oktober 26, 2009

Dalam sebuah perbincangan santai dengan teman, kami mencoba untuk membahas sebuah tema yang mana dapat meningkatkan “rasa pangrasa” kami. Karena kami berpendapat bahwa dalam menjalani kehidupan ini seharusnya setiap pribadi orang dapat membuat manfaat pada pribadinya dan orang lain. Untuk itu pada saat perbincangan santai tersebut, kami berusaha untuk mendiskusikan apa sebenarnya Pekerjaan Luhur Manusia itu. Dalam situasi yang penuh suasana “gayeng” tadi akhirnya kami menemukan jawaban dari diskusi kami, yaitu bahwa sebagai manusia yang masih memegang akal, pikir dan rasa ternyata yang disebut sebagai “Luhure Pakaryan” adalah Memayu Hayuning Praja. Adapun yang dimaksud memayu hayuning praja adalah Hambeg Paramatra atau mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi

Memang pada saat sekarang ini, kalau kita membicarakan sebaiknya mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi adalah sesuatu yang mungkin ditertawakan. Sebab sekarang ini yang terpenting adalah kepentingan pribadi atau golongan dulu yang lebih diutamakan. Terbukti jika kita berdo’a biasanya yang diucapkan adalah banyak yang untuk kepentingan pribadi, misalnya “Berikanlah aku kesehatan, berikanlah aku rejeki yang melimpah, kabulkanlah segala keinginanku, dll”. Sangat jarang sekali yang mau mendo’akan orang lain bahkan umat.

Inilah sebenarnya cermin kepribadian manusia yang egois, individualis dan demi kepentingan pribadinya semata. Padahal jika kita menyadari bahwa kita juga sebagai makhluk sosial maka sudah seharusnya antar makhluk mempunyai rasa saling peduli, bukan cuek atau malah memusuhi dan menghina.

Mari kita gunakan waktu kita seefektif mungkin dengan mulai saat ini memulai sikap dan mental kita untuk “memayu hayuning praja” agar setiap apa yang kita kerjakan akan bernilai dan bermanfaat bagi yang lain, baik antar sesama manusia atau makhluk lain. Dan mohon ini digarisbawahi “Ketika kita mendoakan orang lain atau umat termasuk berbuat kebajikan dan bermanfaat bagi orang lain, maka hasilnya akan kembali pada pribadi yang mendoakan atau yang berbuat tadi”

Ditulis dalam Bekal Hidup | Leave a Comment »

Bencana Alam : Persiapan Diri

Ditulis oleh marsaja di/pada Oktober 6, 2009

Bencana alam seakan terus menerus mendera negeri ini. Yang terbaru adalah gempa bumi yang melanda pulau Sumatera. Banyak pendapat yang muncul pasca gempa. Mulai dari Indonesia termasuk daerah rawan gempa, tempat pertemuan tiga lempeng dunia, kontruksi bangunan yang dipertanyakan sampai kepada moral bangsa Indonesia yang sudah rusak. Terlepas dari asumsi sebagian rakyat Indonesia tersebut, yang seharusnya menjadi perhatian kita adalah? Bagaimana kalau peristiwa serupa terjadi pada daerah kita atau diri kita, itulah yang seharusnya dipikirkan dan dirasakan, sehingga kelak kita siap secara lahir dan batin.

Secara fisik tentunya segala macam persiapan yang berkaitan dengan evakuasi, penanganan dan infdrastruktur harus dipersiapkan semaksimal mungkin. Dan yang lebih penting adalah secara batin, maka pribadi kita mulai saat ini harus kita persiapkan menjadi orang yang beradab. Mulai dari sifat dan siakp perilaku, mari mulai saat ini kita tata agar kita benar-benar siap menghadapinya. Karena pada dasarnya kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada diri kita. Berangkat dari semua itu maka modal yang paling pas bagi pribadi kita adalah berlaku JUJUR. Baik jujur kepada orang lain maupun jujur kepada diri sendiri dan tentunya kepada Yang Maha Pencipta.

Ditulis dalam Aktual | 1 Komentar »

Indahnya Lebaran : Pernak-Pernik Kata Maaf

Ditulis oleh marsaja di/pada September 30, 2009

Lebaran tahun ini memang indah, berbagai ucapan selamat ber-Hari Raya dan ungkapan saling meminta maaf silih berganti berdatangan kepada kami dan sebaliknya. Termasuk ucapan via SMS, banyak sekali yang kami terima melalui HP. Dan berikut ini beberapa versi yang bisa kami sampaikan kepada para pembaca yang budiman :

Andai jemari tidak sampai berjabat. Jika raga tidak bisa bersua. Bila ada kata membekas luka. Semoga pintu maaf masih terbuka. Minal Aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan bathin.

MENTARI syawwal bersinar lagi. Saatnya berSIMPATI sesama FREN. Agar BEBAS dari dosa. Menjadi muslim yang suci kembali dengan senyum HEPI dan CERIA. Taqoballahu Minna wa Minkum.

Dalam kerendahan hati terdapat ketinggian budi. Dalam kemiskinan harta terdapat kekayaan jiwa. Dalam kesempitan hidup terdapat keluasan ilmu. Dalam lautan khilaf terdapat samudera maaf. Selamaat Hari Raya “Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Selamat Idul Fitri 1430 mohon maaf lahir dan batin. Mudah-mudahan amal kita diterima Allah SWT dan ditambah rezeki serta keluarga kita sehat selalu.

Bila Idul Fitri adalah lentera, izinkan membuka tabirnya dengan maaf agar cahayanya menembus jiwa fitrah dari tiap khilaf. Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin.

Mbah Marijan pancen ROSO. Ndek wingi menek klopo. Tibo nanging ora apo-opo. Senajan Idul Fitri kurang sedino. Sedoyo lupute, kulo nyuwun dingapuro.

Bila ada luka membekas lara. Ada kata merangkai dusta. Ada tingkah menoreh luka. Tangan diulur maaf diminta. Minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.

Mangan kupat karo koro. Menawi wonten lepat nyuwun ngapura.

Ketika mentari mulai bersinar lagi. Aku mendengar suara takbir. Sebulan penuh telah kita lewati segala cobaan dan rintangan. Inilah saatnya kita meraih kemenangan. Semoga di bulan yang fitri ini, kita semua mendapatkan segala berkah dari Allah SWT. Amiin-amiin ya robbal ‘alamin. Mohon maaf ya atas semua kesalahan yang pernah kuperbuat.

Putri raja telah menanti sang pangeran yang sedang berburu di hutan. Ini lebaran yang dinanti. Jika ada salah dan khilaf mohon dimaafkan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H taqobalallahu minna wa minkum taqobbal ya kariim.

Ngaturaken sedoyo kalepatan mugi-mugi ing dinten fitri meniko Allah tansah paring ridho pangapunten ugi hanampi sedoyo ibadah wonten Ramadhan meniko, amiin. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H.

Taqobbalallahu minna wa minkum taqobbal yaa kariim. Mohon maaf lahir dan batin. Kita ikhlaskan dan bersihkan hati.

Kesalahan kan terukir tiap detik. Kesalahan kadang membuahkan luka terdalam. Dosa yang tak ternilai banyaknya telah ku perbuat. Di hari yang fitri ini, tiada kata terbaik selain kata maaf dariku. Minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin. Selamat Idul Fitri 1430 H.

Telah tiba jejakku di bumi yang ditasbihkan. Telah tiba hatiku di negri yang difitrikan. Maaf untuk segala gundah yang pernah tercipta. Semoga Allah tetap melindungi hambanya menjalin tali silaturahmi. Seia dalam satu jembatan. Satu doa menuju surga. Di hari yang fitri ini kami sekeluarga mengucapkan Taqobbalallahu minna wa minkum. Minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.

Taqobbalallahu minna wa minkum taqobbal yaa kariim. Semoga seluruh amal ibadah kita terutama di bulan Ramadhan diterima dan mendapat ridho Allah Ta’ala dan kita kembali fitrah.

Manungso iku anggone salah. Pramilo wonten Tatar, Tutur lan Titi kulo saklami meniko wonten ingkang salah, kulo namung saget ngaturaken agenging samudro pangaksami.

Indah memang jika kata maaf tak sekedar ungkapan tanpa makna. Lebih indah jika ungkapan jiwa lebur bersama segala tingkah laku, sikap dan ucapan kita. Tiada yang lebih indah kecuali jika segalanya atas nama Yang Maha Segala. Di hari nan indah penuh makna ini tiada yang mampu terucap  dan terungkap selain…. Taqobbalallahu minna wa minkum Shiyamana wa shiyaminkum, kullu amin wa antum bi khoir. Sama-sama lebur segala resah yang membuncah karena rasa salah. Maaf lahir batin ye.

Taqobbalallahu minna wa minkum. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dalam ramadhan ini. Membukakan untuk kita pintu taubat, gerbang hidayah dan gudang rizkiNya. Selamat hari raya idul fitri 1430 H Mohon maaf lahir dan batin.

Selamat Idul Fitri 1430 H. Taqobbalallahu minna wa minkum. Shiyamana washiyaminkum, Waja’alanallah waiyyakum. Minal aidin wal faidzin walmaqbulin. Mohon maaf lahir dan batin.indah dan perbuatan termulia selain “MAAF dan SALING MEMAAFKAN” Yaa Allah… berkahilah saudaraku dengan RahmatMu. Iringi langkah mereka dengan ridhoMu. Lindungi dan kuatkan mereka dari ujianMu. Muliakan mereka dengan dengan syafa’at RosulMu. Serta terimalah sholat, dzikir, tilawah, i’tikaf , juga sedekahnya selama bukan Ramadhan tahun ini. Amiin….3X yaa robbal ‘alamiin.

Meniti hari menabur khilaf, menyongsong fitri menuai maaf. Semoga tiada sisa khilaf dan dosa. Taqobbalallahu minna waminkum shiyamana wa shiyamakum. Selamat Idul Fitri.

Sebelum gemerlap bintang menyambut esok datang hari kemandangmenangan. Sebelum pancaran pesta kembang menghiasi langit di angkasa. Sebelum kumandang takbir menyeru kita semua. Marhaban ya ramadhan. Segenap hati mohon keikhlasan. Maaf bila selama ini ada kesalahan yang diperbuat, baik disengaja ataupun tidak. karena belum tentu di hari lebaran ini kita bisa dipertemukan. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Pesawat Syiam Air telah mengudara meninggalkan ramadhan dengan nomor penerbangan 1430 H. Kuatkan sabuk pengaman dengan keimanan dan ketakwaan agar diri tidak terguncang. Selamat hari raya Idul fitri mohon maaf lahir dan batin.

The Holy and beatiful Syawwal  will come soon. There is no word propre to welcome it. Except the word of pray and forgiveness. My Majesty if you forgive all my fault. And hope your worship accepted by Allah. The God of Merciful and the Beneficent. Minal aidin wal faidzin.

Allahuakbar Walillahilhamdu. Gema takbir berkumandang menyambut 1 syawwal. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga menjadi hamba yang lebih bertaqwa.

Alhamdulillah, itulah beberapa ucapan selamat hari raya dan ungkapan doa serta maaf dari keluarga, saudara, teman, murid, dan sahabat, serta kolega. Amin ya robbal ‘alamin.

Tiada pemberian ter

Ditulis dalam Aktual | Leave a Comment »

Ternyata Kita “Senyawa”

Ditulis oleh marsaja di/pada September 1, 2009

Paparan ini sengaja kami syiarkan kepada khalayak umum, yang mana momentumnya sangat pas bertepatan di bulan penuh rahmah dan maghfirah yaitu bulan suci Ramadhan. Berangkat dari rasa keprihatinan kami mengenai perilaku umat manusia yang ternyata tidak semakin rukun tetapi malah semakin individualis, rasa ketidakpedulian, saling bersaing dan menjatuhkan, saling membenci dan gampang merusak bahkan membunuh antar sesama manusia. Tidak hanya kepada manusia saja perilaku tidak bermoral tersebut   bahkan kepada makhluk lain, seperti alam ini manusia juga berlaku seenaknya hanya mengejar keuntungan semata tanpa mempedulikan keberlangsungan alam itu sendiri. Inilah yang mengilhami penulis mengangkat tema tersebut di atas bahwa pada dasarnya kita ternyata “Senyawa“. Apa buktinya? Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

Refleksi Klaim Negara Jiran

Ditulis oleh marsaja di/pada Agustus 24, 2009

Sebagai bangsa yang besar, kita kecolongan lagi. Salah satu hasil budaya bangsa yaitu Tari Pendet baru-baru ini diklaim oleh negara tetangga kita sendiri. Akibat klaim tersebut tentu membuat marah orang Indonesia. Di berbagai wilayah muncul aksi demo menentang klaim Malaysia, terutama warga Bali yang mana budaya Tari Pendet berasal dari wilayah tersebut. Sebenarnya peristiwa klaim budaya tidak hanya terjadi kali ini saja. Sudah beberapa kali diantaranya Kesenian Wayang Kulit, Lagu Rasa Sayange, Batik, Reog Ponorogo dan yang terbaru adalah Tari Pendet dimasukkan dalam iklan pariwisata Malaysia. Reaksi bangsa Indonesia juga pada dasarnya sama, yaitu bereaksi keras menentang yang selanjutnya pemerintah akan menindaklanjuti dalam bentuk nota protes ke pemerintah Malaysia. Akhirnya Malaysia meresponnya dengan tidak menayangkan iklan itu lagi. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aktual | 1 Komentar »

Jangan Berbicara Jika Tidak Tahu

Ditulis oleh marsaja di/pada Agustus 17, 2009

Ada sebuah fakta yang menarik untuk dicermati yang terjadi disekitar kita sehari-hari. Fakta tersebut adalah informasi apapun yang terjadi detik itu maka akan segera menyebar secepat informasi tersebut muncul. Memang sekarang ini media perannya sangat besar utamanya dalam menyampaikan segala macam informasi, terutama fakta yang terjadi di lingkungan kita yang dianggap berdampak besar bagi sebuah pemberitaan. Nah, agar kita memperoleh informasi atau menyebarkan informasi sebenarnya ada prasyarat yang harus dipenuhi yaitu “Jangan berbicara jika tidak tahu“. Artinya Kita boleh berbicara jika memang tahu kebenarannya. Disini jelas bahwa dalam berbicara itu ada aturan yang jelas yang patut diperhatikan dengan sungguh-sungguh agar informasi yang disampaikan kepada orang lain atai pihak lain mempunyai kebenaran yang sesungguhnya, artinya data bisa dipertanggungjawabkan.

Ingat lidah lebih tajam dari pada pedang, atau perkataan ibarat anak panah yang melesat dari busurnya. Bahwa perkataan bisa berdampak luar biasa bagi orang lain maka kita harus lebih hati-hati sehingga apa yang kita sampaikan bermanfaat apa malah menyebabkan keresahan di kalangan umat. Coba perhatikan gara-gara gosip kehidupan rumah tangga bisa berantakan. Karena kesalahan informasi rencana yang telah tersusun bisa gagal total, dll. Anda bisa memperhatikan peristiwa dilingkungan anda, bisa di sekolah, di tempat kerja, kantor-kantor atau tempat lain. Di tempat-tempat tersebut berita apapun bisa dibicarakan seramai berita itu ada bahkan bisa lebih ramai lagi jika dibicarakan secara bersama-sama.

Namun sebagai manusia yang berakal sehat, janganlah kita gampang mempercayai setiap informasi tanpa mengetahui kebenaran pastinya. karena jika berita itu kita berikan kepada orang lain dan oleh orang lain tersebut disebarkan maka beritanya tentu akan semakin bias. Kalau sudah begitu siapa yang mau bertanggung jawab. Bukankah akan lebih baik lagi jika kita hanya berbicara berdasarkan fakta dan tanpa rekayasa atau istilahnya berita yang kita sampaikan berlandaskan kebenaran dan kejujuran tanpa merugikan pihak lain.

Ditulis dalam Renungan | Leave a Comment »

Pejuang Sejati

Ditulis oleh marsaja di/pada Agustus 17, 2009

Begitu pentingnya sejarah bagi kehidupan kita. Bahkan Bung Karno pernah mengungkapkan “Jas Merah” jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ya, dari sejarahlah kita sebenarnya bisa mengacu perjalanan hidup kita, hidup bangsa. Coba kita tengok pada saat masanya Kerajaan Majapahit. Awal-awal perjuangan mendirikan Majapahit, semua pejuang dengan gagah berani memperjuangkan berdirnya kerajaan Majapahit. Mereka bersatu pada membela kepentingan kerajaan. Namun ketika Raden Wijaya dinobatkan menjadi Raja pertama dan mulai menyusun pemerintahannya, disinilah mulai muncul riak-riak persoalan itu. Ya, karena jabatan dalam kekuasaan akhirnya pecah persoalan di Majapahit. Ranggalawe yang merasa berjasa besar dalam pejuangan Majapahit tidak terima jika hanya dijadikan adipati di Tuban. Ranggalawe akhirnya memberontak pada rajanya tetapi pada akhirnya pemberontakan itu dapat ditumpas. Padahal kita tahu bahwa Ranggalawe punya jasa besar dalam perjuangan untuk kerajaan Majapahit. Namun karena merasa memiliki jasa besar dan berhak menduduki jabatan akhirnya dia lupa pada tata krama politik, bahwa yang menentukan posisi jabatan tetap keputusan Raja.

Sekian ribu tahun peristiwa itu terjadi lagi, tepatnya ketika proklamasi kemerdekaan berhasil dikumandangkan di Negara Indonesia oleh para tokoh bangsa. Pasca peristiwa itu tentu dalam suatu negara pasti dibentuk alat kelengkapan negara. Baik presiden dan wakilnya, para menteri, TNI dan kelengkapan yang lainnya. Di sinilah peristiwa Majapahit kembali muncul. karena merasa tidak puas dengan pembagian jatah kekuasaan, akhirnya mereka yang merasa berjasa besar terhadap kemerdekaan berani memberontak pada negara yang mereka bela pada saat melawan bangsa penjajah.

Pasca reformasi peristiwanya juga hampir sama saja, mereka yang merasa berjasa pada saat reformasi berteriak lantang meminta jabatan di kekuasaan. Pasca pemilu juga hampir sama pasca pilpres mereka yang merasa berjuang di koalisi yang mendukung calon yang menang, berteriak secara lantang  meminta jabatan politik di pemerintahan, padahal presiden terpilih belum dilantik. Bukankah peristiwa yang terjadi sekarang ini sebenarnya peristiwa yang berulang-ulang dalam perjalanan sejarah bangsa.

Pertanyaannya, dimanakah para pejuang sejati negeri ini ada, dimanakah mereka? Sungguh jikalau masih ada merekalah yang patut dan pantas menjadi pemimpin kita, bukan para pencari jabatan apalgi pengemis jabatan. Lalu siapakah sebenarnya sosok pejuang sejati itu? Ini yang perlu menjadi renungan kita bersama. Apakah mereka yang ketika berjuang seolah-olah ikhlas namun setelah menang ternyata mengaku yang paling besar jasanya atau yang merasa paling pantas mendapatkan jabatan. Tentu bukan sosok seperti itu, Jika itu yang disebut sebagai pejuang sejati. Berarti negara ini masih dikuasai oleh segelintir orang yang merasa berjasa besar atau merasa pantas memangku jabatan.

Lalu pejuang sejati itu saeperti apa? Merekalah para pejuang yang sesungguhnya. Tidak hanya para pejuang kemerdekaan, akan tetapi pejuang-pejuang hidup yang menasbihkan amalnya demi kemanfaatan dan kemaslahatan umat, bangsa dan negara secara ikhlas dan rela tanpa merasa mengaku dirinyalah yang paling berjasa. Pejuang jenis inilah yang sebenarnya hanya mendamar bhaktikan hidupnya untuk menjalani perintah Tuhan Semesta Alam, Karena dialah Yang Maha Menguasai yaitu Allah SWT.

Ditulis dalam Aktual | Leave a Comment »

Nasionalisme = Ilmu Sepeda

Ditulis oleh marsaja di/pada Agustus 17, 2009

Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, ada 3 tahapan penting yang terjadi di negeri ini kaitannya dengan konsep nasionalisme. Tiga tahapan tersebut adalah pergerakan-pergerakan nasional yang terjadi di negara ini. Pertama, berdirinya organisasi kebangsaan yang pertama yaitu “Budi Utomo” tahun 1928. Budi Utomo dianggap sebagai organisasi yang pertama berorientasi kebangsaan atau yang lebih dikenal sebagai kebangkitan nasional. Kedua, adanya ikrar bersama oleh beberapa perwakilan pemuda di seluruh Indonesia dalam bentuk konggres pemuda yaitu yang terkenal dengan sebutan “Sumpah Pemuda” tahun 1928. Ketiga, adanya perjuangan rakyat baik secara fisik maupun nonfisik, yaitu pada tahun 1945. dan pada tahun inilah terjadi puncak perjuangan bangsa, yang mana bangsa Indonesia berhasil mencapai kemerdekaan dengan dikumandangkannya “Proklamasi Kemerdekaan”. Ketiga tahapan pergerakan nasional inilah kita dapat melihat secara lebih mendalam, bahwa Nasionalisme memang berperan penting dalam mempersatukan potensi bangsa ini. Yang mana dari nasionalisme tersebut rakyat Indonesia mampu mencapai kemerdekaan yang telah lama diidam-idamkan rakyat. Ya, memang kita patut bersyukur atas keberhasilan bangsa dalam meraih kemerdekaan. Karena kemerdekaan memang bukan pemberian bangsa penjajah akan tetapi karena usaha perjuangan rakyat Indonesia dan atas berkat rahmat Allah SWT. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aktual | Leave a Comment »

Pancasila-Ku…. Dimana Engkau?

Ditulis oleh marsaja di/pada Agustus 13, 2009

Rangkaian kejadian yang menghentakan kita akhir-akhir ini, baik seputar pemilu, kerusuhan, perkelahian antar pelajar/mahasiswa atau masyarakat, pembunuhan secara sadis/mutilasi, dan yang paling menghebohkan  yaitu aksi terorisme di Indonesia, ditemukannya berbagai bom yang siap ledak, dan masih banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi dinegeri ini. Oh sungguh memprihatinkan semua itu,  Apakah orang-orang yang bertindak seperti itu sadar apa yang mereka lakukan! Apakah mereka sadar dampaknya bagi umat manusia, apakah mereka tahu implikasinya bagi negara ini, apakah mereka sadar bahwa mereka telah melupakan Pancasila. Ya, karena Pancasila-lah negara ini yang nota bene multi etnis, bahasa, ras, agama, budaya, adat, dan yang lainnya, akhirnya dapat bersatu padu membangun negri tercinta ini. Pertanyaannya adalah Apakah mereka sudah lupa terhadap Pancasila? Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Aktual | Leave a Comment »